Ungaran, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Membangun desa wisata ternyata bukan soal mempercantik pemandangan semata, melainkan menyatukan “frekuensi” antara warga lokal dan wisatawan. Hal inilah yang menjadi sorotan tajam Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, saat melakukan audiensi dengan Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, di Rumah Dinas Bupati, Ungaran, Jumat (14/3/2025).
Samuel mengungkapkan sebuah sudut pandang out of the box: kendala terbesar desa wisata di Indonesia bukanlah kurangnya modal atau objek foto, melainkan kesenjangan persepsi. Menurutnya, pemahaman masyarakat desa tentang potensi wisata sering kali belum selaras dengan ekspektasi wisatawan yang datang. Tanpa sumber daya manusia (SDM) yang mampu membaca keinginan pasar, potensi alam yang indah akan sulit dikonversi menjadi pendapatan yang berkelanjutan.
“Kendala utama kita adalah SDM. Persepsi masyarakat desa harus selaras dengan ekspektasi wisatawan agar ada kepuasan yang berujung pada kunjungan berulang,” tegas Samuel.
Efek Domino dan Standar Kebersihan
Samuel menekankan bahwa desa wisata seharusnya menjadi mesin penggerak ekonomi kreatif yang masif. Jika dikelola oleh tangan-tangan yang mumpuni, sektor ini akan memicu efek berganda (multiplier effect) pada UMKM, kuliner lokal, hingga pertunjukan seni. Namun, ia memberikan catatan kritis pada dua hal yang sering terabaikan: kebersihan dan diversifikasi produk.
Wisatawan modern kini jauh lebih peduli pada sanitasi. Selain itu, desa tidak boleh hanya menjual satu jenis produk atau pemandangan saja. Perlu ada keberanian untuk melakukan diversifikasi agar nilai jual desa wisata meningkat dan tidak membosankan.
Kabupaten Semarang: Menuju 84 Desa Wisata
Merespons hal tersebut, Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, mengungkapkan bahwa jumlah desa wisata di wilayahnya terus tumbuh. Dari 75 desa pada tahun sebelumnya, kini telah berkembang menjadi 84 desa wisata. Namun, Ngesti mengakui bahwa kuantitas saja tidak cukup. Banyak desa yang masih terseok-seok melakukan pemulihan pascapandemi COVID-19.
“Harapan kami, desa wisata bisa bangkit kembali. Beberapa memang masih kesulitan dan perlu dipacu lebih keras,” ujar Ngesti.
Bagi Pemerintah Kabupaten Semarang, pengembangan ini bukan sekadar mengejar angka kunjungan. Visi besarnya adalah menciptakan ekosistem desa yang sehat—di mana pariwisata berbanding lurus dengan pengelolaan sampah yang baik, pelestarian seni budaya, dan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa secara mandiri. Dukungan dari pusat melalui Komisi VII DPR RI diharapkan menjadi motor penggerak agar desa wisata di Kabupaten Semarang tidak hanya menjadi tren sesaat, melainkan menjadi pilar ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Redaksi Desa Merdeka

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.