SRAGEN [DESA MERDEKA] — Kehadiran Samsat Budiman (Samsat Badan Usaha Digital Mandiri) yang menggandeng BUMDesa di tengah ajang Government Auto Show 2026 adalah sebuah terobosan taktis. Ini adalah upaya modernisasi birokrasi: bagaimana instrumen pajak provinsi/kabupaten didesentralisasikan ke level perdesaan untuk mengejar target Opsen Pajak.
Bertajuk Government Auto Show (GAS) Sragen 2026, pameran ini dipadukan dengan Pameran Perumahan, Tanaman Hias, hingga Festival Kuliner. Berlangsung selama tiga hari hingga Sabtu (30/5/2026), ajang ini sukses menciptakan ekosistem ekonomi buatan yang mempertemukan industri padat modal dengan pelaku usaha mikro.
Namun, di balik gemerlap mobil baru dan aroma festival kuliner, ada satu sudut yang menjadi magnet strategis pertarungan fiskal daerah: Stand Samsat Budiman.
Membaca Arah GAS 2026: Strategi Agresif Mengamankan Pajak Daerah
Di sudut utama Gedung SMS, stand Samsat Budiman (Samsat Badan Usaha Digital Mandiri) berdiri bukan sekadar sebagai pelengkap. Layanan ini merupakan inovasi jemput bola yang memungkinkan masyarakat membayar Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) tahunan langsung melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa).
Kepala UPPD Sragen, Senen, S.T., M.Si., menegaskan bahwa esensi dari GAS Sragen 2026 jauh melampaui urusan transaksi otomotif atau pemuas dahaga para hobiis semata. Ada cetak biru pendapatan daerah yang sedang diuji coba secara masif.
“Ini adalah sarana promosi bagi Samsat Budiman di wilayah Sragen untuk meningkatkan pelayanan di desa masing-masing. Namun dampak jangka panjang yang kita kejar adalah peningkatan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), serta instrumen baru yaitu Opsen PKB dan Opsen BBNKB,” papar Senen dalam laporan resminya.
Sejak diberlakukannya kebijakan Opsen Pajak—yakni tambahan pajak yang dipungut oleh pemerintah kabupaten atas pajak provinsi—daerah dipaksa memutar otak. Kerja sama antara UPPD dengan BUMDesa melalui Samsat Budiman adalah langkah politik-ekonomi yang genius. Ini tidak hanya mengamankan pendapatan daerah agar tidak bocor ke wilayah lain, tetapi juga memperkuat penetrasi edukasi pajak langsung ke akar rumput.
Memotong Jarak, Menembus Batas Waktu Malam Hari
Selama ini, keengganan masyarakat pedesaan membayar pajak tepat waktu sering kali dipicu oleh dua faktor klasik: jarak geografis ke Samsat Induk dan benturan jam kerja. Samsat Budiman hadir membedah sumbatan tersebut dengan dua keunggulan utama:
Pangkas Jarak Geografis: Wajib pajak tidak perlu lagi meluangkan waktu satu hari penuh dan ongkos transportasi untuk menuju pusat kota. Layanan cukup diselesaikan di kantor BUMDesa setempat.
Fleksibilitas Waktu (Pelayanan Malam): Berbeda dengan kantor Samsat konvensional yang tutup di sore hari, Samsat Budiman melalui BUMDesa memiliki fleksibilitas operasional hingga malam hari. Ini memberikan ruang bagi petani, buruh, dan pedagang untuk menunaikan kewajibannya setelah jam kerja selesai.

Jurnalis
NIM : JT 2207-0007


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.