Oleh: Akhmad Muqowam
Peradaban tidak lahir dalam semalam. Ia adalah akumulasi dari ilmu pengetahuan, teknologi, nilai-nilai budaya, sistem sosial, ekonomi, hingga spiritualitas yang terinternalisasi dalam praktik kehidupan masyarakat. Dalam konteks negara-bangsa, peradaban menjadi cermin dari kualitas tata kelola, kesadaran kolektif, dan arah pembangunan jangka panjang.
Indonesia kini memasuki babak sejarah baru dengan membangun Ibu Kota Nusantara (IKN). Proyek ambisius ini bukan sekadar relokasi fisik pusat pemerintahan, tetapi sekaligus menjadi simbol transformasi peradaban bangsa. Namun, untuk menjadikan IKN sebagai titik loncatan peradaban, kita tidak cukup hanya bicara tentang infrastruktur fisik, melainkan harus membangun dan memperkuat apa yang disebut sebagai sub-sistem dan ekosistem peradaban.
Peradaban dan Pilar Penyangganya
Peradaban adalah bangunan besar yang tegak di atas fondasi ilmu, paradigma, budaya, etika, dan sistem sosial yang berfungsi. Dalam bangunan ini, terdapat sub-sistem peradaban—komponen-komponen pendukung seperti pendidikan, hukum, ekonomi, agama, teknologi, dan politik. Masing-masing sub-sistem berkontribusi dalam menciptakan tatanan sosial yang produktif, adil, dan bermartabat.
Sementara itu, ekosistem peradaban mengacu pada kondisi lingkungan yang mendukung tumbuhnya sub-sistem tadi. Ini meliputi atmosfer kebebasan berpikir, keterbukaan informasi, kepercayaan sosial (trust), sistem insentif, budaya kolaborasi, serta kepemimpinan yang visioner.
Artinya, membangun peradaban—apalagi melalui sebuah ibu kota baru—tidak hanya tentang gedung tinggi dan jalan lebar. Ia harus melibatkan proses transformasi sosial yang dalam, integrasi nilai-nilai luhur bangsa, serta kesadaran kolektif bahwa perubahan adalah proses jangka panjang, tidak instan.
Belajar dari Negara yang Gagal
Beberapa negara telah mencoba membangun ibu kota baru dengan tujuan yang mulia, namun gagal mencapai visi peradaban yang diharapkan.
1. Naypyidaw, Myanmar
Pada 2005, Myanmar memindahkan ibu kotanya dari Yangon ke Naypyidaw. Kota ini dibangun dengan infrastruktur modern dan rencana tata ruang luas, tetapi sepi aktivitas publik. Karena minim partisipasi masyarakat dan pembangunan tidak diimbangi dengan reformasi sosial-politik, Naypyidaw justru menjadi simbol keterputusan antara negara dan rakyatnya.
2. Brasilia, Brasil
Brasilia dibangun pada 1960-an sebagai ibu kota modern Brasil. Meski diakui secara arsitektural, kota ini tumbuh terpisah dari realitas sosial-ekonomi mayoritas rakyat Brasil. Ketimpangan akses, polarisasi sosial, dan minimnya peran warga membuat Brasilia dianggap steril dan eksklusif.
3. Yamoussoukro, Pantai Gading
Yamoussoukro diresmikan sebagai ibu kota baru menggantikan Abidjan. Namun, lemahnya infrastruktur sosial, tidak adanya insentif ekonomi, dan tidak berpindahnya pusat aktivitas pemerintahan menjadikannya proyek yang stagnan.
Pelajaran penting dari ketiga contoh tersebut adalah bahwa ibu kota tidak bisa berdiri sendiri sebagai proyek teknokratik. Ia harus tumbuh bersama dengan masyarakat, membawa semangat baru, dan menjadi simpul pembaruan nilai.
IKN: Laboratorium Masa Depan Indonesia?
IKN harus diposisikan sebagai “laboratorium peradaban” Indonesia masa depan. Di sini kita bisa merancang dan menguji bagaimana sub-sistem pendidikan yang membebaskan, sistem birokrasi yang efisien, dan teknologi yang inklusif bisa berfungsi secara harmonis. Ekosistem yang mendukung seperti transparansi, kolaborasi antar pemangku kepentingan, dan kepemimpinan yang kuat akan menjadi penentu keberhasilan proyek ini.
Pendidikan harus menjadi garda terdepan dalam membentuk warga ibu kota baru yang melek sejarah, terbuka terhadap masa depan, dan berbudaya gotong-royong. Teknologi digital bisa mempercepat integrasi sistem layanan publik, tetapi hanya akan bermanfaat bila diiringi dengan literasi digital yang merata.
Sementara itu, partisipasi masyarakat bukanlah pelengkap, melainkan syarat mutlak. Tanpa kehadiran warga yang merasa memiliki dan menjadi bagian dari pembangunan, IKN hanya akan menjadi proyek infrastruktur, bukan pusat peradaban.
Menyatukan Cita dan Realita
Membangun peradaban membutuhkan waktu panjang dan konsistensi lintas generasi. Pembangunan IKN harus dikawal tidak hanya oleh kekuatan politik dan teknokrasi, tetapi oleh visi kolektif tentang Indonesia yang berdaulat, berkepribadian, dan berkeadilan sosial.
Para perancang dan pelaksana pembangunan IKN harus paham bahwa membangun ibu kota baru adalah proses menciptakan narasi bersama. Sub-sistem dan ekosistem peradaban tidak bisa diciptakan hanya dengan anggaran, tetapi dengan kerja keras membangun nilai, relasi sosial, dan ruang hidup yang manusiawi.
Jika tidak, kita akan mengulang kegagalan negara lain: kota megah, tapi kosong jiwa. Nusantara akan berhasil bila ia hidup sebagai simbol hidupnya peradaban baru Indonesia—yang berpihak pada rakyat, terbuka pada masa depan, dan berakar pada nilai-nilai luhur bangsa.

Jurnalis dan Pegiat Pemberdayaan Masyarakat Peduli Desa. Saat ini adalah Ketua Komunitas Desa Indonesia dan Koordinator Mobile Journalist Desa


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.