Bogor, Jawa Barat [DESA MERDEKA] – Penanganan kasus ancaman pembunuhan terhadap wartawan di Desa Tamansari, Rumpin, Kabupaten Bogor, kini memasuki babak baru yang penuh ketegangan. Sudah dua bulan berlalu sejak laporan resmi dilayangkan pada 21 Juni 2025, namun terduga pelaku pengoplos gas ilegal yang melakukan intimidasi masih melenggang bebas. Kondisi ini memicu kemarahan besar dari organisasi Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (AKPERSI) yang menilai kinerja kepolisian setempat jalan di tempat.
Insiden ini bermula saat tim media melakukan investigasi praktik pengoplosan gas ilegal di Kampung Banjarpinang. Alih-alih mendapatkan data, para jurnalis justru mendapatkan ancaman nyawa dari pemilik usaha. Meski langkah-langkah seperti pengecekan lokasi telah dilakukan, Kanit Reskrim Polsek Rumpin, Chandra Purba, berdalih pelaku selalu berhasil kabur melalui pintu belakang saat hendak ditangkap.
Kritik Pedas terhadap Profesionalisme Polri
Alasan “kabur lewat pintu belakang” menuai protes keras dari Ketua AKPERSI DPD Banten, Yudianto C.BJ. Ia menilai alasan tersebut sangat tidak masuk akal bagi institusi yang memiliki kewenangan penuh untuk menegakkan hukum. Menurutnya, lambatnya penanganan ini menjadi ironi di tengah perlindungan hukum bagi profesi jurnalis yang dijamin oleh Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.
Ketua Umum AKPERSI, Rino Triyono, S.Kom., S.H., bahkan menduga adanya intervensi pihak luar yang membuat penanganan kasus ini menjadi mandul. Kekecewaan ini berujung pada penilaian buruk terhadap citra Polri dalam mengayomi masyarakat, terutama dalam menindak praktik mafia di tingkat pedesaan yang jelas-jelas merugikan publik.
Ancaman Demo Besar di Polda Jabar
Sebagai bentuk protes atas ketidakpastian hukum ini, DPP AKPERSI bersiap melayangkan surat resmi ke Mabes Polri untuk mendesak pencopotan Kapolsek Rumpin. Rino menginstruksikan seluruh jajaran pengurus di Jawa Barat untuk bersiap menggelar aksi demonstrasi di depan Mapolda Jabar jika pelaku tidak segera diringkus.
Kasus di Rumpin ini menjadi ujian bagi kredibilitas kepolisian dalam memberantas praktik ilegal di wilayah perdesaan. Publik kini menunggu apakah hukum benar-benar tegak atau justru kalah oleh “pintu belakang” sang mafia gas.
misru Ariyanto jurnalis desamerdeka, saat ini menjabat sekretaris parade Nusantara DPD kabupaten Bekasi


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.