Blangpidie, Aceh [DESA MERDEKA] – Di tengah gempuran tren digital yang menyita waktu, ratusan warga Desa Durian Rampak, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), memilih kembali ke akar spiritual. Pada Kamis (15/1/2026) malam, Masjid Baitul Qahhar dipadati jemaah yang memperingati Isra’ Mi’raj 1447 Hijriah, sebuah momentum yang tidak hanya menjadi ajang mengenang sejarah, tetapi juga “sidak” bagi kualitas ibadah warga.
Peringatan 27 Rajab ini bukan sekadar rutinitas kalender. Bagi warga setempat, ini adalah alarm tahunan untuk mempererat silaturahmi. Kehadiran tokoh penting seperti Keuchik Suhaimi, Sekcam Hamdani, hingga Imam Chik Tgk Syamsuar S, menunjukkan bahwa tradisi ini masih menjadi perekat sosial yang paling ampuh di tingkat desa.
Buraq: Teknologi Langit dan Sindiran bagi Pelala Shalat
Sudut pandang paling menarik muncul saat Ustaz Hafizan S.Pd.I, pendakwah asal Labuhan Haji, membedah perjalanan agung Rasulullah. Ia menggambarkan Buraq bukan sekadar kendaraan mitologis, melainkan simbol kecepatan dan ketaatan. Namun, kontras dengan kecepatan Buraq yang melebihi kilat, Ustaz Hafizan menyoroti betapa “lambatnya” langkah kaki generasi muda masa kini menuju masjid.
Dalam tausiyahnya, Ustaz Hafizan menceritakan kengerian yang disaksikan Nabi Muhammad SAW mengenai manusia yang kepalanya dihantam batu berulang kali. Ini adalah analogi bagi mereka yang secara sadar mengabaikan perintah shalat. “Shalat adalah tiang agama. Menanggalkannya sama saja dengan merobohkan bangunan iman kita sendiri,” tegasnya di hadapan jemaah yang terdiam menyimak.
Iktibar dan Diplomasi “Kue Apam”
Ketua Panitia, Yulisman S.Ag, menegaskan bahwa sasaran utama kegiatan ini adalah kaum laki-laki yang telah balig. Ada tantangan besar untuk mengalihkan perhatian jemaah dari kesibukan duniawi menuju shalat fardu berjamaah. Peringatan ini menjadi media kampanye untuk memakmurkan masjid sebagai pusat peradaban desa.
Menariknya, ketegangan pesan agama yang berat tersebut ditutup dengan harmoni tradisi lokal. Warga Durian Rampak mempertahankan kearifan lokal dengan menyantap bersama kue apam berkuah. Sajian tradisional ini menjadi simbol “diplomasi meja makan” yang mencairkan suasana. Di atas piring-piring apam, warga dari berbagai lapisan usia duduk setara, menunjukkan bahwa kekuatan desa ada pada kombinasi antara keteguhan iman dan kehangatan tradisi.
Peristiwa Isra’ Miraj di Durian Rampak membuktikan bahwa di era modern, masjid tetap menjadi ruang publik yang paling jujur untuk melakukan refleksi diri dan konsolidasi sosial.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.