Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Di saat banyak desa menyerah pada label “langganan banjir”, Desa Sitiarjo di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, justru memilih jalan sunyi yang heroik. Di bawah komando Mamik Misniati (57), Sitiarjo bertransformasi dari desa rawan bencana menjadi laboratorium gotong royong dan ketangguhan sosial yang menginspirasi nasional.
Sosok Mamik membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan bukan sekadar pelengkap administratif. Di tangannya, trauma banjir tahunan diubah menjadi energi kolektif untuk memperbaiki infrastruktur secara mandiri. Baginya, sinergi adalah harga mati jika ingin keluar dari jerat ketergantungan bantuan.

Filosofi di Balik Ritual Encek-encekan
Semangat perlawanan terhadap nasib ini dikristalisasi melalui ritual adat “Bersih Desa” atau Encek-encekan yang digelar pada pertengahan Mei lalu. Alih-alih sekadar seremoni, arak-arakan tumpeng hasil bumi ini merupakan proklamasi syukur sekaligus pernyataan bahwa tanah Sitiarjo tetap subur dan berdaya meski sering terendam air.
Puncaknya, pagelaran wayang kulit dengan lakon “Semar mBagun Jiwo” dipilih bukan tanpa alasan. Lakon ini merupakan refleksi mendalam tentang pembangunan jiwa. Masyarakat Sitiarjo menyadari bahwa sebelum membangun fisik jalan yang hancur, mereka harus membangun jiwa yang tahan banting dan adaptif terhadap perubahan zaman serta tantangan alam.

Kemandirian di Tengah Kerawanan
Mamik Misniati menekankan bahwa partisipasi aktif warga adalah kunci kemandirian desa. Hal ini terlihat nyata saat warga secara swadaya bahu-membahu memperbaiki jalan rusak pascabanjir tanpa menunggu birokrasi yang panjang. Pola pikir “desa membangun” benar-benar diimplementasikan di sini.
“Kemajuan desa bergantung pada solidnya hubungan warga dan pemerintah. Tanpa itu, kita hanya akan jalan di tempat,” tegas Mamik.
Kisah Sitiarjo memberikan perspektif baru bagi dunia kebencanaan: bahwa bencana alam tidak harus berakhir dengan kemiskinan. Dengan kepemimpinan yang visioner dan pemberdayaan masyarakat yang tepat, sebuah desa mampu bangkit dari lumpur sisa banjir menuju kemandirian ekonomi dan sosial. Sitiarjo kini bukan lagi sekadar titik merah di peta bencana, melainkan mercusuar gotong royong bagi desa-desa lain di Indonesia.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.