Ambarawa, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Di balik kokohnya dinding sejarah Benteng Willem I atau yang populer dengan sebutan Benteng Pendem, tersaji kehangatan dari akar bumi Nusantara. Adalah Kafe Rempah, sebuah unit usaha kreatif yang menyulap empon-empon—tanaman rimpang khas pedesaan—menjadi minuman kekinian yang menyehatkan sekaligus menggugah selera.
Bukan sekadar jamu biasa, produk unggulan seperti Kopi Rempah, Kuteja (Kunyit, Temulawak, Jahe), hingga Kunyit Lemon Segar menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mencintai kembali rahasia kesehatan nenek moyang.
Kearifan Lokal dalam Gelas Modern
Pak Budi, sosok di balik Kafe Rempah, menjelaskan bahwa “kekuatan” utama produknya terletak pada formula perbandingan yang presisi. “Kunyit itu antibiotik alami. Kalau anak-anak sering konsumsi, imun tubuhnya akan lebih kuat,” jelasnya. Ia teringat tradisi orang tua zaman dulu yang memarut kunyit untuk stamina, sebuah praktik yang kini ia kemas lebih praktis dan higienis.
Selain kunyit dan jahe, Pak Budi memperkenalkan “bintang tamu” tak terduga dalam minumannya: laos atau lengkuas. Jika biasanya laos hanya berakhir di bumbu rica-rica, di sini ia menjadi bagian dari ramuan 3 liter air yang direbus bersama jahe dan kunyit dengan takaran masing-masing 200 gram. Hasilnya? Sebuah minuman hangat yang mampu memperlancar sirkulasi darah dan menghangatkan tubuh di tengah hawa dingin Ambarawa.
UMKM yang Siap “Go Public”
Inovasi tidak berhenti pada penyajian di tempat. Memahami kebutuhan pasar, Kafe Rempah juga menyediakan kemasan serbuk 175 gram yang siap seduh. Cukup satu sendok makan untuk 250 ml air panas, penikmat sudah bisa merasakan sensasi rempah lengkap mulai dari cengkeh, kapulaga, hingga kayu secang.
“Penyajiannya harus fresh dan panas. Kita pakai wadah khusus agar wisatawan bisa membawa minuman ini sambil jalan-jalan melihat indahnya gedung sejarah,” tambah Pak Budi. Keberadaan kafe ini membuktikan bahwa produk berbasis desa memiliki daya saing tinggi saat disandingkan dengan destinasi wisata ikonik, menciptakan harmoni antara kesehatan, sejarah, dan ekonomi kreatif.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.