Sungai Limau, Padang Pariaman, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Di saat petani lain sibuk dengan biaya mesin bajak dan pupuk kimia yang mahal, Syafril, seorang mantan Wali Korong di Nagari Kuranji Hilir, justru melakukan hal sebaliknya. Ia menerapkan metode Sawah Pokok Murah (SPM), sebuah teknik bertani yang sangat irit biaya namun sempat membuatnya menjadi bahan tertawaan tetangga karena dianggap “bermain-main”.
Langkah radikal ini mulai dibuktikan Syafril di Korong Lampanjang sejak 18 Januari 2026. Alih-alih mengolah tanah secara konvensional, ia menanam benih padi berusia 14 hari di atas bedengan beralaskan jerami. Metode ini terinspirasi dari keberhasilan lahan di Nagari Pilubang dan pemikiran efisiensi dari Ir. Djoni, mantan Kadis Pertanian Sumbar.
Melawan Stigma “Petani Main-Main”
Keputusan Syafril menanam padi dengan cara yang menyerupai cara menanam cabai memicu skeptisisme publik. Ia menghadapi tantangan sosial berupa cemoohan dari sesama petani yang menganggap metodenya aneh dan tidak masuk akal. Namun, bagi Syafril, ini adalah strategi serius untuk memutus ketergantungan petani pada modal besar.
“Saya termotivasi setelah melihat bukti nyata di lahan Ibu Melia Afni. Ini bukan main-main, tapi jalan menuju efisiensi,” ujar Syafril saat meninjau lahannya bersama pengurus PAC PDI Perjuangan Sungai Limau, Jumat (6/2/2026).
Tiga Keunggulan Sawah Pokok Murah (SPM)
Metode SPM yang diterapkan Kelompok Tani Lampanjang Jaya ini menawarkan tiga solusi konkret untuk kedaulatan petani:
- Nol Biaya Bajak: Menghapus ketergantungan pada mesin traktor dan BBM.
- Bebas Pupuk Kimia: Mengandalkan jerami dan nutrisi alami untuk menjaga kesehatan tanah jangka panjang.
- Hemat Tenaga Kerja: Sistem bedengan jerami meminimalisir pertumbuhan rumput liar sehingga hampir tidak memerlukan proses penyiangan.
Fajar Baru Kemandirian Petani
Inovasi Syafril adalah pembuktian bahwa pertanian berkelanjutan bisa dimulai dengan memanfaatkan apa yang tersedia di alam, seperti jerami yang selama ini sering dibakar sia-sia. Jika eksperimen ini sukses saat panen nanti, metode SPM diprediksi akan menjadi standar baru bagi petani di Padang Pariaman yang ingin merdeka dari jeratan biaya produksi tinggi.
Kini, warga Sungai Limau tengah menanti hasil dari “revolusi jerami” ini. Syafril telah menunjukkan bahwa untuk maju, terkadang kita harus berani terlihat “aneh” di mata orang banyak.

Penggiat Desa. Lakukan yang Perlu saja (Prioritas).
Kita Gak perlu memenangkan semua Pertempuran.
Tinggal di Padang Pariaman, Sumatera Barat.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.