Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

EKBIS · 12 Nov 2025 15:02 WIB ·

Pulang Kampung, Eks-Mahasiswa Australia Bangkitkan Ekonomi Perempuan Desa


					Tri Buana Desy Ariyanti, pendiri KRAOSAN, menunjukkan salah satu produk anyaman bambu hasil karya pengrajin desa di Borobudur, Magelang. Melalui KRAOSAN, Desy memberdayakan perempuan desa agar mandiri (Image courtesy: JAWA POS RADAR MAGELANG) Perbesar

Tri Buana Desy Ariyanti, pendiri KRAOSAN, menunjukkan salah satu produk anyaman bambu hasil karya pengrajin desa di Borobudur, Magelang. Melalui KRAOSAN, Desy memberdayakan perempuan desa agar mandiri (Image courtesy: JAWA POS RADAR MAGELANG)

Desy Ariyanti Dirikan KRAOSAN, Ubah Anyaman Bambu Magelang Jadi Produk Ekspor

Mungkid, Magelang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Tri Buana Desy Ariyanti, seorang perempuan inspiratif asal Magelang, memilih kembali ke desanya setelah merampungkan studi S2 Small and Micro Enterprises (UMKM) di Monash University, Melbourne, Australia. Kepulangan Desy bukan untuk mencari kenyamanan, melainkan membawa semangat perubahan bagi perempuan desa agar mencapai kemandirian ekonomi melalui potensi lokal. Melalui KRAOSAN, sebuah usaha sosial berbasis kerajinan bambu, Desy mengubah anyaman tradisional menjadi gerakan pemberdayaan perempuan desa yang kini produknya menembus pasar internasional.

Desy, yang juga alumni S1 Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB, merasa terpanggil untuk berkontribusi langsung di kampung halamannya. Kekhawatiran Desy muncul setelah melihat ketimpangan pendidikan dan ekonomi yang dialami banyak perempuan di desanya.

“Saya menempuh pendidikan sekitar 18 tahun, sedangkan kebanyakan di sini hanya tujuh tahun. Ketimpangan itu yang membuat saya khawatir,” tuturnya.

Kekhawatiran tersebut diperkuat data pada tahun 2019 yang mencatat hampir 2.000 (1.972) kasus pernikahan dini di Kabupaten Magelang. Fakta ini mendorong Desy mencari cara konkret untuk menciptakan ruang aman dan memberdayakan perempuan secara ekonomi.

KRAOSAN: Dari Hampers Makanan ke Bisnis Sosial Bambu
Awalnya, pada 2019 Desy mendirikan usaha makanan bernama Raos Magelang. Namun, pandemi COVID-19 pada 2020 memaksa ia putar otak karena penjualan anjlok drastis. Berawal dari ide membuat hampers saat pandemi, Desy justru menemukan peluang baru. Banyak pelanggan yang lebih tertarik pada wadah bambu buatan lokal daripada isi makanannya.

“Banyak yang nanya, bisa beli wadahnya aja nggak? Akhirnya saya bikin brand baru KRAOSAN – Craft by Raos Artisan,” jelasnya.

Melalui KRAOSAN, yang kini berbentuk PT KRAOSAN Inovasi Kreatif, ia mengajak para perempuan di desa, termasuk dari Kecamatan Windusari dan Sleman, untuk menganyam bambu menjadi produk bernilai tinggi. KRAOSAN menghasilkan sekitar 30 varian produk (SKU) kerajinan, mulai dari besek eksklusif, kotak hampers, hingga kerajinan dekoratif. Produk andalan mereka, seperti Sarayu Jar dan besek eksklusif, kini diminati pasar lokal maupun internasional.

Pemberdayaan dan Keadilan Harga untuk Pengrajin
Desy menyadari tantangan terbesar dalam pemberdayaan ini adalah mengubah pola pikir masyarakat agar yakin inovasi membawa hasil. Ia meyakini, perubahan dimulai dari mereka yang berani mencoba dan menjadi bukti nyata.

Dalam penentuan harga, KRAOSAN menerapkan pendekatan partisipatif dengan melibatkan 20 mitra pengrajin secara langsung. “Kita duduk bersama, menentukan harga yang adil. Karena yang dinilai bukan hanya bahan, tapi juga waktu, tenaga, dan keterampilan,” kata Desy. Pendekatan ini membuat produk KRAOSAN dihargai hingga 13 kali lipat dari harga produk sejenis di pasar lokal, menunjukkan apresiasi yang tinggi terhadap kualitas dan jerih payah pengrajin.

Keberanian Desy terbukti dengan keberhasilan menembus pasar internasional. Sekitar 80 persen produk KRAOSAN telah diekspor ke Malaysia, dan saat ini KRAOSAN tengah menyiapkan ekspansi ke pasar Eropa yang memiliki kesadaran tinggi terhadap produk ramah lingkungan. Desy optimistis, model bisnis sosial yang dijalankannya dapat berkembang luas pada tahun 2026.

Lebih dari sekadar peningkatan pendapatan, pada tahun 2024 KRAOSAN juga menyalurkan beasiswa bagi anak-anak para pengrajin. Hal ini dilakukan agar anak-anak mereka dapat melanjutkan pendidikan dengan lebih tenang, sesuai dengan prinsip Desy yang menekankan pentingnya pendidikan bagi perempuan untuk “memerdekakan pikiran dari banyak stigmatisasi sosial.”

Selain KRAOSAN, Desy juga menggagas inisiatif sosial lain, yaitu Obaho Movement (fokus sosial dan pendidikan anak muda desa) dan Obaho Charity Shop (toko amal untuk mendukung program sosial). Hal ini memperkuat komitmen Desy bahwa keberhasilan bukan hanya tentang bisnis, melainkan dampak sosial yang ditimbulkan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 10 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Dialog Sawit: Cara Sumbar Hindari Gesekan Pajak Air Permukaan

11 April 2026 - 12:27 WIB

Pajak Air Sawit: Antara Keuntungan Perusahaan dan Hak Desa

11 April 2026 - 12:08 WIB

UMKM Sundawenang Naik Kelas: Strategi Digital di Balai Desa

11 April 2026 - 02:09 WIB

Jangan Tunggu Viral: Merek Adalah Perisai UMKM Desa

7 April 2026 - 20:16 WIB

Menenun Identitas Ranah Minang Melalui Proteksi Kekayaan Intelektual

6 April 2026 - 16:41 WIB

Pemuda Kepulungan Pilih Bebek: Solusi Cuan Luar Pabrik

6 April 2026 - 08:17 WIB

Trending di EKBIS