Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

EKBIS · 9 Feb 2025 12:22 WIB ·

Mojowono Deklarasi Kampung Mbako Lewat Gudang Pengolahan Baru


					<em>Kepala Desa Mojowono, Maretsa Ayu Widyah</em> Perbesar

Kepala Desa Mojowono, Maretsa Ayu Widyah

Mojokerto, Jawa Timur [DESA MERDEKA] Langkah berani diambil Pemerintah Desa (Pemdes) Mojowono, Kecamatan Kemlagi, untuk memutus rantai ketergantungan petani pada fluktuasi harga pasar. Sebuah gudang penyimpanan dan pengolahan tembakau berukuran 7×30 meter kini berdiri kokoh, menjadi simbol transformasi desa ini menjadi “Kampung Mbako” yang mandiri di Kabupaten Mojokerto.

Kehadiran fasilitas ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan strategi ekonomi untuk menjaga nilai tawar petani setempat. Dengan adanya ruang penyimpanan yang representatif, petani tidak lagi terburu-buru menjual hasil panennya dalam kondisi harga jatuh.

“Untuk menstabilkan harga, kami usulkan pembangunan gudang penyimpanan tembakau, dan saat ini sudah berdiri,” ujar Kepala Desa Mojowono, Maretsa Ayu Widyah.

Bangunan gudang penyimpanan tembakau di Desa Mojowono telah rampung dibangun. (Image cortesy: jprm)

Emas Hijau di Atas Lahan 17 Hektare
Desa Mojowono dianugerahi karakter tanah yang sangat ramah bagi tanaman tembakau. Di atas lahan seluas 17 hektare, sebanyak 103 petani menggantungkan hidupnya pada tanaman bahan baku rokok ini. Dusun Segawe tercatat sebagai titik produktivitas tertinggi yang menyuplai tembakau kualitas prima setiap tahunnya.

Tingkat kegagalan tanam yang rendah dan tren peningkatan volume panen tembakau basah menjadi alasan kuat bagi Pemdes untuk melangkah lebih jauh: Branding Lokal. Maretsa mengungkapkan ambisinya untuk mematenkan merek tembakau asli Mojowono agar memiliki identitas yang kuat di pasar nasional.

“Rencana memang ada branding tembakau sebagai ikon desa. Kami ingin masyarakat terlibat langsung mengangkat hasil komoditas ini,” tambahnya.

Perangkat Desa Mojowono meninjau tempat pengolahan hasil tembakau petani setempat. (Image courtesy: jprm)

Perlindungan Pekerja di Balik Asap Tembakau
Selain infrastruktur dan rencana merek dagang, aspek kemanusiaan menjadi prioritas utama. Pemdes Mojowono menyadari bahwa petani adalah pilar utama ekonomi desa. Oleh karena itu, jaminan kesejahteraan sosial diberikan secara konkret.

Tahun ini, para petani tembakau resmi didaftarkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan melalui fasilitas Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Mojokerto. Tak hanya itu, para buruh tani juga terus diusulkan sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT).

Melalui sinergi antara pembangunan gudang, penguatan merek, dan jaminan sosial, Mojowono kini bersiap naik kelas. Dari sekadar desa penghasil, menjadi pusat industri tembakau rakyat yang berdaulat dan sejahtera.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 159 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kisah Sukses Marno Kembangkan Bakso Lewat Bimtek

25 Juni 2026 - 15:53 WIB

Bukan Cuma Berburu Turis, Ini Wajah Baru Pariwisata Masa Depan!

31 Mei 2026 - 01:38 WIB

Internet Rakyat: Senjata Baru BUMDesa Sragen Mandiri Digital

30 Mei 2026 - 18:42 WIB

Perangkat Internet Rakyat di Acara GAS 2026

Samsat Budiman: BUMDesa Gesit Amankan Pajak Desa

30 Mei 2026 - 12:22 WIB

Pelayanan Pembayaran Pajak Kendaraan Samsat Budiman

Strategi GAS Sragen 2026 Dongkrak Pendapatan Daerah

29 Mei 2026 - 16:44 WIB

Government Auto Show 2026 di Gedung Sasana Manggala Sukowati Sragen

Hilirisasi Pinang Lima Puluh Kota Menembus Pasar Ekspor

29 Mei 2026 - 10:45 WIB

Trending di EKBIS