Alor, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] – Desa Bampalola di Kabupaten Alor kembali mempertegas identitasnya sebagai penjaga tradisi melalui gelaran Festival Budaya dan Pangan Lokal. Acara yang berlangsung pada Minggu (14/12/2025) ini menjadi panggung utama bagi masyarakat setempat untuk mempromosikan nilai-nilai adat serta kekayaan pangan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Pendamping Desa Pemajuan Kebudayaan Bampalola dengan dukungan penuh dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK), festival ini dirancang untuk memastikan bahwa kekayaan intelektual dan kearifan lokal desa tidak tergerus oleh zaman.
Panggung Ekspresi Budaya dan Generasi Muda
Salah satu daya tarik utama dalam festival ini adalah penampilan beragam tarian tradisional yang dibawakan dengan penuh semangat oleh siswa-siswi MTS Bampalola. Keterlibatan generasi muda ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan regenerasi budaya di Alor.
Berbagai ekspresi seni dipertunjukkan, mulai dari tarian penyambutan yang sakral, tarian Cakalere, hingga tarian perang yang menunjukkan ketangguhan masyarakat lokal. Puncak pertunjukan ditandai dengan tarian Lego-lego, sebuah tarian melingkar yang melambangkan persatuan dan persaudaraan erat warga Bampalola.
Aja Adi Putra Eki Asri, Pendamping Desa Pemajuan Kebudayaan Bampalola, menjelaskan bahwa festival ini bukan sekadar seremonial. “Tujuan utama kami adalah memperkuat peran panggung lokal desa. Kami ingin memperkenalkan kekayaan budaya Bampalola agar semakin dikenal luas, baik oleh wisatawan maupun masyarakat luas di luar Alor,” ungkapnya kepada media.

Pangan Lokal sebagai Identitas dan Ketahanan
Selain aspek kesenian, festival ini memberikan porsi besar pada promosi pangan lokal. Berbagai hasil bumi unggulan Desa Bampalola seperti jagung, ubi, nanas, hingga pisang dipamerkan sebagai bagian dari identitas masyarakat.
Bagi warga Bampalola, komoditas ini bukan sekadar komoditas pangan, melainkan penopang kehidupan sehari-hari yang mengandung nilai kearifan lokal dalam cara menanam dan mengolahnya. Pameran pangan ini bertujuan mengingatkan masyarakat akan pentingnya kedaulatan pangan berbasis potensi daerah sendiri.
Dukungan melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) diharapkan memberikan dampak jangka panjang bagi pemberdayaan masyarakat desa. Dengan mengintegrasikan budaya dan ekonomi melalui pangan, Desa Bampalola optimis dapat mendorong pelestarian tradisi sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga melalui sektor pariwisata budaya yang berkelanjutan.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.