Bantaeng, Sulawesi Selatan [DESA MERDEKA] – Selama ini zakat seringkali dipandang sebatas kewajiban ibadah tahunan atau santunan tunai. Namun, di Desa Pattaneteang, Kecamatan Tompobulu, paradigma tersebut sedang dirombak total. Desa ini resmi ditunjuk menjadi perintis Kampung Zakat, sebuah program strategis nasional yang menyulap dana umat menjadi mesin penggerak ekonomi pascapandemi.
Langkah berani ini diambil oleh Kementerian Agama (Kemenag) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Bantaeng sebagai inisiatif percepatan pemulihan ekonomi masyarakat non-BLT. Pattaneteang dipilih bukan tanpa alasan; posisinya yang berada di pelosok menjadikannya laboratorium ideal untuk membuktikan bahwa sinergi dana zakat mampu mengentaskan kemiskinan di wilayah terpencil.

Zakat sebagai “Bahan Bakar” Usaha Mikro Program Kampung Zakat ini hadir sebagai solusi bagi usaha masyarakat yang sempat mati suri. Melalui skema bantuan dan permodalan yang terukur, berbagai potensi lokal yang selama ini terhambat biaya kini mulai dibangkitkan kembali. Target utamanya adalah menghidupkan kembali denyut ekonomi rakyat melalui: Usaha Kreatif: Pengolahan kopi bubuk asli masyarakat lokal. Sektor Jasa: Perbengkelan dan usaha menjahit. Ketahanan Pangan: Peternakan unggas secara mandiri. Kuliner Tradisional: Produksi kue-kue khas desa.
“Program ini bertujuan mengungkit ekonomi umat melalui sinergi Ditjen Bina Islam Kemenag dan Baznas,” jelas Ketua Baznas Bantaeng, Ustadz Abdul Karim Bagada, di Dusun Katabung, Rabu (21/1/2026).
Edukasi dan Eksekusi Jangka Panjang Berbeda dengan bantuan sosial sekali putus, Kampung Zakat mengedepankan pembinaan dan edukasi. Siti Husnaeni dari Kemenag Bantaeng menegaskan bahwa Kemenag berperan sebagai inisiator dan koordinator, sementara Baznas menjadi eksekutor utama di lapangan. “Kami ingin mengubah pola pikir masyarakat. Zakat bukan sekadar menerima, tapi bagaimana mengelolanya menjadi modal usaha sehingga tujuan pemberdayaan masyarakat benar-benar terwujud,” tuturnya. Meski program ini masih dalam tahap pengkajian teknis karena merupakan yang pertama di Bantaeng, optimisme tinggi terpancar dari keterlibatan warga sejak tahap penggalian data dusun. Dengan manajemen yang profesional, Kampung Zakat diharapkan mampu mengubah wajah ekonomi Desa Pattaneteang dari desa tertinggal menjadi desa mandiri yang sejahtera.

Hasan Habibu Lahir di Bantaeng Sulawesi Selatan 1 Januari 1975.
Pendidikan S1 STAI Al-furqan Makasar / Jurusan Pendidikan Agama Islam. lulus tahun 2016
Selain sebagai Pendamping Lokal Desa beberapa Organisasipun terlibat di dalamnya, DA’I KAMTIBMAS POLRES BANTAENG bidang KOMUNIKASI ANTAR LEMBAGA, FORUM DA’I POLSEK TOMPOBULU SBG PENASEHAT, IKATAN PELAJAR MUHAMNADIYAH SBG ANGGOTA.
Beberapa penghargaan di raih seperti juara terbaik dua Tingkat Kabupaten Bantaeng Sebagai Tim Pengelolah Kegiatan / TPK 2011. Penghargaan Kapolres sebagai Relawan Covid-19 tahun 2020.
Penghargaan MPR RI dalam sosialisasi Pancasila dan UUD 45 Negara kesatuan RI dan bhinneka tunggal Ika tahun 2011. Dll
















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.