Kelangkaan Pupuk Urea Bersubsidi Terus Berulang
Pandeglang, Banten [DESA MERDEKA] – Petani di Desa Cipinang, Kecamatan Angsana, Kabupaten Pandeglang, Banten, menghadapi kesulitan serius menjelang musim tanam pertama. Kelangkaan pupuk urea bersubsidi kembali terjadi, membuat ratusan petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) terancam mengalami penurunan produktivitas panen yang drastis.
Sejumlah perwakilan petani mengaku berulang kali mendatangi kios resmi penyalur pupuk bersubsidi, namun selalu pulang dengan tangan hampa. Padahal, lahan sawah mereka telah siap untuk ditanami padi dan sangat membutuhkan nutrisi dari pupuk urea. Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di kalangan petani, sebab kebutuhan pupuk merupakan faktor penentu utama keberhasilan panen.
Kuota Pupuk Habis, Petani Kecewa RDKK Diabaikan
Koordinator Penyuluhan Dinas Pertanian Kecamatan Angsana, Nana, saat dikonfirmasi, menyebutkan bahwa kuota pupuk subsidi untuk Desa Cipinang sudah habis. Jawaban ini sontak menimbulkan kekecewaan di kalangan petani. Mereka menilai, seharusnya alokasi pupuk di lapangan harus mengikuti data yang tercatat jelas dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), yang merupakan perencanaan kebutuhan pupuk berbasis kelompok tani.
Para petani merasa kejanggalan ini mencerminkan adanya masalah serius, baik dalam perencanaan alokasi di tingkat daerah maupun proses distribusi pupuk subsidi yang tidak tepat sasaran. Mereka menduga ada ketidaksesuaian antara data kebutuhan riil di tingkat desa dengan realisasi pasokan yang disalurkan.
Situasi di Desa Cipinang kian terasa ironis mengingat Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian sebelumnya telah mengumumkan adanya penambahan kuota pupuk bersubsidi nasional untuk menyambut musim tanam. Meski kuota nasional diklaim meningkat, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya: petani di sejumlah desa, termasuk Cipinang, tetap kesulitan mendapatkan hak mereka.
Ancaman Penurunan Produktivitas dan Beban Biaya
Jika kelangkaan pupuk subsidi ini terus berlanjut, petani desa khawatir produktivitas padi akan turun drastis, mengancam ketahanan pangan lokal. Sebagian petani bahkan sudah mulai mempertimbangkan opsi pahit untuk membeli pupuk nonsubsidi.
Pembelian pupuk nonsubsidi bukan hanya mahal, tetapi juga membebani biaya tanam yang secara signifikan akan mengurangi keuntungan petani. Pupuk subsidi sejatinya adalah program vital pemerintah untuk menjaga stabilitas biaya produksi pertanian, khususnya bagi petani di pedesaan yang menjadi penopang utama produksi beras.
Petani di Desa Cipinang mendesak Pemerintah Daerah Pandeglang dan instansi terkait untuk segera turun tangan melakukan audit dan perbaikan total pada sistem perencanaan serta distribusi pupuk. Mereka berharap pupuk bersubsidi benar-benar sampai ke tangan petani yang berhak sesuai RDKK, sehingga musim tanam yang sedang berjalan tidak terganggu dan ketersediaan pangan tetap terjaga. Keluhan ini menjadi sinyal kuat bahwa desa-desa produsen pangan memerlukan perhatian segera terhadap input pertanian dasar.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.