Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur [DESA MERDEKA] – Dalam dunia pertanian dan peternakan, istilah KOHE atau Kotoran Hewan bukanlah hal asing. Kohe merujuk pada limbah padat maupun cair yang dihasilkan oleh ternak, yang jika diolah dengan benar, merupakan sumber nutrisi organik terbaik bagi tanah. Di Penajam Paser Utara (PPU), Program Pengembangan Desa Korporasi Ternak (PDKT) Kalimantan Timur, telah menjadi mercusuar harapan bagi kemandirian pangan lokal. Kohe kambing kini bukan lagi sekadar sisa pembuangan, melainkan potensi ekonomi.
Latar Belakang: Mengapa Kohe Kambing?
Kambing dikenal sebagai “pabrik pupuk berjalan”. Kotorannya memiliki tekstur bulat kecil yang memudahkan aerasi tanah, sementara urinnya mengandung unsur Nitrogen yang sangat tinggi. Namun, seiring dengan bertambahnya populasi ternak, sebuah tantangan klasik muncul ke permukaan: tumpukan kotoran hewan (KOHE) dan urin kambing yang belum terkelola maksimal dapat memicu bau menyengat, polusi udara, hingga risiko penyakit bagi ternak itu sendiri.
Bekal pelatihan yang sudah didapat
Pemerintah dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Timur bersama Dinas Pertanian PPU telah memberikan atensi besar. Para peternak binaan PDKT di PPU tercatat sudah mendapatkan serangkaian pelatihan teknis pengolahan kohe. Mereka telah dapat mencampur formula, melakukan fermentasi anaerob, hingga teknik pengemasan yang rapi.
Pasaran Kohe di Pasar Lokal
Meski diproduksi secara swadaya di lingkup desa, permintaan terhadap pupuk KOHE hasil olahan kelompok ini terus mengalir. Pembelinya kebanyakan dari petani holtikultura di wilayah sekitar. Hal ini membuktikan bahwa secara fisik, produk tersebut memiliki kualitas yang diakui oleh pengguna. Penjualan ini memberikan tambahan pendapatan langsung bagi kas, sekaligus membuktikan bahwa ekonomi sirkular—di mana limbah ternak kembali menjadi modal—bisa berjalan di tingkat peternak kecil.

Tantangan yang dihadapi
Meski sudah diperjualbelikan, anggota koperasi mengakui adanya satu kekurangan: produk mereka belum diuji laboratorium. Tanpa hasil uji lab, kandungan nutrisi seperti Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) di dalam pupuk tersebut belum terukur secara akurat.
“Masih terdapat kendala, karena kami belum bisa menjelaskan ke konsumen unsur apa yang ada pada pupuk tersebut” ungkap Pak Hariansyah, Ketua Koperasi Produsen Karya Rintik Bersatu.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.