Menu

Mode Gelap
Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi Bukan Seremoni, Desa Kambuno Rayakan Hari Desa dengan Aksi

JALAN JAJAN · 10 Mar 2024 22:54 WIB ·

Tubu NTT: Pesona Eropa Mini di Balik Jalan Ekstrem


					Tubu NTT: Pesona Eropa Mini di Balik Jalan Ekstrem Perbesar

Kefamenanu [DESA MERDEKA] – Lukisan alam maha agung hadir di Desa Tubu, Kecamatan Bikomi Nilulat, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Meskipun akses jalannya menantang, bahkan membutuhkan nyali ekstra di beberapa titik, keindahan desa ini sungguh memukau. Perjalanan menuju Tubu, sekitar 20 kilometer dari Kefamenanu, memakan waktu sekitar dua jam dengan sepeda motor atau lebih dari tiga jam menggunakan mobil. Rute yang bisa Anda pilih adalah melalui Letkase-Nunpo atau Nimasi-Nunpo, lalu menyusuri jalan sabuk merah putih ke arah Kecamatan Mutis.

Sesampainya di Tubu, desa yang berbatasan langsung dengan Timor Leste ini, Anda akan disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Udara sejuk pegunungan, bahkan cenderung dingin di beberapa area, langsung menyambut. Pemandangan hutan belantara yang luas, perbukitan hijau, serta keheningan yang menenangkan jiwa akan menemani sepanjang perjalanan. Terlebih lagi, Gunung Miomaffo berdiri gagah sebagai latar belakang sempurna untuk berfoto ria.

Namun, daya tarik utama Tubu bukan hanya itu. Di Dusun II, terdapat sebuah waduk kecil yang unik. Meskipun tidak sebesar Danau Kelimutu, waduk ini memiliki daya tarik tersendiri. Blasius Nesi Kefi, Kepala Desa Tubu, menjelaskan bahwa waduk ini terbentuk secara alami setelah aktivitas penggalian tanah sertu pada akhir tahun 2023, yang menambah debit tiga mata air kecil yang sudah ada sejak tahun 1990-an. Masyarakat setempat memanfaatkan sumber air ini untuk kebutuhan sehari-hari.

Keunikan lain dari waduk ini adalah gravitasinya yang tinggi. Akibatnya, air tidak dapat dialirkan keluar menggunakan alat bantu, meskipun menuju dataran yang lebih rendah. Selain itu, pada kondisi cuaca tertentu, air waduk dapat berubah warna dari biru menjadi hijau kabur.

Selain keindahan alamnya, Desa Tubu juga menyimpan sisi sakral. Kepala Desa mengimbau pengunjung untuk tidak mendaki gunung tanpa didampingi masyarakat adat setempat. Ia juga berencana memanfaatkan dana desa untuk menata kawasan ini menjadi tempat rekreasi yang menarik. Nantinya, kedai kopi robusta lokal, produk unggulan desa, akan melengkapi pengalaman wisata di Tubu. Kepala Desa berharap dukungan pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi wisata alam dan budaya di desanya, demi meningkatkan kemandirian dan pendapatan asli desa.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 404 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Durian Tuntang-Bringin: Bukan Sekadar Buah, Tapi Tradisi Pelosok Desa

22 Januari 2026 - 14:35 WIB

Sisi Lain Benteng Fort Willem I: Edukasi Burung Hantu Eksotis

20 Januari 2026 - 18:33 WIB

Sihir Sejarah Ambarawa: Sendratari Babad Fort Willem I Digelar Rutin

18 Januari 2026 - 07:18 WIB

Le Jacques-Cartier: “Hotel Bawah Laut” Prancis Ubah Peta Wisata Indonesia

17 Januari 2026 - 16:55 WIB

Mentawai Bukan Sekadar Ombak: Turis Prancis ‘Sihir’ Siberut

16 Januari 2026 - 20:57 WIB

Stasiun Tuntang: Menghidupkan ‘Roh’ Kolonial Melalui Diplomasi Budaya

16 Januari 2026 - 17:04 WIB

Trending di JALAN JAJAN