Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

LINGKUNGAN · 3 Feb 2025 11:48 WIB ·

NTB Gencarkan Gerakan Satu Desa Satu Demplot Agroforestri untuk Pulihkan Lahan Kritis


					NTB Gencarkan Gerakan Satu Desa Satu Demplot Agroforestri untuk Pulihkan Lahan Kritis Perbesar

Mataram [DESA MERDEKA] – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memulai Gerakan Satu Desa Satu Demplot Agroforestri di Kabupaten Sumbawa sebagai upaya memulihkan lahan dan hutan yang rusak akibat budi daya monokultur jagung. Gerakan ini diharapkan dapat menjadi solusi atas permasalahan lahan kritis dan bencana hidrometeorologi yang kerap melanda wilayah tersebut.

“Demplot agroforestri diharapkan mampu memicu masyarakat tidak hanya melakukan budi daya monokultur jagung, tetapi mulai mengolah lahan dengan pola agroforestri,” kata Kepala Dinas LHK NTB, Julmansyah, dalam pernyataan di Mataram, Minggu (2/6/2024).

Julmansyah, yang kini menjabat sebagai Direktur Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat di Kementerian Kehutanan (Kemenhut), menuturkan bahwa program ini merupakan janji yang harus dituntaskan sebelum ia pindah tugas ke Kemenhut. Program ini digagas oleh Dinas LHK NTB bersama Danrem 167 Wirabakti, Brigjen Agus Bakti, BPDAS Dodokan Moyosari, PLN Peduli, Pramuka, dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa.

“Ke depan, demplot ini dapat menjadi percontohan dan bahan edukasi nyata bagi masyarakat agar ada perubahan kerangka berpikir dan beralih dari pertanian monokultur ke kebun campuran atau wanatani,” ujar Julmansyah.

Ia menyatakan bahwa invasi monokultur jagung di kawasan hutan Pulau Sumbawa telah mengkhawatirkan. Bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, selalu terjadi setiap musim hujan. Selama Desember 2024 dan Januari 2025, tercatat 15 titik banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) atau sub-DAS di NTB.

Pola agroforestri untuk pemulihan lahan dan hutan kritis dapat menjawab dua persoalan sekaligus, yaitu peningkatan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan buah dari tanaman produktif dan pencegahan air limpasan sedimentasi serta potensi munculnya mata air baru.

Pada 2 Februari 2025, Program Satu Desa Satu Demplot Agroforestri dilaksanakan di Desa Teluk Santong dan Desa Sepayung di Kecamatan Plampang, serta Desa Marga Karya di Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa. Kegiatan ini direspons positif oleh 27 kepala desa yang berkomitmen untuk membuat demplot agroforestri.

Sebanyak 27 demplot desa tersebar di tiga Balai Kesatuan Pengelola Hutan (KPH), antara lain Balai KPH Ampang Plampang (15 desa), Balai KPH Batulanteh (8 desa), dan Balai KPH Brang Beh (4 desa).

“Masing-masing demplot seluas satu hektare, sehingga penanaman tahun ini sekitar 27 hektare demplot agroforestri,” kata Julmansyah.

Salah satu warga Dusun Ai Boro, Desa Teluk Santong, Sulaiman, yang lahannya menjadi demplot, mengakui bahwa monokultur jagung tidak menguntungkan bagi usaha pertanian. Ia berharap dalam satu atau dua tahun mendatang ada perubahan pendapatan melalui pola budi daya jagung berbasis agroforestri.

Total bibit yang tertanam pada 27 demplot kurang lebih 5.000 bibit, yang tersebar di KPH Ampang Plampang (2.700 bibit), Batulanteh (1.300 bibit), dan KPH Brang Beh (1.000 bibit). Sumber bibit berasal dari BPDAS Dodokan Moyosari dengan jenis alpukat, petai, klengkeng, nangka, mangga, hingga durian.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 68 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menagih Janji Dam di Rumah Warga Sungai Duo

6 Agustus 2026 - 15:27 WIB

Nestapa Karangsegar: Siklus Abadi Banjir dan Krisis Air

30 Juli 2026 - 15:16 WIB

Dari Sampah Menjadi Berkah di Akar Rumput Singosari

24 Juli 2026 - 07:32 WIB

Camat Singosari menerima penghargaan Kecamatan Inovatif pada Innovative Government Award (IGA) Kabupaten Malang 2026 melalui inovasi Sanggar Lingkungan Singosari.

Puting Beliung Terjang Talun Rejo, Warga Menanti Bantuan Pemerintah

5 Juli 2026 - 20:33 WIB

Bumi Butuh Healing: Warga Batu Busuak Belajar Rawat Tanah

25 Juni 2026 - 05:31 WIB

Darurat Sampah: Desa di Pati Wajib Miliki Perdes Kebersihan

18 Juni 2026 - 06:08 WIB

Trending di LINGKUNGAN