Jakarta [DESA MERDEKA] – Kekhawatiran akan resesi global kembali menghantui, membangkitkan memori kelam Depresi Besar 1929. Dr. Handi Risza Idris, Wakil Rektor Universitas Paramadina, menyampaikan pandangan ini dalam diskusi daring bertajuk “Trump Trade War: Menyelamatkan Pasar Modal, Menyehatkan Ekonomi Indonesia” (11/4/2025). Beliau menyoroti kebijakan tarif kontroversial mantan Presiden AS Donald Trump sebagai pemicu utama turbulensi di pasar modal global, termasuk Indonesia.
Menyikapi gejolak ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tertekan. Bursa Efek Indonesia (BEI) di bawah kepemimpinan Direktur Utama Iman Rachman bergerak cepat dengan serangkaian langkah taktis. Salah satu langkah andalan BEI adalah pemberlakuan trading halt atau penghentian sementara perdagangan yang diterapkan pada 18 Maret dan 8 April 2025. Langkah ini dinilai efektif meredam kepanikan investor dan memberikan waktu bagi pasar untuk stabilisasi.
“Selain trading halt, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengeluarkan kebijakan strategis lain, seperti penundaan short selling, kemudahan buyback saham tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), serta penyesuaian batas Auto Rejection Bawah (ARB),” tegas Iman Rachman. Beliau menambahkan bahwa langkah-langkah ini bertujuan mengurangi tekanan jual dan memulihkan kepercayaan investor di tengah volatilitas pasar.
Strategi Jangka Panjang BEI: Diversifikasi Produk dan Infrastruktur Modern
BEI tidak hanya fokus pada respons jangka pendek. Strategi jangka panjang juga disiapkan untuk memperkuat ketahanan pasar modal Indonesia. Diversifikasi produk menjadi prioritas, dengan pengembangan instrumen investasi baru seperti Single Stock Future, Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas, dan Structured Warrant (SW).
Peningkatan efisiensi dan kualitas proses Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) juga menjadi fokus untuk menarik lebih banyak perusahaan berkualitas melantai di bursa. Selain itu, BEI terus berupaya meningkatkan likuiditas pasar dan memodernisasi infrastruktur perdagangan untuk menciptakan pasar modal yang inklusif dan kompetitif secara global.
Ekonom Ingatkan Fleksibilitas Kebijakan Pemerintah
Ekonom senior INDEF, Dr. Aviliani, menekankan bahwa ketidakpastian ekonomi global adalah realitas yang tak terhindarkan. Beliau mengkritisi sistem pengambilan kebijakan di Indonesia yang dinilai kurang adaptif terhadap perubahan global yang cepat. Aviliani menyarankan pemerintah dan otoritas terkait untuk lebih responsif terhadap dinamika kebijakan global, serta memperkuat negosiasi bilateral dan kolaborasi dengan dunia usaha.
Aviliani juga menyoroti potensi konsumsi kelas menengah atas sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, namun mengingatkan pentingnya reformasi kebijakan subsidi agar lebih tepat sasaran kepada kelompok masyarakat yang lebih membutuhkan.
Dampak Tarif AS Terbatas, Resiliensi Pasar Modal Terjaga
Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Dr. Oki Ramdhana, berpendapat bahwa dampak langsung kebijakan tarif AS terhadap ekonomi Indonesia relatif kecil mengingat porsi ekspor ke AS yang tidak signifikan. Struktur ekonomi Indonesia yang cenderung lebih domestik dinilai menjadi keuntungan dalam menghadapi gejolak eksternal. Meski demikian, kewaspadaan terhadap ketidakpastian global tetap penting, dengan fokus pada menjaga persepsi positif internasional terhadap stabilitas Indonesia dan memperdalam pasar keuangan domestik.
Waspada Krisis Eksternal, Pemerintah Harus Kalibrasi Kebijakan
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengingatkan bahwa kinerja IHSG saat ini sangat dipengaruhi oleh sentimen global. Beliau menyoroti potensi risiko krisis eksternal, termasuk kekhawatiran fiskal AS dan tantangan ekonomi bagi pemerintahan mendatang di Indonesia. Wijayanto mendesak pemerintah untuk segera mereview kebijakan ekonomi dan mengkalibrasi program-program besar agar sesuai dengan kondisi riil ekonomi Indonesia, serta mendorong reformasi pasar modal sebagai motor penggerak pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.
Dengan langkah-langkah antisipasi yang komprehensif dan respons cepat dari berbagai pihak, Indonesia berupaya meminimalisir dampak negatif dari ketidakpastian ekonomi global dan menjaga stabilitas pasar modal serta fundamental ekonomi nasional. Sinergi dan adaptabilitas menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan global di masa depan.

Penggiat Desa. Lakukan yang Perlu saja (Prioritas).
Kita Gak perlu memenangkan semua Pertempuran.
Tinggal di Padang Pariaman, Sumatera Barat.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.