Kampar, Riau [DESA MERDEKA] – Menjelang Ramadhan 1446 H, Desa Pulau Birandang di Kecamatan Kampa berubah menjadi pusat rekonsiliasi sosial. Tradisi “Pulang Basamo” yang digelar pada Sabtu (22/2/2025) bukan sekadar mudik biasa, melainkan sebuah gerakan pembersihan hati kolektif melalui ziarah kubur dan silaturahmi massal sebelum memasuki bulan suci.
Berpusat di Pemakaman Umum Tompat Kae, ribuan warga lokal dan perantau berkumpul untuk mendoakan leluhur sekaligus saling bermaafan. Tradisi ini menjadi unik karena diinisiasi oleh Forum Masyarakat Peduli Desa Pulau Birandang (FMPDP) sebagai jembatan emosional antara warga di desa dengan mereka yang mengadu nasib di perantauan.
Ziarah Sebagai Terapi Spiritual dan Sosial
Camat Kampa, Rahmad Fajri, dalam sambutannya menekankan bahwa esensi “Pulang Basamo” kali ini adalah persiapan mental. Menurutnya, kesiapan menyambut Ramadhan dimulai dari hati yang lapang.
“Dengan saling bersalaman dan bersilaturahmi dalam momen ziarah ini, hati menjadi bersih. Inilah modal utama kita menjalankan ibadah puasa nanti,” jelasnya.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan surah Yasin, tahlil, dan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Muhammad Faisal, Lc. Menariknya, kegiatan ini juga menjadi ajang berbagi; sebanyak 62 anak yatim menerima santunan, dan para penggali kubur—sosok yang sering terlupakan—mendapat apresiasi berupa baju batik sebagai bentuk penghargaan atas jasa mereka.

Integritas Tradisi di Era Modern
Kepala Desa Pulau Birandang, Tomas Renaldo, mencatat antusiasme tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Baginya, fenomena perantau yang rela pulang hanya untuk berziarah membuktikan bahwa ikatan batin dengan tanah kelahiran masih sangat kuat.
Ketua FMPDP, H. Burhanudin, menyebutkan bahwa gerakan ini merupakan pelaksanaan tahun kelima sejak dimulai pada 2021. Konsistensi ini menunjukkan bahwa Desa Pulau Birandang berhasil membangun ekosistem kolaborasi antara tokoh adat, agama, pemuda, dan pemerintah desa.
Acara ditutup dengan tradisi makan bersama, yang secara filosofis melambangkan kesetaraan dan persatuan. Di sini, sekat antara perantau sukses dan warga lokal melebur dalam satu nampan, menciptakan rida dan keberkahan hidup sebelum fajar pertama Ramadhan menyingsing.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.