Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

LINGKUNGAN · 8 Feb 2026 15:10 WIB ·

Dari Bau Jadi Cuan: Koperasi Ternak PDKT Sulap Kotoran Ternak Jadi Rupiah


					Dari Bau Jadi Cuan: Koperasi Ternak PDKT Sulap Kotoran Ternak Jadi Rupiah Perbesar

Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur [DESA MERDEKA] Dalam dunia pertanian dan peternakan, istilah KOHE atau Kotoran Hewan bukanlah hal asing. Kohe merujuk pada limbah padat maupun cair yang dihasilkan oleh ternak, yang jika diolah dengan benar, merupakan sumber nutrisi organik terbaik bagi tanah. Di Penajam Paser Utara (PPU), Program Pengembangan Desa Korporasi Ternak (PDKT) Kalimantan Timur, telah menjadi mercusuar harapan bagi kemandirian pangan lokal. Kohe kambing kini bukan lagi sekadar sisa pembuangan, melainkan potensi ekonomi.

Latar Belakang: Mengapa Kohe Kambing?

Kambing dikenal sebagai “pabrik pupuk berjalan”. Kotorannya memiliki tekstur bulat kecil yang memudahkan aerasi tanah, sementara urinnya mengandung unsur Nitrogen yang sangat tinggi. Namun, seiring dengan bertambahnya populasi ternak, sebuah tantangan klasik muncul ke permukaan: tumpukan kotoran hewan (KOHE) dan urin kambing yang belum terkelola maksimal dapat memicu bau menyengat, polusi udara, hingga risiko penyakit bagi ternak itu sendiri.

Bekal pelatihan yang sudah didapat

Pemerintah dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Timur bersama Dinas Pertanian PPU telah memberikan atensi besar. Para peternak binaan PDKT di PPU tercatat sudah mendapatkan serangkaian pelatihan teknis pengolahan kohe. Mereka telah dapat mencampur formula, melakukan fermentasi anaerob, hingga teknik pengemasan yang rapi.

Pasaran Kohe di Pasar Lokal

Meski diproduksi secara swadaya di lingkup desa, permintaan terhadap pupuk KOHE hasil olahan kelompok ini terus mengalir. Pembelinya kebanyakan dari petani holtikultura di wilayah sekitar. Hal ini membuktikan bahwa secara fisik, produk tersebut memiliki kualitas yang diakui oleh pengguna. Penjualan ini memberikan tambahan pendapatan langsung bagi kas, sekaligus membuktikan bahwa ekonomi sirkular—di mana limbah ternak kembali menjadi modal—bisa berjalan di tingkat peternak kecil.

Produk Kohe Koperasi Produsen Karya Rintik Bersatu

Tantangan yang dihadapi

Meski sudah diperjualbelikan, anggota koperasi mengakui adanya satu kekurangan: produk mereka belum diuji laboratorium. Tanpa hasil uji lab, kandungan nutrisi seperti Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) di dalam pupuk tersebut belum terukur secara akurat.

“Masih terdapat kendala, karena kami belum bisa menjelaskan ke konsumen unsur apa yang ada pada pupuk tersebut” ungkap Pak Hariansyah, Ketua Koperasi Produsen Karya Rintik Bersatu.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 50 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menguji ‘Nawaitu’ Warga Gununggempol Jadi Kiblat Sampah Nasional

18 Mei 2026 - 15:43 WIB

Benteng Akar Bambu: Cara Warga Naiola Menjinakkan Erosi Sungai

18 Mei 2026 - 14:59 WIB

Menagih Janji Bupati Saat Desa Sukses Mandiri Sampah

8 Mei 2026 - 04:40 WIB

Jumat Bersih Bantarjaya: Melawan Ego Pembuang Sampah “Sambil Lewat”

17 April 2026 - 10:29 WIB

Benteng Hijau Ketapang: Sinergi Relawan Jaga Pesisir Pangkalpinang

4 April 2026 - 18:57 WIB

Papan Larangan Sampah di Desa Sekip Cuma Pajangan

24 Maret 2026 - 15:16 WIB

Trending di LINGKUNGAN