Opini [DESA MERDEKA] – Ketika kita bicara desa, yang terbayang biasanya sawah menghijau, jalan setapak yang tenang, dan masyarakat yang guyub rukun. Tapi coba melangkah sedikit ke pinggiran kota-kota besar: banyak desa yang wajahnya sudah berbeda. Ada perumahan klaster, minimarket berjajar, ojek online lalu-lalang, bahkan pabrik besar berdiri gagah di tengahnya. Desa masih ada secara administratif, tapi karakternya sudah bercampur dengan perkotaan.
Inilah yang disebut desa perkotaan—wilayah desa yang secara hukum tetap desa, tetapi sudah menyerap banyak ciri khas kota. Fenomena ini menarik, sekaligus menantang: bagaimana desa tetap maju, menikmati infrastruktur modern, tapi tidak kehilangan roh gotong royong dan identitasnya?
Desa Perkotaan: Antara Status dan Karakter
Secara hukum, desa berbeda dengan kelurahan. Kepala desa dipilih langsung oleh rakyat, ada BPD, ada musyawarah desa, ada otonomi yang lebih luas. Di kelurahan, lurah adalah pejabat yang ditunjuk dan ruang partisipasi warga lebih terbatas.
Nah, ketika sebuah desa masuk dalam kawasan kota, ia tetap memegang hak-hak itu. Bedanya, warga sudah tidak lagi mayoritas bertani. Lahan sawah berubah jadi perumahan, kios, gudang logistik. Kehidupan sehari-hari mereka lebih menyerupai masyarakat kota, tapi sistem sosial politiknya masih desa.
Situasi ini memberi dua sisi mata uang: peluang dan tantangan.
Peluang yang Membentang
Pertama, soal ekonomi. Warga desa perkotaan umumnya bekerja di sektor non-pertanian: berdagang, jadi buruh pabrik, jasa transportasi, atau membuka usaha kuliner. Potensi ini bisa dikelola lewat koperasi desa atau BUMDes. Dengan pasar kota yang dekat, produk desa bisa lebih cepat dikenal.
Kedua, desa perkotaan punya lokasi strategis. Banyak investor melirik wilayah desa karena lahannya relatif lebih luas dibanding inti kota. Desa bisa memanfaatkannya untuk wisata, pusat perdagangan, atau kawasan kuliner.
Ketiga, soal infrastruktur. Jalan sudah lebar, listrik lebih stabil, sekolah banyak, internet kencang. Ini modal besar untuk transformasi desa.
Keempat, heterogenitas warga. Banyak pendatang menetap di desa perkotaan. Kalau dikelola baik, perbedaan latar belakang ini bisa memperkaya inovasi dan jejaring ekonomi.
Tantangan yang Menghadang
Namun, semua peluang itu datang dengan risiko. Lahan pertanian hilang, membuat desa kehilangan identitas agrarisnya. Budaya gotong royong terancam terkikis oleh gaya hidup serba cepat dan individualistis.
Ada juga ketimpangan sosial. Warga asli desa kadang kalah bersaing dengan pendatang yang punya modal lebih besar. Akibatnya, mereka tersisih di kampung sendiri.
Belum lagi birokrasi yang kaku. Banyak regulasi desa masih berpola “desa tradisional”, padahal konteksnya sudah urban. Desa perkotaan butuh aturan yang lebih fleksibel.
Menyulam Strategi: Maju Tanpa Kehilangan Akar
Lalu, bagaimana desa perkotaan bisa tetap berkembang tanpa tercerabut dari akarnya?
- Ekonomi Komunitas
Koperasi desa atau BUMDes harus jadi tulang punggung. Bayangkan kalau desa punya pasar rakyat modern, pusat kuliner, atau jasa logistik berbasis komunitas. Warga bisa bekerja, berjualan, sekaligus punya kontrol atas usaha.
Unit simpan pinjam juga penting. Dengan akses kredit ringan, warga tidak lagi tergoda rentenir.
- Sosial Budaya
Gotong royong jangan sampai hilang. Desa bisa menghidupkan kembali ronda, kerja bakti, arisan, atau festival budaya. Di era digital, tradisi ini bisa direkam, dipromosikan, bahkan jadi daya tarik wisata.
Sekolah desa bisa memasukkan muatan lokal: tarian, bahasa daerah, kerajinan. Anak-anak tetap kenal akar mereka meski hidup di tengah nuansa perkotaan.
- Tata Ruang
Jangan semua lahan dijadikan perumahan. Tetap sisakan ruang hijau, sawah, atau kebun. Selain untuk ketahanan pangan, juga jadi “ruang napas” desa.
Ruang komunal penting: balai desa, lapangan, taman. Di sanalah warga berinteraksi, menjaga kebersamaan.
- Kapasitas Pemerintahan
Aparat desa harus melek digital dan paham tata kelola urban. Transparansi jadi kunci: data harga, program desa, anggaran, dipublikasikan terbuka.
Kemitraan dengan pihak luar juga harus jelas dan adil. Jangan sampai desa hanya jadi penonton ketika lahannya dipakai untuk bisnis besar.
Belajar dari Desa-Desa Inspiratif
Beberapa desa sudah membuktikan bahwa modernisasi bisa berjalan berdampingan dengan tradisi.
- Nglanggeran, Gunungkidul: Warganya mengelola wisata berbasis alam dan budaya. Mereka tetap menjaga kebersamaan, sambil mengelola homestay, kerajinan, dan kuliner.
- Panglipuran, Bali: Desa ini mempertahankan tata ruang tradisional dan adat istiadat meski jadi destinasi wisata dunia. Modernisasi hadir, tapi jati diri tidak luntur.
Kuncinya ada pada kesadaran warga: modernisasi harus menguatkan, bukan melemahkan identitas.
Trisakti Bung Karno sebagai Kompas
Bung Karno pernah berpesan tentang Trisakti: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, berkepribadian dalam budaya.
Desa perkotaan bisa menjadikan ini sebagai kompas.
- Berdaulat dalam politik: tetap menjaga musyawarah, memilih kepala desa, melibatkan warga.
- Berdikari dalam ekonomi: jangan hanya jadi buruh, tapi punya usaha kolektif.
- Berkepribadian dalam budaya: meski modern, tetap bangga dengan adat dan bahasa lokal.
Rekomendasi untuk Masa Depan
- Perdes tentang identitas lokal: melindungi budaya, adat, dan ruang sosial.
- Prioritas belanja lokal: program desa wajib menyerap produk warga.
- Kemitraan dengan kota: desa harus jadi mitra sejajar, bukan objek.
- Insentif untuk UMKM desa: pajak ringan bagi usaha berbasis budaya lokal.
Desa Perkotaan sebagai Simpul Peradaban
Desa perkotaan adalah wajah baru Indonesia. Ia berada di simpang jalan: bisa melebur jadi sekadar wilayah kota, atau tetap berdiri sebagai desa dengan jati diri.
Kalau dikelola dengan visi, desa perkotaan bisa jadi contoh simbiosis: kota mendapat tenaga, produk, dan identitas; desa mendapat pasar, teknologi, dan peluang.
Masa depan Indonesia akan lebih kuat jika desa perkotaan mampu jadi ruang hidup yang maju, mandiri, dan tetap berakar. Karena maju itu perlu, tapi jangan sampai tercerabut dari tanah yang memberi kehidupan.

Jurnalis dan Pegiat Pemberdayaan Masyarakat Peduli Desa. Saat ini adalah Ketua Komunitas Desa Indonesia dan Koordinator Mobile Journalist Desa


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.