Sragen, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Budidaya kambing kini tidak lagi identik dengan pekerjaan orang tua di pedesaan. Di tangan para pemuda kreatif, ternak kambing telah bertransformasi menjadi hobi yang menjanjikan, khususnya untuk kambing seni. Melalui kontes kambing yang rutin digelar, para peternak muda ini membuktikan bahwa hobi tersebut bisa menghasilkan keuntungan jutaan rupiah.
Seorang peternak muda bernama Metaw dari Jombang, Jawa Timur, membawa satu ekor anakan kambing Kaligesing berusia satu bulan kurang satu hari untuk diikutsertakan dalam Kontes Kambing Kaligesing Nasional yang diadakan di Sragen. Meskipun masih sangat muda, kambingnya sudah memiliki kriteria ideal untuk kambing seni, seperti bentuk kepala cembung, telinga panjang, dan postur yang proporsional. “Ini kan nilainya kambing seni. Kalau untuk memenuhi syarat di lapangan kan sudah pantas, Pak. Dari segi kepala, telinga, sama ekor,” ujar Metaw.

Anakan kambing milik Metaw ini merupakan anak keempat dari indukan yang ia silangkan dengan pejantan sendiri. Ia mengungkapkan, kakaknya pernah meraih juara satu di kontes Trenggalek dan laku terjual dengan harga fantastis, mencapai Rp30 juta saat berusia tiga bulan. Saat ini, Metaw mengelola 28 ekor kambingnya secara mandiri, dengan pola pakan rambanan murni dan konsentrat tambahan, seperti singkong.
“Jangan malu untuk beternak. Soalnya hasilnya kalau ditekuni dengan serius ya menghasilkan,” pesan Metaw untuk anak-anak muda lainnya. Dengan konsistensi merawat, ia mampu membagi waktu antara mencari pakan dan merawat kambingnya hingga memiliki kualitas seni.
Pesan serupa juga datang dari Ragil asal Klaten, yang sudah menekuni hobi kontes kambing sejak 2021. Ragil yang kini mengelola 15 ekor kambingnya sendiri menjelaskan, dalam budidaya kambing seni, yang terpenting adalah memilih pejantan unggul karena 90% genetik anak akan mengikuti pejantan.
Untuk kontes kali ini, Ragil membawa anakan berusia satu bulan lebih satu minggu yang sudah menunjukkan potensi menjadi jawara. Anakan ini dirawat secara khusus sejak dini dengan dipisah dari indukannya dan diberi susu kambing murni minimal dua liter per hari. Perawatan intensif ini mencakup pemberian susu empat kali sehari dan mandi minimal dua kali seminggu.
“Daripada kita kerja di pabrik, saya pribadi lebih baik ternak. Yang penting kita tahu metodenya, tahu teorinya. Insyaallah nanti kita bisa penghasilan tiap bulan akan lebih banyak,” kata Ragil. Pengalaman Ragil di berbagai kontes, seperti di Boyolali, Gunungkidul, dan Wonogiri, membuktikan bahwa kambing peliharaannya seringkali masuk dalam 10 besar.
Kisah kedua pemuda ini menunjukkan bahwa ternak kambing bukan sekadar pekerjaan tradisional, tetapi juga sebuah peluang bisnis yang menjanjikan. Dengan semangat, inovasi, dan manajemen yang baik, hobi ini dapat menjadi sumber penghasilan utama yang menguntungkan.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.