Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

SOSBUD · 10 Feb 2026 11:09 WIB ·

Menyeimbangkan Jiwa Lewat Denting Karawitan di Benteng Ambarawa


					Menyeimbangkan Jiwa Lewat Denting Karawitan di Benteng Ambarawa Perbesar

Ambarawa, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Seni tradisi di Fort Willem (Benteng Pendem) Ambarawa tidak lagi sekadar tontonan, melainkan sebuah “laku” keseimbangan hidup. Melalui Kursus Karawitan Nayanika, benteng bersejarah ini bertransformasi menjadi pusat energi kreatif yang menyatukan lintas generasi, mulai dari anak usia 8 tahun hingga dewasa berumur 60 tahun.

Pusat kegiatan ini berlokasi di sebuah sudut benteng yang diberi nama Grha Mandala Cipta. Di bawah koordinasi Awig Sujadmiko, tempat ini bukan sekadar ruang latihan, melainkan sebuah laboratorium peradaban di mana tubuh dilatih, rasa diasuh, dan cipta dimuliakan.

Lebih dari Sekadar Kursus Musik
Nama “Grha Mandala Cipta” sendiri memiliki kedalaman filosofi Sanskerta yang menjadi ruh dari kursus ini:

  • Grha: Rumah sekaligus pernaungan bagi jiwa.
  • Mandala: Lingkaran kosmis yang melambangkan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.
  • Cipta: Daya kreasi batin yang menjadi sumber lahirnya peradaban.

Filosofi ini diwujudkan dalam pengajaran yang profesional. Nayanika menghadirkan pengajar berkompeten lulusan S1 Pendidikan Bahasa Jawa UNY serta alumni SMKI jurusan Karawitan Surakarta. Hal ini menjamin teknik menabuh gamelan Kyai Gita Parama yang diajarkan, masih berpijak pada pakem tradisi namun tetap relevan bagi generasi muda.

Jadwal dan Antusiasme Lintas Generasi
Meski rata-rata didominasi oleh pelajar tingkat SMP dan SMA, Kursus Karawitan Nayanika menjadi bukti bahwa musik tradisi bersifat inklusif. Kehadiran peserta lanjut usia hingga 60 tahun menunjukkan bahwa hasrat untuk belajar menjadi “manusia seimbang” tidak mengenal batasan usia.

Latihan rutin digelar setiap Senin dan Rabu yang terbagi dalam dua sesi intensif, dimana setiap kelas terisi oleh 25 murid :

  • Sesi I: Pukul 16.00 – 18.00 WIB
  • Sesi II: Pukul 18.30 – 20.30 WIB

Di Grha Mandala Cipta, seni tidak hanya dipentaskan untuk apresiasi orang lain, tetapi dihidupi sebagai bagian dari napas sehari-hari para pesertanya. Tempat ini menjadi pengingat bahwa di balik megahnya dinding Benteng Ambarawa, denyut budaya Jawa masih terus berdetak melalui tangan-tangan kreatif lintas zaman.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 24 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pawai 74 Nagari: Saat Budaya Jadi Napas Pembangunan

20 April 2026 - 21:17 WIB

Kebangkitan BKMT Sungai Limau: Dari Masjid Membangun Ekonomi Desa

19 April 2026 - 15:05 WIB

Satu Dekade Bobok Bumbung: Martabat Desa Lewat Bambu

19 April 2026 - 14:18 WIB

Siltap Langsung dari Pusat: PPDI Karangrejo Perkuat Barisan

18 April 2026 - 21:03 WIB

Silat Sumbar: Dari Nagari Menuju Panggung Olimpiade Dunia

13 April 2026 - 13:35 WIB

Sinergi Pers dan Aparat: Jaga Keamanan Parungpanjang Lewat Informasi

12 April 2026 - 21:12 WIB

Trending di SOSBUD