Agam, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Harapan baru tumbuh di hamparan Nagari Koto Kaciak, Kabupaten Agam. Di tengah ancaman kekeringan yang diprediksi melanda Agustus mendatang, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama Kementerian Pertanian mempercepat pemulihan 7.000 hektare sawah yang sempat lumat akibat bencana hidrometeorologi. Melalui Gerakan Tanam Serempak nasional, lahan yang baru saja pulih dipaksa kembali produktif agar tidak “tidur” dan berubah menjadi semak belukar.
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, turun langsung ke sawah pada Kamis (30/4/2026) untuk memastikan percepatan tanam berjalan sesuai jadwal. Saat ini, progres rehabilitasi lahan terdampak bencana di Sumbar sudah menyentuh angka 62 persen, dengan hampir separuhnya telah mulai ditanami padi kembali.
Strategi Mandiri Kelompok Tani
Salah satu poin paling krusial dalam pemulihan lahan di Agam adalah penggunaan pola padat karya. Bupati Agam, Benni Warlis, mengungkapkan sebuah terobosan administratif yang memotong birokrasi: bantuan dana langsung ditransfer ke rekening kelompok tani tanpa perantara. Skema ini memungkinkan petani mengelola sendiri proses perbaikan sawah hingga penyewaan alat berat.
“Dana bantuan langsung masuk ke rekening kelompok tani. Perputaran ekonomi langsung dirasakan masyarakat desa,” ujar Benni. Meski demikian, tantangan di lapangan tetap berat. Ancaman sedimentasi dari perbukitan saat hujan deras masih membayangi sawah-sawah yang baru diperbaiki, sehingga kebutuhan akan alat berat tambahan menjadi prioritas mendesak bagi Pemerintah Kabupaten Agam.
Lawan Kekeringan dengan Optimalisasi Lahan
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar seremoni. Total 50.000 hektare lahan secara nasional—termasuk lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) dan Optimasi Lahan (Oplah)—harus segera ditanami. Kecepatan waktu adalah kunci untuk menghindari kegagalan panen akibat cuaca ekstrem di bulan-bulan mendatang.
Upaya sistematis ini diharapkan tidak hanya mengamankan stok beras nasional, tetapi juga memulihkan mentalitas dan ekonomi petani yang sempat terpukul bencana. Dengan lahan yang kembali produktif, Sumbar optimistis mampu menjaga target swasembada pangan sekaligus membentengi desa dari risiko krisis pangan di masa depan.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.