Labuha, Halmahera Selatan [DESA MERDEKA] — Dampak bencana banjir bandang yang melanda Kota Labuha, Bacan, dan sekitarnya pada Minggu, 22 Juni 2025, tak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga ancaman serius terhadap kesehatan warga terdampak. Dinas Kesehatan (Dinkes) Halmahera Selatan melaporkan adanya 21 jenis penyakit yang berpotensi menyerang korban banjir, sebuah indikasi bahwa fase pasca-bencana memerlukan perhatian khusus pada aspek kesehatan masyarakat. Data alarm ini diperoleh dari posko utama tanggap darurat dan diterima oleh Desa Merdeka pada Sabtu, 28 Juni 2025.
Banjir besar menyebabkan genangan air, lumpur, dan kondisi sanitasi yang buruk, menciptakan lingkungan ideal bagi penyebaran berbagai penyakit. Hal ini menjadi tantangan besar bagi otoritas kesehatan setempat. Kepala Dinas Kesehatan Halmahera Selatan, Asia Hasyim, mengonfirmasi temuan ini pada Sabtu (28/6/2025), menjelaskan bahwa tim medis telah bergerak cepat mendiagnosis dan menangani puluhan warga yang mulai menunjukkan gejala penyakit.
Spektrum Penyakit yang Menyerang Korban Banjir
Dari laporan yang dihimpun, sejumlah penyakit telah terdeteksi menyerang warga korban banjir. Beberapa jenis penyakit yang paling umum dan membutuhkan penanganan segera antara lain:
* Mialgia (nyeri otot): Terjadi pada 6 kasus. Nyeri otot seringkali dialami akibat kelelahan fisik selama proses evakuasi dan pembersihan pasca-banjir, serta paparan air dingin.
* Febris (demam): Tercatat 5 kasus. Demam bisa menjadi indikator awal dari berbagai infeksi yang disebabkan oleh paparan bakteri atau virus di lingkungan yang kotor.
* Hipertensi (HT): Ditemukan pada 4 kasus. Stres dan kelelahan akibat bencana dapat memicu peningkatan tekanan darah pada penderita hipertensi.
* Batuk dan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut): Masing-masing 3 kasus. Paparan debu, kelembapan, dan kualitas udara yang buruk di area pengungsian atau rumah yang basah meningkatkan risiko infeksi pernapasan.
* Sefalgia (sakit kepala): Terdeteksi pada 3 kasus. Sefalgia bisa menjadi gejala penyakit lain atau akibat dari stres dan kurangnya istirahat.
* Luka (Vulnus): Ditemukan pada 3 kasus. Luka terbuka rentan terinfeksi bakteri dari air banjir yang kotor.
* General Weakness (lemah badan): Tercatat 2 kasus. Kondisi ini sering diakibatkan oleh kurangnya nutrisi, kelelahan, dan stres pasca-bencana.
Selain penyakit-penyakit yang dominan tersebut, terdapat pula beberapa kasus tunggal yang juga mengkhawatirkan, seperti diare, dispepsia (gangguan pencernaan), karies gigi, gingivitis (radang gusi), gout, hiperurisemia, nyeri perut, parestesia, dugaan masalah perut (susp abdomen), tonsilitis, vertigo, dan muntah. Keberagaman jenis penyakit ini menunjukkan kompleksitas masalah kesehatan yang harus dihadapi pasca-bencana.
Respon Cepat Tim Medis Dinkes Halmahera Selatan
Menyikapi ancaman ini, Dinas Kesehatan Halmahera Selatan tidak tinggal diam. Asia Hasyim menjelaskan bahwa warga yang didiagnosis dengan berbagai penyakit tersebut sedang dalam penanganan intensif tim medis yang bekerja non-stop di posko bencana. “Pasien yang dapat ditangani langsung di posko berstatus rawat jalan. Mereka diberikan obat melalui posko kesehatan yang telah disiapkan,” ujarnya. Ini memastikan akses cepat terhadap pengobatan awal.
Bagi warga yang memerlukan penanganan lebih lanjut atau perawatan intensif, Dinkes akan segera merujuknya ke RSUD Labuha agar mendapatkan perawatan maksimal. Langkah ini merupakan bentuk antisipasi untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Tim Dinkes telah dikerahkan ke lapangan sejak Senin, 23 Juni 2025, sehari setelah banjir. Mereka tidak hanya siaga di posko utama, tetapi juga turun langsung ke beberapa titik pengungsian dan mengunjungi rumah-rumah warga terdampak untuk melakukan pengecekan kesehatan dan memberikan pengobatan awal. “Langkah ini merupakan bentuk respons cepat tim medis untuk mencegah meluasnya penyakit pasca-banjir,” tandas Asia Hasyim.
Dengan upaya cepat dan tepat dari tim medis, serta dukungan penuh dari berbagai pihak, diharapkan kondisi kesehatan warga terdampak banjir segera membaik dan tidak ada penyakit baru yang muncul atau meluas akibat bencana ini. Kesehatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam fase pemulihan ini.
Disclaimer Berita: Artikel ini disusun berdasarkan data dan pernyataan resmi dari Dinas Kesehatan Halmahera Selatan terkait dampak kesehatan pasca-banjir di Labuha, Bacan. Informasi yang disajikan bertujuan untuk memberikan edukasi dan pemahaman kepada publik mengenai kondisi kesehatan warga terdampak bencana. Perkembangan situasi di lapangan dapat berubah sewaktu-waktu.

Activity:
•Reporter •Advocate (Kandidat Notaris PPAT) •Konsultan Pendidikan Nawala Education (Overseas Study Advisor – Nawala Education) •Lecturer
Experience:
•Reporter & News Anchor TVRI •Medical Reps. Eisai Indonesia •HRD Metro Selular Nusantara
***
“Penghargaan paling tinggi bagi seorang pekerja keras bukanlah apa yang dia peroleh dari pekerjaan itu, tapi seberapa berkembang ia dengan kerja kerasnya itu.” – John Ruskin


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.