Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

OPINI · 25 Apr 2025 05:31 WIB ·

Saatnya TVRI Buka Pintu untuk Desa dan Warga Bicara


					Saatnya TVRI Buka Pintu untuk Desa dan Warga Bicara Perbesar

Oleh : Suryokoco

Bayangkan suatu hari Anda menyalakan televisi di pagi hari, dan yang muncul bukan sinetron rerun atau berita metropolitan, tapi justru wajah-wajah warga desa di pelosok Indonesia. Mereka sedang melaporkan panen raya, upacara adat, atau bahkan kisah sukses membangun koperasi lokal. Suara-suara seperti ini hampir tak pernah muncul di media nasional, apalagi televisi. Tapi bukankah sudah saatnya mereka punya ruang?

Di tengah gegap gempita media sosial dan derasnya konten hiburan yang seragam, TVRI—sebagai lembaga penyiaran publik—memiliki peluang besar untuk tampil beda dan lebih bermakna. Salah satu caranya adalah dengan membuka ruang partisipasi untuk warga desa melalui program jurnalisme warga, dengan menggandeng Ruang Komunitas Digital Desa (RKDD).

Kenapa RKDD dan TVRI Bisa Jadi Duo Hebat?

RKDD itu semacam “balai desa digital”—ruang bersama tempat warga bisa belajar teknologi, bikin konten, dan berbagi informasi. Konsep ini sudah mulai dirintis di banyak tempat, terutama sejak desa-desa mulai akrab dengan internet dan gawai. Tapi sejauh ini, RKDD lebih banyak digunakan untuk urusan administrasi, pelatihan, atau sekadar akses WiFi.

Bayangkan kalau RKDD ini dikembangkan lebih jauh menjadi unit usaha BUMDes, lalu bermitra dengan TVRI. Artinya, desa bisa menyuplai konten ke TVRI. Isinya? Apa saja yang dekat dengan kehidupan desa: budaya lokal, cerita inspiratif, problem dan solusi warga, hingga wisata alam yang belum terjamah. Ini bukan sekadar konten, tapi cara baru merayakan Indonesia dari pinggiran.

TVRI pun diuntungkan. Sebagai lembaga penyiaran publik, TVRI punya tanggung jawab untuk menyuarakan keberagaman dan mencerdaskan bangsa. Tapi jujur saja, banyak orang masih melihat TVRI sebagai media yang “ketinggalan zaman.” Nah, dengan konten dari desa, TVRI bisa tampil lebih segar, lebih relevan, dan benar-benar milik rakyat.

Asta Cita ke-6: Saat Teknologi Bertemu Desa

Presiden Prabowo dalam Asta Cita ke-6 menekankan pentingnya pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi. Ini bukan jargon kosong. Justru RKDD dan TVRI adalah contoh nyata bagaimana visi itu bisa diwujudkan.

Saat desa punya akses teknologi dan kemampuan membuat konten, mereka bukan lagi objek pembangunan, tapi subjek. Mereka tidak hanya menonton berita tentang Jakarta, tapi bisa mengabarkan tentang desanya sendiri. Mereka tidak hanya diajari, tapi juga mengajarkan—tentang gotong royong, kearifan lokal, dan ketahanan sosial.

Dengan pelatihan yang tepat, anak muda desa bisa jadi jurnalis warga. Bukan jurnalis dalam arti formal, tapi pencerita yang jujur dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka bisa merekam, mengedit, dan mengirimkan konten yang otentik. TVRI tinggal menayangkan. Sederhana, murah, tapi dampaknya besar.

Dari Studio Desa ke Layar Nasional

Bayangkan setiap desa punya “studio kecil.” Tidak perlu mewah, cukup satu kamera, mikrofon, laptop, dan koneksi internet. Anak-anak muda bisa belajar produksi video, podcast, bahkan live report. Semua dilakukan di RKDD—yang dikelola sebagai unit usaha BUMDes.

