Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Ruang digital warga Sumatera Barat kini tengah disusupi “hantu” birokrasi fiktif. Sebuah akun Facebook bodong yang mencatut nama dan foto profil Gubernur Mahyeldi Ansharullah beredar luas, menyebarkan umpan berupa janji kemudahan pengajuan proposal bantuan. Masyarakat diingatkan untuk tidak terjebak, karena skema pengajuan bantuan resmi pemerintah tidak pernah dilakukan melalui percakapan media sosial.
Modus operandi yang dilakukan pelaku cukup licin. Akun tersebut menggunakan foto profil Gubernur bersama sang istri, Harneli Mahyeldi, demi membangun kepercayaan calon korban. Target yang merespons pesan kemudian diarahkan untuk beralih ke aplikasi WhatsApp menggunakan nomor telepon yang diklaim milik pejabat terkait, padahal nomor tersebut sepenuhnya palsu.
Birokrasi Resmi Bukan Lewat Inbox Facebook
Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setdaprov Sumbar, Mursalim, menegaskan bahwa Gubernur Mahyeldi tidak pernah memberikan akses jalur belakang bagi pengajuan proposal melalui media sosial pribadi. Segala bentuk permohonan bantuan dari masyarakat wajib melalui prosedur administrasi dan birokrasi resmi di lingkungan Pemprov Sumbar yang telah terstandarisasi.
“Kami menerima banyak laporan mengenai akun bodong yang meresahkan ini. Akun tersebut menjanjikan kemudahan proposal, namun itu jelas penipuan,” ujar Mursalim dalam keterangan resminya, Selasa (13/8/2024).
Putus Rantai Penipuan dengan Pelaporan
Masyarakat diminta untuk melakukan langkah proaktif jika menerima pesan mencurigakan serupa. Langkah paling efektif adalah mengabaikan pesan tersebut dan memblokir akun yang bersangkutan. Jika pelaku sudah menjurus pada permintaan data pribadi atau sejumlah uang, warga sangat disarankan untuk segera melaporkannya kepada pihak berwajib.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memastikan bahwa koordinasi resmi terkait bantuan hanya dilakukan melalui saluran komunikasi pemerintahan yang sah. Identitas digital pejabat publik sering kali menjadi sasaran empuk para peretas sosial untuk melancarkan aksi penipuan, sehingga ketelitian masyarakat menjadi benteng pertahanan terakhir yang paling ampuh.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.