Malaka, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] – Sampah plastik yang biasanya menjadi beban tanah, kini berubah menjadi mesin uang di Desa Naimana. Di bawah kepemimpinan Maria Rosalinda Seran, mantan aktivis LSM yang kini menjabat Kepala Desa, warga mulai mengonversi limbah rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomis seperti sofa dan kursi cantik. Terobosan ini lahir dari visi besar untuk menyejahterakan masyarakat tanpa melulu bergantung pada kucuran dana pusat.
“Kita harus bercengkerama dengan alam. Sampah plastik sulit diurai tanah, jadi saya berpikir bagaimana mendaur ulangnya menjadi nilai ekonomi bagi ibu-ibu rumah tangga,” ujar Rosalinda saat memantau pelatihan daur ulang, Jumat (8/8/2025). Baginya, sampah ada dan sumber daya manusia tersedia, tinggal bagaimana mendorong kreativitas tersebut menjadi penghasilan tambahan keluarga.
Bukan Sekadar Pelatihan, Tapi Pemberdayaan Berkelanjutan
Program ini dirancang serius dan sistematis. Para ibu di Desa Naimana tidak hanya diajarkan memasukkan plastik ke dalam botol (ecobrick), tetapi juga akan dikirim untuk mengikuti kursus menjahit di Balai Efata Kupang pada 23 September mendatang. Tujuannya jelas: agar mereka memiliki keahlian profesional dalam memproduksi sofa yang layak jual di pasaran.
Selain sofa, pemerintah desa juga merencanakan pelatihan pembuatan paving block dari limbah plastik. Rosalinda berkomitmen terus mendampingi warga dan memastikan dukungan anggaran dari Dana Desa untuk memfasilitasi berbagai kegiatan pemberdayaan yang berdampak langsung pada dompet rumah tangga warga.
Pilot Project Pertama di Kabupaten Malaka
Langkah inovatif ini mendapat apresiasi tinggi dari Koordinator Tenaga Pendamping Profesional Kabupaten Malaka, Apsalom Baung. Ia menyebut gerakan di Desa Naimana sebagai yang pertama di Malaka dan harus menjadi pemicu bagi desa-desa lain, terutama yang berdekatan dengan wilayah perkotaan dengan produksi sampah tinggi.
“Ini bagian dari pemberdayaan; melatih keterampilan sekaligus menghasilkan uang. Kami akan mendorong desa-desa lain agar pada siklus musyawarah desa tahun 2026 nanti, kegiatan serupa dapat dibiayai oleh Dana Desa,” tegas Apsalom. Dukungan ini memperkuat posisi Desa Naimana sebagai pilot project penanganan sampah berbasis komunitas.
Kreativitas Sambil Menonton TV
Jenard Kale, pegiat daur ulang yang menjadi mitra desa, menyebutkan bahwa pekerjaan ini sangat sederhana namun berdampak besar. “Ini tidak butuh keahlian tinggi, hanya kemauan. Ibu-ibu bisa mengerjakannya di rumah sambil menonton TV,” jelasnya. Dengan kemudahan ini, diharapkan Naimana mampu menjadi desa mandiri yang menjadi rujukan bagi desa lain di NTT dalam hal pengelolaan limbah produktif.

Desa Membangun Negeri


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.