Singosari, Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Menyusutnya ruang fiskal desa memaksa pemerintah desa memutar otak dalam menyusun strategi pembangunan. Menghadapi tantangan tersebut, Pemerintah Desa Gunung Rejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, memilih memperkuat potensi lokal sebagai mesin baru Pendapatan Asli Desa (PADesa).
Komitmen ini disepakati dalam Musyawarah Desa (Musdes) Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa) Tahun Anggaran 2027 pada Rabu (8/7/2026). Forum tertinggi desa ini menjadi momentum krusial untuk menuntaskan target tahun kedelapan RPJMDes di tengah keterbatasan kapasitas anggaran.
Kepala Desa Gunung Rejo mengungkapkan, proyeksi alokasi anggaran pada tahun terakhir RPJMDes ini hanya berkisar Rp370 juta. Kondisi fiskal yang ketat ini direspon dengan memangkas ketergantungan pada dana transfer pusat dan daerah.
“Kita tidak bisa lagi hanya bertumpu pada APBDesa. Desa harus agresif mencari sumber pendanaan alternatif lewat Pokok Pikiran (Pokir) DPRD, kerja sama antar-desa melalui BKAD, dan yang paling utama mendongkrak PADesa,” tegas Kades Gunung Rejo.
Melon Super dan Wisata Jadi Sektor Unggulan
Guna menggerakkan roda ekonomi dan mengisi kas PADesa, Musdes menetapkan dua sektor komoditas unggulan baru:
Agrobisnis Melon Super: Budidaya buah melon kualitas premium dipilih karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan pangsa pasar yang stabil untuk meningkatkan pendapatan petani lokal.
Destinasi Wisata Ledok Ombo: Kawasan ini diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis masyarakat yang mengintegrasikan sektor UMKM, jasa, dan ekonomi kreatif.
Langkah inovatif ini didukung penuh oleh BPD Gunung Rejo. BPD mendesak agar tim penyusun memprioritaskan anggaran hanya pada program-program kerja yang memiliki dampak ekonomi paling instan dan konkret bagi warga.
Kepatuhan Regulasi dan Isu Sosial
Di sisi lain, Kasi Pemerintahan Kecamatan Singosari mengingatkan agar perencanaan pembangunan tetap adaptif namun patuh pada regulasi. Hal senada ditekankan oleh Pendamping Desa, Syeh Prabudi, yang meminta Tim Penyusun RKP Desa mengunci program kerja agar tetap selaras dengan delapan prioritas penggunaan Dana Desa demi menjaga akuntabilitas anggaran.
Selain fokus pada infrastruktur dan ekonomi, Musdes juga merespons isu kesehatan masyarakat. Bidan desa setempat mendesak alokasi program untuk penekanan angka stunting, pencegahan pernikahan usia dini, serta optimalisasi layanan Posyandu Remaja dan Posyandu Jiwa demi menyiapkan kualitas sumber daya manusia desa yang produktif.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah Founder Forum Handarbeni Singhasari (FONDASI), CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari, serta anggota Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari sejak 2017. Alumni SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) dan Universitas Brawijaya ini juga menjadi Pembina Paguyuban Batik Singosari dan Paguyuban Batik Lawang.
Berbekal pengalaman sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang, ia aktif menulis tentang tata kelola pemerintahan desa, pemberdayaan masyarakat, ekonomi lokal, UMKM, pelestarian budaya, dan pembangunan berbasis potensi desa. Melalui tulisan dan kegiatan pendampingan, ia berkomitmen mendorong lahirnya desa-desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.