Pasaman, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Keheningan Jorong Pertemuan, Nagari Muaro Sungai Lolo, Kabupaten Pasaman, pecah oleh riuh warga saat seekor sapi berukuran masif tiba di lokasi. Sapi berjenis simental dengan bobot mencapai 1,2 ton yang dijuluki “Lambo” ini menjadi pusat perhatian dalam perayaan Idul Adha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/2026). Sapi kurban terbesar milik Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, tersebut seolah menjadi simbol keajaiban bagi masyarakat setempat yang jarang melihat hewan ternak dengan postur tubuh luar biasa.
Amir (57), salah satu warga Jorong Pertemuan, mengaku terpaku saat pertama kali melihat sosok Lambo. “Baru kali ini kami lihat sapi sebesar gajah,” ujarnya. Antusiasme masyarakat tidak hanya berhenti pada ukuran sapi tersebut. Proses penyembelihan yang berlangsung dramatis menjadi pengalaman berharga bagi puluhan warga yang terlibat. Tenaga dan postur tubuh Lambo yang luar biasa membuat warga harus berjibaku, saling bahu-membahu menumbangkan hewan tersebut dengan penuh kekompakan.
Namun, di balik megahnya sosok Lambo, terdapat pesan pembangunan yang lebih mendalam. Kehadiran Vasko Ruseimy di pelosok Mapat Tunggul Selatan ini bukan sekadar ritual ibadah tahunan. Perjalanan menuju lokasi yang memakan waktu dengan medan ekstrem, jalan terbatas, hingga menyusuri jalur sungai yang panjang, menjadi bukti nyata betapa isolasi geografis masih menjadi tantangan utama bagi masyarakat desa di Sumatera Barat.
Namun, di balik kehangatan Idul Adha, realitas infrastruktur di Mapat Tunggul Selatan tetap menjadi ‘pekerjaan rumah’ yang mendesak. Topografi wilayah yang berbukit dengan kontur sungai yang dominan menjadi kendala laten bagi mobilitas ekonomi masyarakat. Ketergantungan pada jalur sungai dan akses jalan yang belum terhubung sepenuhnya dengan standar mantap sering kali memicu inflasi harga barang kebutuhan pokok dan menghambat akses distribusi hasil tani dari desa ke ibu kota kabupaten. Kunjungan pejabat setingkat Wakil Gubernur diharapkan bukan hanya menjadi seremonial belaka, tetapi menjadi stimulus percepatan realisasi proyek infrastruktur strategis yang mampu membuka keterisolasian wilayah Nagari Muaro Sungai Lolo, guna menciptakan konektivitas yang berkelanjutan.
Bagi warga Nagari Muaro Sungai Lolo, kehadiran orang nomor dua di Sumbar ini membawa secercah harapan. Vasko Ruseimy sendiri menyampaikan bahwa momentum ini adalah pengingat akan pentingnya semangat berbagi dan kepedulian sosial yang harus menjangkau hingga ke pelosok negeri.
Lambo memang telah disembelih, namun memori tentang sapi kurban terbesar di tanah Pasaman itu akan terus membekas. Lebih dari sekadar daging kurban, kebersamaan di hari raya ini menjadi medium bagi masyarakat untuk merasa “dilihat” oleh pemerintah. Harapan besar kini tertumpang pada infrastruktur jalan yang lebih baik, agar ke depannya, tidak ada lagi akses yang terlalu ekstrem untuk menempuh kebahagiaan bersama di desa.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.