Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KABAR DESA · 18 Mei 2023 09:34 WIB ·

Sitiarjo: Melawan Banjir dengan “Semar mBagun Jiwo” dan Kepemimpinan Ibu


					Sitiarjo: Melawan Banjir dengan “Semar mBagun Jiwo” dan Kepemimpinan Ibu Perbesar

Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] Di saat banyak desa menyerah pada label “langganan banjir”, Desa Sitiarjo di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, justru memilih jalan sunyi yang heroik. Di bawah komando Mamik Misniati (57), Sitiarjo bertransformasi dari desa rawan bencana menjadi laboratorium gotong royong dan ketangguhan sosial yang menginspirasi nasional.

Sosok Mamik membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan bukan sekadar pelengkap administratif. Di tangannya, trauma banjir tahunan diubah menjadi energi kolektif untuk memperbaiki infrastruktur secara mandiri. Baginya, sinergi adalah harga mati jika ingin keluar dari jerat ketergantungan bantuan.

Filosofi di Balik Ritual Encek-encekan
Semangat perlawanan terhadap nasib ini dikristalisasi melalui ritual adat “Bersih Desa” atau Encek-encekan yang digelar pada pertengahan Mei lalu. Alih-alih sekadar seremoni, arak-arakan tumpeng hasil bumi ini merupakan proklamasi syukur sekaligus pernyataan bahwa tanah Sitiarjo tetap subur dan berdaya meski sering terendam air.

Puncaknya, pagelaran wayang kulit dengan lakon “Semar mBagun Jiwo” dipilih bukan tanpa alasan. Lakon ini merupakan refleksi mendalam tentang pembangunan jiwa. Masyarakat Sitiarjo menyadari bahwa sebelum membangun fisik jalan yang hancur, mereka harus membangun jiwa yang tahan banting dan adaptif terhadap perubahan zaman serta tantangan alam.

Kemandirian di Tengah Kerawanan
Mamik Misniati menekankan bahwa partisipasi aktif warga adalah kunci kemandirian desa. Hal ini terlihat nyata saat warga secara swadaya bahu-membahu memperbaiki jalan rusak pascabanjir tanpa menunggu birokrasi yang panjang. Pola pikir “desa membangun” benar-benar diimplementasikan di sini.

“Kemajuan desa bergantung pada solidnya hubungan warga dan pemerintah. Tanpa itu, kita hanya akan jalan di tempat,” tegas Mamik.

Kisah Sitiarjo memberikan perspektif baru bagi dunia kebencanaan: bahwa bencana alam tidak harus berakhir dengan kemiskinan. Dengan kepemimpinan yang visioner dan pemberdayaan masyarakat yang tepat, sebuah desa mampu bangkit dari lumpur sisa banjir menuju kemandirian ekonomi dan sosial. Sitiarjo kini bukan lagi sekadar titik merah di peta bencana, melainkan mercusuar gotong royong bagi desa-desa lain di Indonesia.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 106 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Bansos Ribuan Warga Wonogiri Disetop Gegara Judol Pinjol

19 September 2026 - 06:11 WIB

Sengkarut Dana Desa Malaka: Pelatihan 10 Menit Disorot

17 September 2026 - 10:01 WIB

Bantaran Citarum Memanas: Sengkarut Rivalitas 4 Calon Pemimpin Bantarjaya

10 September 2026 - 16:25 WIB

Pilkades Sumber Urip: Petahana Jajang Sujai Amankan Nomor 1

9 September 2026 - 14:45 WIB

Sumpah Setia dan Bayang-Bayang Konflik di Balik Sterilisasi Pilkades Pebayuran

9 September 2026 - 14:23 WIB

Petahana Juhendi Sulaeman Raih Nomor Urut 3 Pilkades Karanghaur

9 September 2026 - 13:29 WIB

Trending di KABAR DESA