Pekalongan [DESA MERDEKA] – Sebuah masjid berarsitektur khas Jawa kini resmi berdiri sebagai ikon spiritual dan pendidikan Islam di Tirto. Peresmian masjid ini berlangsung pada Jumat Wage, 22 Sya’ban 1446 H atau bertepatan dengan 21 Februari 2025, dalam rangkaian acara Lembaga Pendidikan dan Sosial Pondok Pesantren Dalaailul Khairot. Masjid yang berlokasi di Perumahan Pepabri, Desa Tanjung, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan ini mengadopsi desain klasik yang menyerupai Masjid Demak dan Masjid Cirebon, menguatkan nuansa historis serta spiritualnya.
Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol kejayaan Islam tradisional di Nusantara. Desainnya yang mengadopsi gaya arsitektur Masjid Demak dan Cirebon mengandung filosofi mendalam: kesederhanaan, keteguhan iman, serta kekuatan dalam menjaga tradisi Islam yang telah diwariskan turun-temurun.

Masjid dengan Nilai Spiritual Tinggi
Menurut Prof. Dr. H. Moh. Sugeng Solehuddin, M.Ag., pengasuh Lembaga Pendidikan dan Sosial Pondok Pesantren Dalaailul Khairot, pemilihan desain masjid ini bukanlah tanpa alasan. Dengan arsitektur khas Jawa, masjid ini diharapkan memiliki kekuatan spiritual besar sekaligus menjadi pusat pendidikan Islam berbasis tasawuf.
“Masjid ini bukan sekadar bangunan fisik, tetapi juga representasi dari spiritualitas Islam yang kuat. Di sini, para santri dan masyarakat akan menemukan ketenangan batin serta bimbingan dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujar Prof. Sugeng.
Masjid ini diharapkan menjadi mercusuar spiritual dan pendidikan Islam, membawa keberkahan serta manfaat bagi umat. “Semoga masjid ini menjadi lentera bagi hati yang mencari cahaya ilahi dan menjadi saksi perjalanan kita dalam menghidupkan Islam di bumi Nusantara,” tutup Prof. Sugeng dengan haru.
Menjaga Tradisi dan Ilmu Islam di Pekalongan
Ketua pelaksana, M. Fahrudin Iryanto, menegaskan bahwa peresmian ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari ikhtiar spiritual dalam menjaga kesinambungan ilmu dan tradisi Islam di Pekalongan.
“Kami ingin masjid ini menjadi tempat yang hidup, di mana tradisi keislaman terus berkembang, santri menimba ilmu, dan masyarakat mendapatkan pencerahan rohani. Ini adalah amanah yang harus kita jaga bersama,” katanya dengan penuh semangat.
Dengan berdirinya lembaga ini dan hadirnya Masjid Agung Nyimas Rarasantang sebagai pusat kegiatan keagamaan, diharapkan masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pembelajaran dan pengembangan nilai-nilai Islam yang tetap berakar pada tradisi Nusantara.
Pengirim Berita : Slamet
Editor : Sahrul



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.