Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

DESA · 21 Jan 2026 09:29 WIB ·

Siltap Minim, Perangkat Desa Banyuwangi Pilih Jadi Kuli Bangunan


					Ketua Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Banyuwangi Jay Ali Mansyur usai rapat dengan DPRD Banyuwangi, Senin (19/1/2026). Perbesar

Ketua Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Banyuwangi Jay Ali Mansyur usai rapat dengan DPRD Banyuwangi, Senin (19/1/2026).

Banyuwangi, Jawa Timur [DESA MERDEKA] Kebijakan efisiensi anggaran pusat yang semula bertujuan untuk menyehatkan fiskal, kini justru memicu “bedol desa” di jajaran birokrasi terbawah Kabupaten Banyuwangi. Akibat Penghasilan Tetap (Siltap) yang anjlok di bawah standar upah minimum, banyak perangkat desa memilih menanggalkan seragamnya dan beralih profesi menjadi buruh hingga kuli bangunan.

Fenomena memprihatinkan ini terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Banyuwangi dengan DPRD setempat pada Senin sore (19/1/2026). Efisiensi anggaran pemerintah pusat ternyata menghantam langsung dapur para ujung tombak pelayanan publik di desa.

Krisis Kesejahteraan di Bawah Upah Minimum
Ketua PPDI Kabupaten Banyuwangi, Jay Ali Mansyur, menegaskan bahwa dampak penghematan anggaran ini sangat terasa pada sisi pendapatan. Saat ini, angka Siltap yang diterima para perangkat desa dianggap jauh dari kata layak untuk memenuhi kebutuhan hidup di era inflasi tinggi.

“Dampaknya sangat besar, terutama penghasilan yang kini berada jauh di bawah upah minimum daerah,” ungkap Jay Ali, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Desa Pendarungan, Kecamatan Kabat.

Kesenjangan antara beban kerja yang berat dengan upah yang minim menciptakan gelombang pengunduran diri massal, terutama di kalangan staf desa berstatus honorer. Mereka menganggap bertahan sebagai perangkat desa hanya akan membuat kebutuhan dasar keluarga tidak terpenuhi.

Eksodus Birokrasi: Dari Kantor Desa ke Proyek Bangunan
Keresahan ini bukan sekadar ancaman lisan. Jay Ali membeberkan fakta lapangan bahwa di beberapa daerah, mantan perangkat desa kini menjadi buruh pabrik. Di Banyuwangi sendiri, tren beralih profesi menjadi kuli bangunan mulai jamak ditemukan demi mendapatkan upah harian yang lebih pasti.

Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi roda pemerintahan desa. Ketika para pelaksana teknis di lapangan memilih keluar, pelayanan publik terancam lumpuh. Perangkat desa yang masih bertahan kini harus memikul beban kerja ekstra di tengah tekanan ekonomi yang menghimpit.

Mendesak Peran DPRD Banyuwangi
Dalam forum RDP tersebut, PPDI meminta komitmen nyata dari para wakil rakyat. Mereka mendesak agar DPRD Banyuwangi segera merumuskan kebijakan lokal atau skema insentif daerah untuk menambal kekurangan pendapatan yang diakibatkan oleh kebijakan efisiensi pusat.

“Kami berharap ada solusi konkret. Kesejahteraan perangkat desa harus tetap terjaga karena kami adalah garda terdepan pemerintahan. Jangan sampai efisiensi anggaran justru mematikan pelayanan di tingkat desa,” pungkas Jay Ali.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 45 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Partisipasi Perempuan Bantarjaya Perkuat Fungsi Pengawasan Desa

29 April 2026 - 20:33 WIB

Jalan Baru Desa Sebongkuh: TNI dan Rakyat Bersatu

29 April 2026 - 04:10 WIB

Emas Hijau Nagari Lawang: Bambu Jadi Penyelamat Ekonomi Desa

28 April 2026 - 14:24 WIB

Kantor Desa Loleo Dibuka: Akhir Tirani Ketertutupan Anggaran

27 April 2026 - 16:54 WIB

Satu Kursi BPD Bantarjaya: Perempuan Mulai Ambil Kendali

26 April 2026 - 14:43 WIB

Jangan Salahkan Lahan: Masyarakatnya yang Tidur, Bukan Tanahnya!

25 April 2026 - 17:21 WIB

Trending di DESA