Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Menjadi petugas haji bukan lagi tiket untuk sekadar beribadah gratis dengan fasilitas nyaman. Tahun ini, para petugas haji asal Sumatera Barat harus melewati gemblengan fisik dan mental ala militer guna memastikan pelayanan kepada jamaah mencapai standar tertinggi.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan bahwa kualitas penyelenggaraan haji 1447 H/2026 M bergantung sepenuhnya pada integritas petugas di lapangan. Hal ini disampaikannya saat membuka Pendidikan dan Pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Aula Asrama Haji Embarkasi Tabing, Padang, Kamis (5/2/2026).
Bukan Sekadar Administrasi, Tapi Pengabdian Total
Mahyeldi menyoroti bahwa jamaah haji adalah tamu Allah yang memerlukan empati, bukan sekadar urusan dokumen. Petugas dituntut hadir secara utuh sebagai pendamping ibadah, penjaga kesehatan, hingga penenang batin jamaah.
“Tugas ini adalah pengabdian sekaligus ibadah. Jangan jadikan ini rutinitas, apalagi untuk kepentingan pribadi. Niatkan sejak awal untuk membawa nama baik daerah melalui pelayanan sepenuh hati,” tegas Mahyeldi di depan para peserta.
Disiplin Baja: Kolaborasi dengan TNI
Ada yang berbeda dalam pola pelatihan tahun ini. Pelaksana Tugas Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sumbar, Rifki, menjelaskan bahwa 74 peserta diklat—mulai dari Ketua Kloter hingga Tenaga Kesehatan—akan mengikuti pendekatan semi militer dengan dukungan personel TNI.
Langkah out of the box ini diambil untuk membentuk:
- Kedisiplinan Tinggi: Memastikan petugas sigap dalam segala kondisi cuaca dan kepadatan di tanah suci.
- Kekompakan Tim: Menghilangkan ego sektoral antar petugas kesehatan dan pembimbing ibadah.
- Kesiapan Fisik: Mengingat beban kerja petugas haji yang sangat berat selama fase puncak haji.
Direktur Jenderal Ekosistem Ekonomi Haji, Harun Al Rasyid, turut mengingatkan bahwa standar pelayanan tahun ini dinaikkan. “Petugas haji bukan untuk santai. Standar mesti tinggi agar petugas benar-benar hadir melayani jamaah, bukan malah dilayani,” ujarnya ketat.
Dengan keterlibatan unsur militer dalam pelatihan, Embarkasi Sumbar optimistis mampu melahirkan petugas yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki ketangguhan moral untuk menjaga martabat jamaah asal “Ranah Minang” di mata dunia.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.