Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

JALAN JAJAN · 13 Apr 2026 15:57 WIB ·

Racikan Empon-Empon Ambarawa: Warisan Simbah yang Menembus Benteng


					Racikan Empon-Empon Ambarawa: Warisan Simbah yang Menembus Benteng Perbesar

Ambarawa, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Di balik kokohnya dinding sejarah Benteng Willem I atau yang populer dengan sebutan Benteng Pendem, tersaji kehangatan dari akar bumi Nusantara. Adalah Kafe Rempah, sebuah unit usaha kreatif yang menyulap empon-empon—tanaman rimpang khas pedesaan—menjadi minuman kekinian yang menyehatkan sekaligus menggugah selera.

Bukan sekadar jamu biasa, produk unggulan seperti Kopi Rempah, Kuteja (Kunyit, Temulawak, Jahe), hingga Kunyit Lemon Segar menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mencintai kembali rahasia kesehatan nenek moyang.

Kearifan Lokal dalam Gelas Modern
Pak Budi, sosok di balik Kafe Rempah, menjelaskan bahwa “kekuatan” utama produknya terletak pada formula perbandingan yang presisi. “Kunyit itu antibiotik alami. Kalau anak-anak sering konsumsi, imun tubuhnya akan lebih kuat,” jelasnya. Ia teringat tradisi orang tua zaman dulu yang memarut kunyit untuk stamina, sebuah praktik yang kini ia kemas lebih praktis dan higienis.

Selain kunyit dan jahe, Pak Budi memperkenalkan “bintang tamu” tak terduga dalam minumannya: laos atau lengkuas. Jika biasanya laos hanya berakhir di bumbu rica-rica, di sini ia menjadi bagian dari ramuan 3 liter air yang direbus bersama jahe dan kunyit dengan takaran masing-masing 200 gram. Hasilnya? Sebuah minuman hangat yang mampu memperlancar sirkulasi darah dan menghangatkan tubuh di tengah hawa dingin Ambarawa.

UMKM yang Siap “Go Public”
Inovasi tidak berhenti pada penyajian di tempat. Memahami kebutuhan pasar, Kafe Rempah juga menyediakan kemasan serbuk 175 gram yang siap seduh. Cukup satu sendok makan untuk 250 ml air panas, penikmat sudah bisa merasakan sensasi rempah lengkap mulai dari cengkeh, kapulaga, hingga kayu secang.

“Penyajiannya harus fresh dan panas. Kita pakai wadah khusus agar wisatawan bisa membawa minuman ini sambil jalan-jalan melihat indahnya gedung sejarah,” tambah Pak Budi. Keberadaan kafe ini membuktikan bahwa produk berbasis desa memiliki daya saing tinggi saat disandingkan dengan destinasi wisata ikonik, menciptakan harmoni antara kesehatan, sejarah, dan ekonomi kreatif.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 29 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Racikan Rempah Belakang Rumah: Primadona Baru Wisata Ambarawa

13 April 2026 - 17:51 WIB

Kampung Tenun Samarinda: Magnet Budaya di Gerbang IKN

2 April 2026 - 14:04 WIB

Pacu Kuda Padang Pariaman 2026: Magnet Ekonomi Perantau Pulang

29 Maret 2026 - 09:12 WIB

Stasiun Tuntang: Saat Kereta Tua Hidupi Ekonomi Desa

27 Maret 2026 - 08:07 WIB

Parkir “Nembak” Harga Rp20 Ribu Coreng Wajah Carocok Painan

25 Maret 2026 - 13:45 WIB

Wisatawan Lokal Kuasai Penglipuran Selama Libur Lebaran 2026

24 Maret 2026 - 10:05 WIB

Trending di JALAN JAJAN