Agam, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Penerapan teknologi modern smart farming di Sumatera Barat menyisakan persoalan besar di tingkat hilir. Di balik peresmian fasilitas pertanian canggih yang dihadiri para pejabat daerah, kelompok tani justru menjerit karena kesulitan memasarkan produk hasil sortiran yang tidak masuk standar pasar utama.
Hal ini terungkap dalam peresmian screenhouse cabai modern milik Kelompok Tani Karya Tani Muaro Batang Gadis, (21/8/2026). Kelompok tani ini berada di Jorong Surabayo, Nagari Lubuk Basung, Kabupaten Agam. Wilayah ini merupakan pusat pemerintahan dan pusat kota dari Kabupaten Agam. Meskipun wilayah dataran rendah ini sangat strategis dan memiliki akses infrastruktur kota, hal tersebut belum mampu menjamin kelancaran pemasaran buah kualitas bawah.
Teknologi modern memang dinilai berhasil menjaga ketahanan produksi hortikultura dari cuaca ekstrem. Namun, para petani di pusat kota Agam ini mengaku kewalahan menghadapi penumpukan produk berkualitas rendah atau cacat fisik hasil sortiran.
“Kendala terbesar kami saat ini justru terjadi pada penanganan pascapanen. Kami sangat bingung memasarkan produk yang masuk kategori sortiran, baik itu cabai, melon, maupun komoditas hortikultura lainnya,” ujar Ketua Kelompok Tani Karya Tani Muaro Batang Gadis, Rizki Hamdi, dengan nada khawatir.
Menurut Rizki, sistem pertanian modern memang mampu memacu produktivitas tinggi. Namun, jarak logistik sejauh 115 kilometer menuju pasar induk provinsi di Kota Padang membuat biaya transportasi membengkak. Tanpa adanya industri pengolahan lokal di Kabupaten Agam, produk sortiran yang ditolak pasar ritel konvensional terancam menjadi limbah dan merugikan petani.
Menanggapi keluhan nyata tersebut, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, mengakui bahwa sektor hilirisasi dan pemasaran produk pertanian di Sumbar masih lemah. Ia berjanji akan mendorong keterlibatan dunia usaha, termasuk mencoba membangun sinergi dengan jaringan pengusaha lokal untuk mengatasi masalah sortiran ini.
“Kita akan dorong hilirisasi dan pemasaran. Kami sedang menjajaki komunikasi dengan pihak swasta dan pengusaha untuk membantu mencarikan jalan keluar bagi produk-produk sortiran milik petani ini,” kata Mahyeldi.
Kondisi lapangan ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah. Pembangunan infrastruktur pertanian berbasis teknologi dinilai akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan ekosistem rantai pasok (supply chain) yang matang, termasuk solusi nyata untuk mengolah produk sortiran agar memiliki nilai tambah ekonomi bagi petani.
Kontak Media:
Kelompok Tani Karya Tani Muaro Batang Gadis
Jorong Surabayo, Nagari Lubuk Basung, Kabupaten Agam


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.