Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

SOSBUD · 26 Apr 2023 14:39 WIB ·

Ribuan Perantau Sragen Mudik, Bawa Mobil dari Luar Jawa


					Warga mengendarai motor melintasi gapura gerbang masuk Desa Pengkok, Kecamatan Kedawung, Sragen, Selasa (25/4/2023). (Image courtesy: Solopos.com) Perbesar

Warga mengendarai motor melintasi gapura gerbang masuk Desa Pengkok, Kecamatan Kedawung, Sragen, Selasa (25/4/2023). (Image courtesy: Solopos.com)

Tradisi Mudik Lebaran: 1.500 Perantau Desa Pengkok dan Sepat Sragen Pulang Kampung

Sragen, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Momen Idulfitri 1444 H/Lebaran 2023 menjadi waktu yang dinanti ribuan warga perantau asal dua desa di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Sekitar 1.500 perantau asal Desa Pengkok, Kecamatan Kedawung, dan sedikitnya 500 perantau dari Desa Sepat, Kecamatan Masaran, dilaporkan telah melakukan tradisi mudik ke kampung halaman mereka. Uniknya, para pemudik ini tidak hanya berasal dari wilayah Jabodetabek, melainkan dari berbagai penjuru Nusantara, termasuk membawa kendaraan pribadi dari pulau-pulau jauh.

Anggota DPRD Sragen, Sugiyarto, yang juga warga Desa Pengkok, mengungkapkan bahwa total warga Pengkok yang merantau mencapai 1.800-an orang. Pada Lebaran kali ini, 1.500-an perantau pulang kampung. Mayoritas perantau Pengkok dikenal sebagai pedagang peralatan dapur dan pakaian.

Kedatangan Perantau dari Sumatera hingga Bali
Sugiyarto menyebut pemudik asal Pengkok datang dengan berbagai moda transportasi, termasuk angkutan umum dan mobil pribadi. “Kurang lebih ada 100 orang yang mudik membawa mobil pribadi,” jelasnya saat diwawancarai di sela mudiknya di Boyolali pada Selasa (25/4/2023).

Para pemudik yang membawa mobil pribadi ini umumnya datang dari perantauan yang jauh, seperti Sumatera, Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, dan Jakarta. Meski demikian, ia menambahkan bahwa jumlah perantau Pengkok yang berdomisili di Jakarta hanya sekitar 300 orang, mengindikasikan sebaran perantau yang luas di luar ibu kota.

Setibanya di kampung halaman, para perantau Desa Pengkok memiliki tradisi unik. Mereka biasa menggelar halalbihalal berdasarkan wilayah perantauan, seperti keluarga Manado, keluarga Bali, atau keluarga Palembang.

Tantangan Ekonomi dan Jadwal Balik Perantau
Sugiyarto juga menyinggung kondisi ekonomi para perantau yang mayoritas adalah pedagang. “Sejak pandemi Covid-19, jualan mereka sampai sekarang masih agak sulit. Di perantauan itu ada yang berhasil dan ada yang belum berhasil,” katanya.

Terkait jadwal balik ke perantauan, sebagian perantau yang bekerja sebagai pegawai swasta sudah mulai kembali lebih awal. Namun, para perantau yang berprofesi sebagai pedagang cenderung menunda keberangkatan mereka. Sugiyarto menjelaskan penundaan ini karena para pedagang masih memanfaatkan waktu di Sragen untuk belanja dan kulakan barang dagangan yang akan mereka jual kembali di perantauan.

Desa Sepat Didatangi Pemudik dari Ambon hingga NTT
Kondisi mudik yang masif juga terjadi di Desa Sepat, Kecamatan Masaran. Tokoh masyarakat Desa Sepat, Budiono Rahmadi, menyampaikan bahwa sekitar 500 warga perantauan dari desanya juga mudik.

Menurut politikus Partai Demokrat tersebut, para perantau Sepat datang dari lokasi yang sangat beragam dan jauh. “Uniknya mereka ini datang dari berbagai penjuru Indonesia. Ada yang dari Ambon, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Lombok, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Medan,” ungkapnya, menunjukkan betapa luasnya sebaran warga Sragen yang mencari penghidupan di luar Jawa.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

UMKM Lokal Hidupkan Festival Kuliner 100 Tahun Jam Gadang

21 Juni 2026 - 22:20 WIB

Ritual Sedekah Gunung, Kekuatan Budaya Warga Desa Lencoh

18 Juni 2026 - 04:22 WIB

Muharam di Desa: Momentum Revolusi Mental dan Etos Kerja

17 Juni 2026 - 15:31 WIB

Mandeh Siti Manggopoh, Inspirasi Pembangunan Desa Agam Modern

16 Juni 2026 - 13:46 WIB

Prasasti Kuno Buktikan Akar Sejarah Literasi Desa Nusantara

14 Juni 2026 - 08:22 WIB

Batik Singosari: Dari Sebatang Lilin Menuju Pengakuan Nasional

14 Juni 2026 - 05:43 WIB

Trending di SOSBUD