Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat [DESA MERDEKA] – Sahnya sebuah pernikahan di era modern kerap diukur dari megahnya gedung atau mewahnya katering. Namun, masyarakat Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, memilih jalan berbeda. Mereka menggunakan 99 ekor ayam kampung dan kekuatan kolektif pemuda untuk merawat hukum adat sekaligus membentengi ruang sosial desa dari fitnah.
Jumat malam (15/5), Desa Puyung menggelar tradisi Merangkat untuk pasangan muda Lalu Aria Sultan Madani dan Rosa Ninty Oktamadila. Prosesi ini merupakan kelanjutan krusial dari merariq (pernikahan) dalam adat suku Sasak. Alih-alih membawa amplop atau kado mewah, barisan pemuda dan pemudi berjalan kompak mengekor arak-arakan pengantin sambil memeluk erat ayam kampung hidup di dada mereka.
Simbol totalitas dukungan moral itu mewujud dalam angka persis 99 ekor ayam kampung. Bagi para pemuda setempat, puluhan ayam tersebut adalah kado perpisahan untuk melepas masa lajang rekan sejawat mereka.
“Tradisi ini melibatkan keluarga besar, tetangga, hingga tokoh adat. Nilai gotong royong dan silaturahmi sangat terasa dalam kegiatan seperti ini,” ujar HL Junaidi, tokoh masyarakat Desa Puyung.
Secara fungsi sosial dan hukum adat Sasak, Merangkat merupakan maklumat resmi kepada seluruh warga kampung. Melalui prosesi duduk bersama dan mengenalkan mempelai wanita secara terbuka, pihak keluarga mengumumkan bahwa hubungan kedua sejoli telah sah. Keberadaan sang perempuan di kediaman lelaki kini diketahui khalayak umum, sehingga efektif membentengi mereka dari prasangka buruk ataupun fitnah.
Dampak ekonomi dan kebersamaan langsung terasa saat dapur umum desa mulai berdenyut pasca-arak-arakan. Puluhan ayam kampung sumbangan warga diolah secara komunal menjadi menu wajib ayam merangkat; ayam bakar suwir dengan balutan bumbu rempah khas Lombok yang pedas getir. Hidangan tradisional lain seperti totok telok dan antuk manok turut disajikan di atas nampan-nampan besar.
Saat waktu mengkele atau makan bersama tiba, sekat-sekat sosial di Desa Puyung seketika melebur. Tokoh masyarakat, tetangga, hingga anak-anak muda duduk bersila dalam lingkaran yang sama, menyantap hidangan yang sama, dan mensyukuri berkah yang sama.
Regenerasi kearifan lokal di desa adat ini berjalan mulus justru karena pemuda setempat menolak menjadi penonton di tanah sendiri. Mereka mengambil peran sebagai penggerak utama yang bangga menjaga akar budaya. Kehangatan malam itu menyisakan pesan kuat bahwa pernikahan di tanah Sasak bukan sekadar bersatunya dua hati, melainkan tentang sekampung halaman yang bergerak bersama merawat persaudaraan.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.