Tanah Datar, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Kursi nomor satu di Pemerintahan Nagari Sungayang kini tak berpenghuni. Keputusan pahit ini terpaksa diambil setelah Bupati Tanah Datar resmi mengeluarkan Surat Keputusan (SK) pemberhentian terhadap Nofri Edison pada Sabtu (3/8). Sang pemimpin dicopot dari jabatannya akibat dugaan kuat pelanggaran kode etik serta perilaku yang dinilai melenceng dari norma adat masyarakat setempat.
Langkah drastis ini menjadi klimaks dari penyelidikan maraton yang melibatkan jajaran pemerintahan tingkat nagari hingga kabupaten. Meski tergolong ekstrem, pencopotan ini dianggap sebagai satu-satunya cara menyelamatkan marwah dan tatanan sosial masyarakat yang sempat terguncang.
“Ini adalah hari yang pahit bagi Nagari Sungayang. Namun, ini adalah langkah yang harus diambil demi kebaikan bersama. Kita tidak bisa mentolerir tindakan yang merusak tatanan sosial di nagari kita,” tegas Yuhelman, Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Sungayang.
Pencopotan ini seketika mengubah peta sosiologis warga. Penolakan terhadap perilaku menyimpang sang mantan pemimpin kini berubah menjadi momentum refleksi kolektif. Bagi masyarakat adat Minangkabau, seorang pemimpin nagari bukan sekadar administrator negara, melainkan cerminan moral dari prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Ketika figur tersebut melanggar norma, dampak psikologisnya langsung memukul kesadaran hukum warga desa.
Untuk mengantisipasi lumpuhnya pelayanan publik, Camat Sungayang bergerak cepat dengan menunjuk Sekretaris Nagari sebagai pelaksana tugas (Plt) harian. Fokus utama birokrasi saat ini adalah menjaga agar program pembangunan desa tidak mandek di tengah jalan akibat guncangan politik lokal ini.
“Kami akan segera melakukan proses pemilihan Wali Nagari yang baru sesuai dengan aturan yang berlaku,” jelas Narty, Camat Sungayang.
Ia juga mengimbau agar warga tetap tenang dan mengawal transisi ini dengan kepala dingin.
Kini, warga Sungayang berada di persimpangan jalan. Di balik ruang rapat yang riuh oleh kehadiran Camat, Kapolsek, BPRN, hingga KAN, ada harapan besar yang dititipkan oleh masyarakat yang mendambakan pemulihan moral.
“Kami ingin pemimpin yang benar-benar mengabdi untuk masyarakat. Semoga dengan pemimpin yang baru, Nagari Sungayang bisa lebih maju dan sejahtera,” harap salah seorang warga setempat.
Krisis kepemimpinan ini menjadi pelajaran mahal bahwa integritas moral adalah fondasi mutlak dalam pembangunan sebuah desa.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.