Unit usaha ini bisa mendapatkan pendapatan dari:

  • Produksi konten untuk TVRI dan platform digital
  • Dokumentasi acara desa dan UMKM
  • Pelatihan media digital untuk sekolah dan warga
  • Jasa promosi wisata dan produk lokal

Ini bukan mimpi. Di beberapa desa, hal serupa sudah mulai dilakukan. Tinggal disambungkan ke jaringan yang lebih besar, seperti TVRI. Kolaborasi ini bisa membentuk ekosistem baru: desa sebagai produsen konten, bukan sekadar konsumen.

Apa Untungnya Buat Desa?

Banyak! Pertama, anak muda desa punya wadah kreatif yang jelas. Daripada main TikTok tanpa arah, lebih baik mereka membuat konten yang membanggakan dan bermanfaat. Kedua, desa bisa punya dokumentasi yang bagus—tentang sejarah, budaya, bahkan pembangunan. Ketiga, desa punya sumber penghasilan baru lewat unit usaha RKDD.

Dan yang paling penting, desa jadi percaya diri. Mereka merasa dilihat, didengar, dan dihargai. Ketika cerita mereka ditayangkan di TVRI, dampaknya bukan hanya rasa bangga, tapi juga semangat untuk terus berkarya.

TVRI: Bukan Hanya Penonton, Tapi Sahabat Desa

TVRI perlu berubah dari sekadar “media pusat” menjadi jembatan antara kota dan desa, antara nasional dan lokal. Caranya? Ya dengan membuka ruang untuk warga berkontribusi. Tak semua harus produksi studio mahal. Justru yang dicari sekarang adalah kejujuran, keaslian, dan cerita dari akar rumput.

Dengan kemitraan ini, TVRI tidak hanya mengisi slot tayangan, tapi juga membangun gerakan. Gerakan masyarakat sadar informasi, gerakan anak muda kreatif, gerakan desa berbicara.

Kapan Dimulai? Sekarang.

Program ini bisa dimulai dari pilot project di beberapa desa per provinsi. TVRI cukup menyediakan slot tayangan mingguan, misalnya “Cerita dari Desa” atau “TVRI DesaOLE.” Sementara BUMDes membentuk RKDD sebagai unit usaha, menyediakan fasilitas dan pelatihan, mungkin dibantu Kemendesa atau Kominfo.

Lalu, konten mulai dikirim, dikurasi, dan ditayangkan. Hasilnya akan berbicara sendiri. Tak lama, desa-desa lain pasti tertarik bergabung. Ini gerakan yang bisa tumbuh secara organik.

Kesimpulan: Jangan Tunggu, Ajak Desa Bicara Sekarang

Kalau kita ingin Indonesia maju, kita tak bisa hanya bertumpu pada kota. Desa adalah fondasi bangsa ini. Dan teknologi adalah jembatan menuju masa depan. Melalui RKDD dan TVRI, kita bisa membangun jembatan itu—bukan dari beton, tapi dari cerita, suara, dan partisipasi warga.

Saatnya TVRI berubah dari menara gading menjadi rumah bersama. Saatnya desa tidak hanya jadi objek berita, tapi juga penulis ceritanya. Dan saatnya kita semua menyadari: bahwa kekuatan Indonesia bukan hanya di pusat, tapi juga di pinggiran yang bersinar.

Mari kita mulai dari satu studio kecil di satu desa. Lalu biarkan cahaya itu menyebar ke seluruh nusantara.

 

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 42 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Bahaya Laten Gotong Royong Sandiwara di Desa Kita

18 April 2026 - 09:01 WIB

Ketika Rumah Ibadah Masuk Proyek: Korupsi yang Menyelinap dalam Kesalehan

18 April 2026 - 08:45 WIB

Foto: Kedua tersangka dugaan korupsi ditahan Kejari Klaten. (Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)

Hegemoni Kota: Saat Suara Warga Desa Jadi Figuran

15 April 2026 - 21:56 WIB

Bukan Cuma Musrenbang, Google Kini Bantu Bangun Desa

15 April 2026 - 01:36 WIB

Nasib Plasma Menjelutung: Menanti Keadilan di Tengah Jeratan Hutang

12 April 2026 - 13:05 WIB

Berhenti Jadi Laporan: Saatnya Cerita Desa Bicara Dunia

11 April 2026 - 16:39 WIB

Trending di OPINI