Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Di tengah gempuran produk impor, seorang pelaku industri kreatif di Kabupaten Semarang, Kokos Trisada, membuktikan bahwa limbah dan bahan alam bisa menjadi komoditas bernilai tinggi. Lewat merek usahanya, Tangankoe, Kokos berhasil menciptakan berbagai kerajinan tangan yang diminati pasar internasional, dari sandal etnik hingga aksesori unik berbahan batok kelapa dan eceng gondok.
Didirikan pada 16 September 2023 di Ungaran Timur, Tangankoe berfokus pada produk fashion craft dengan memanfaatkan limbah seperti ban bekas dan celana jins bekas, serta bahan alam melimpah di sekitar Kabupaten Semarang, yaitu eceng gondok. Konsep yang diusung pun unik, yaitu EDAN, akronim dari Etnik, Different, Autentik, dan Natural.
“Produk kami etnik karena berbeda dari yang lain, otentik karena semua prosesnya dikerjakan sendiri, dan natural karena menggunakan bahan alam lokal,” ujar Kokos. Ia menekankan bahwa kunci sukses dalam industri kreatif adalah menghasilkan produk yang berbeda dan memiliki nilai otentik.
Salah satu produk andalannya adalah sandal etnik yang kini 80-90% penjualannya diekspor ke luar negeri. Selain itu, dalam dua bulan terakhir, Kokos juga mengembangkan produk dari batok kelapa bekas yang ia temukan di Pasar Bandarjo. Hanya dengan modal Rp30.000 untuk satu karung berisi 130 batok, ia mampu menyulap limbah tersebut menjadi kalung, gantungan kunci, dan dekorasi meja yang telah terjual ke tujuh negara, termasuk Amerika, Australia, dan Korea. Harga jualnya pun fantastis, berkisar antara 5 hingga 40 dolar AS per buah.
Kokos menjelaskan, produknya sangat diminati wisatawan mancanegara, terutama karena ukurannya yang ringkas dan ringan, cocok untuk oleh-oleh. Hal ini sejalan dengan tren pembatasan bagasi penerbangan internasional. Ia juga menambahkan sentuhan kearifan lokal dengan mengombinasikan kerajinan batok kelapa dan eceng gondok. Sebagai gulma ikonik Rawa Pening, eceng gondok diberi perlakuan khusus agar awet dan menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap produk Tangankoe.
Lewat usahanya, Kokos yang telah berkecimpung selama 25 tahun di industri kreatif, mengajak generasi muda untuk lebih berani berkreasi. Ia bahkan menawarkan diri untuk berbagi ilmu dan bersinergi dengan para pemuda, mulai dari proses pembuatan hingga strategi penjualan, khususnya di pasar Bali.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.