
Singosari, Malang [DESA MERDEKA] – Rumah Desa Sehat Banjararum(RDS) menetapkan target ambisius untuk menurunkan jumlah balita gizi buruk hingga 50 persen pada 2027. Dari total 256 balita yang tercatat di desa tersebut, sebanyak 28 balita masih memerlukan perhatian khusus terkait pemenuhan gizi dan kesehatan. Melalui forum RDS, pemerintah desa bersama masyarakat menargetkan jumlah tersebut turun menjadi 14 balita pada tahun depan.
Target tersebut lahir dalam Musyawarah RDS yang melibatkan kader PKK, Posyandu, PAUD, Kader Pembangunan Manusia (KPM), kelompok lansia, pendamping desa, serta pemerintah desa.
RDS Banjararum Luncurkan Gerakan Peduli Gizi
Peserta musyawarah tidak hanya membahas persoalan kesehatan. Mereka juga menyepakati sejumlah terobosan untuk mempercepat penanganan gizi buruk dan pencegahan stunting.
Salah satu program unggulan adalah Gerakan Satu Rumah Peduli Anak Kurang Gizi. Melalui gerakan ini, warga yang mampu didorong membantu pemenuhan gizi anak-anak di lingkungan sekitarnya dengan pemberian makanan bergizi, terutama telur.
Selain itu, peserta mengusulkan pola orang tua asuh dengan melibatkan dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Skema tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan bantuan bagi keluarga yang memiliki anak berisiko gizi buruk.
Kader Posyandu dan PKK berdiskusi dalam musyawarah kesehatan desa Banjararum
Rumah Desa Sehat Banjararum Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga
Forum juga menyepakati gerakan Satu Rumah Satu Tanaman KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari). Melalui program ini, setiap keluarga didorong menanam sayuran atau tanaman pangan yang dapat mendukung kebutuhan gizi rumah tangga.
Di sisi lain, pemerintah desa berkomitmen mengoptimalkan APBDesa untuk mendukung intervensi kesehatan masyarakat. Pemerintah desa akan memperkuat Posyandu, menyediakan alat ukur terstandar, meningkatkan kapasitas kader kesehatan, serta memperluas pemberian makanan tambahan bagi balita yang membutuhkan.
Diskusi berlangsung hangat dan penuh gagasan. Setiap kelompok menyampaikan usulan berdasarkan kondisi riil di lapangan. Setelah melalui pembahasan yang cukup panjang, seluruh peserta akhirnya menyepakati langkah bersama untuk mempercepat penurunan kasus gizi buruk.
Forum tersebut kini tidak hanya menjadi forum musyawarah tahunan. Forum ini berkembang menjadi gerakan bersama yang mengajak masyarakat, pemerintah desa, dan dunia usaha untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan tumbuh sehat dan berkualitas.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah praktisi usaha dan pegiat pemberdayaan masyarakat yang berdomisili di Singosari, Kabupaten Malang. Alumnus SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) tahun 1994 & Universitas Brawijaya 1998,Saat ini menjabat sebagai CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari. Selain aktif di bidang kewirausahaan, ia juga mengemban amanah sebagai Ketua Forum Handarbeni Singhasari (Fondasi), Pembina Paguyuban Batik Singosari, Pembina Paguyuban Batik Lawang, serta menjadi bagian TPP Kecamatan Singosari sejak tahun 2017
Memiliki pengalaman di bidang jurnalistik sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang,memiliki perhatian besar terhadap pengembangan ekonomi lokal, pelestarian budaya, UMKM, dan pembangunan berbasis potensi masyarakat. Melalui berbagai kegiatan dan tulisan, ia berupaya mendorong kemandirian ekonomi, penguatan kelembagaan masyarakat, serta pelestarian warisan budaya lokal untuk mendukung kemajuan desa dan daerah.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.