Magetan, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Empat desa di Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, kini tengah bersiap mencatatkan nama mereka di peta olahraga ekstrem internasional. Desa Ngunut, Trosono, Bungkuk, dan Sayutan dijadwalkan menjadi tuan rumah kejuaraan paralayang bergengsi tingkat ASEAN pada Agustus 2023 mendatang.
Menjelang perhelatan besar tersebut, Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) turun tangan memberikan pendampingan strategis. Langkah ini diambil untuk memastikan infrastruktur dan kesiapan masyarakat desa benar-benar matang saat menyambut atlet serta wisatawan dari berbagai negara Asia Tenggara.
Mentalitas: Hambatan Terbesar di Balik Keindahan Alam
Menariknya, hasil survei lapangan dan Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan tim ITB menunjukkan bahwa kendala utama bukan hanya pada fasilitas, melainkan faktor internal. Perangkat desa dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) terdeteksi mengalami krisis kepercayaan diri dalam menghadapi tamu internasional.
Ketua P-P2Par ITB, Abadi Raksapati, memberikan pandangan yang out of the box untuk memicu semangat warga. Ia menekankan agar desa berhenti meratapi apa yang tidak mereka miliki.
“Sebaiknya kita berangkat dari apa yang kita punya, bukan dari apa yang kita tidak punya. Kita optimalkan potensi desa ini, jangan malah fokus pada kekurangannya,” tegas Abadi di hadapan perangkat desa.
Menurutnya, keempat desa ini memiliki anugerah alam yang luar biasa untuk olahraga dirgantara. Rasa kurang percaya diri harus segera digantikan dengan kebanggaan atas potensi lokal yang unik.
Strategi Transformasi Menuju Desa Wisata Global
Berdasarkan tinjauan langsung pada lokasi take-off dan landing, tim ITB merumuskan empat langkah taktis untuk membenahi pelayanan desa:
- Standarisasi Homestay: Pelatihan khusus bagi pemilik hunian warga agar mampu menyajikan layanan standar bagi atlet dan turis.
- Signage Multibahasa: Pemasangan papan informasi dalam berbagai bahasa di titik-titik strategis untuk mempermudah akses wisatawan asing.
- Produk Khas Daerah: Mendorong produksi suvenir serta kuliner lokal yang ikonik sebagai identitas desa.
- Paket Wisata Terintegrasi: Penyusunan alur wisata yang profesional agar kunjungan atlet tidak sekadar untuk bertanding, tetapi juga berwisata.
Kepala Desa Ngunut, Sauji, berharap kehadiran akademisi dari ITB mampu menjembatani kesenjangan antara potensi alam dan kesiapan sumber daya manusia. Rangkaian pendampingan ini akan berlanjut pada kunjungan kedua yang dijadwalkan pada Juli 2023, tepat satu bulan sebelum kejuaraan dimulai. Dengan sentuhan teknologi dan manajemen pariwisata yang tepat, Magetan optimis paralayang akan menjadi motor penggerak ekonomi desa yang berkelanjutan.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.