Lumajang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Pemerintah Kabupaten Lumajang tengah memulai misi ambisius untuk membangunkan “raksasa tidur” ekonomi pedesaan. Sebanyak 16 Koperasi Unit Desa (KUD) dari total 29 lembaga yang berdiri sejak era 1980-an akan segera direvitalisasi. Langkah ini diambil guna mengembalikan kejayaan koperasi sebagai tulang punggung ekonomi petani dan pelaku usaha mikro di desa.
Masalah utama yang membuat belasan KUD ini “mati suri” selama puluhan tahun bukanlah kekurangan modal, melainkan krisis regenerasi. Sebagian besar pengurus KUD merupakan figur lama yang sudah tidak aktif, sementara keterlibatan generasi muda dalam ekosistem koperasi masih sangat minim.
“Banyak pengurus lama yang sudah tidak aktif, sedangkan anggota baru belum banyak terlibat. Tahun ini, kami sudah berhasil mengaktifkan kembali dua KUD,” ujar Plt. Kepala Bidang Koperasi Diskopindag Lumajang, Sohib Gufron, pada Rabu (19/2/2025).

Strategi ‘Suntikan’ Tenaga Muda
Berbeda dengan pola lama yang hanya fokus pada bantuan dana, revitalisasi kali ini menggunakan pendekatan out of the box dengan menyasar sumber daya manusia. Diskopindag Lumajang mendorong pembaruan total kepengurusan dengan mengajak generasi muda (milenial dan Gen Z desa) untuk memimpin manajemen koperasi.
Pendampingan teknis dan pelatihan manajemen modern akan diberikan agar KUD tidak lagi dikelola secara tradisional. Tujuannya jelas: mengubah citra KUD dari lembaga “kuno” menjadi entitas bisnis desa yang profesional, digital, dan mampu mengakses pasar yang lebih luas.
KUD Sebagai Solusi Ekonomi Mandiri
Revitalisasi ini diharapkan menjadi jawaban konkret bagi petani yang sering kesulitan mengakses permodalan dan pemasaran. Dengan aktifnya kembali KUD, masyarakat desa akan memiliki wadah kolektif untuk meningkatkan posisi tawar produk pertanian mereka.
Pemerintah Kabupaten Lumajang berkomitmen menciptakan iklim usaha yang kondusif agar KUD tidak hanya sekadar papan nama, tetapi kembali menjadi motor penggerak kesejahteraan. Dukungan dari pengusaha lokal dan partisipasi aktif warga desa menjadi kunci utama agar “raksasa” era 80-an ini bisa berlari kencang di era digital.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.