Mahasiswa UNNES Sulap Limbah Tahu Jadi Pupuk Organik Cair di Gondoriyo
Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNNES Giat 13 Kelurahan Gondoriyo berhasil menciptakan inovasi yang berdampak langsung pada lingkungan desa. Mereka sukses melaksanakan sosialisasi dan demonstrasi pengolahan limbah air tahu menjadi Pupuk Organik Cair (POC). Inisiatif ini membuka peluang baru bagi masyarakat untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian secara organik.
Acara yang dilaksanakan di Aula Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, pada Selasa (11/11/2025) ini, dihadiri dengan antusias oleh 28 orang ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kelurahan Gondoriyo. Kegiatan kolaboratif antara Pusat Pengembangan KKN LPPM UNNES, pihak Kelurahan, dan PKK ini menjadi bukti nyata sinergi kampus dengan masyarakat dalam mewujudkan potensi desa yang inovatif.
Solusi Cerdas Atasi Pencemaran Lingkungan
Selama ini, limbah air dari pabrik tahu di Kelurahan Gondoriyo sering dibuang tanpa pengolahan yang memadai, menyebabkan pencemaran lingkungan yang serius. Melalui program UNNES Giat 13 ini, limbah tersebut kini diubah menjadi produk bernilai guna tinggi, yaitu POC.
Dua mahasiswa UNNES, Dewi Nawang Sari Asangada dari program studi Pendidikan Kimia dan Hayya Laudza Adani dari program studi Teknik Kimia, berkolaborasi menyampaikan materi esensial mengenai inovasi tersebut. Mereka menjelaskan bahwa limbah air tahu, meskipun sering dianggap sampah, sebetulnya mengandung nutrisi yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman dan kesehatan tanah jika diolah melalui proses yang tepat.
“Melalui proses fermentasi menggunakan bahan organik, limbah air tahu dapat diolah menjadi pupuk organik cair yang sangat baik untuk memberikan nutrisi pada tanaman, menyuburkan tanah, sekaligus berperan penting dalam mengurangi pencemaran lingkungan,” jelas Hayya saat sesi pemaparan materi.

Praktik Langsung Jadi Kunci Keberhasilan
Dalam sesi sosialisasi, para peserta diperkenalkan pada bahan-bahan sederhana namun efektif yang digunakan, seperti limbah air tahu itu sendiri, larutan aktivator (EM4), pemanis alami (larutan gula merah), dan air kelapa. Tahapan fermentasi yang memakan waktu tujuh hari juga dijelaskan secara detail. Campuran ini, jika berhasil difermentasi, akan menghasilkan pupuk cair berwarna kuning kecoklatan dengan aroma asam khas.
Menariknya, acara tidak berhenti di teori. Sebagai penutup, mahasiswa UNNES Giat 13 mengajak ibu-ibu PKK untuk langsung mempraktikkan pembuatan POC di aula kelurahan. Di bawah arahan mahasiswa, para hadirin dengan penuh semangat mencampur semua bahan dan menutup wadah fermentasi. Suasana praktik ini sangat hidup, diikuti dengan sesi tanya jawab yang menandakan tingginya ketertarikan ibu-ibu PKK terhadap inovasi ini.
Di akhir kegiatan, peserta mendapat souvenir berupa POC dan media tanam. “Silakan Ibu-ibu PKK dapat mencoba POC dan media tanam ini di rumah. Semoga inovasi ini bermanfaat untuk kebun Ibu sekalian,” ujar Dewi saat menyerahkan souvenir.
Inovasi ini diharapkan tidak hanya menjadi edukasi sesaat, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa. POC hasil fermentasi ini terbukti efektif untuk berbagai tanaman seperti cabai dan terong, serta mampu memperbaiki struktur tanah, yang pada akhirnya dapat menekan penggunaan pupuk kimia yang mahal dan berpotensi merusak lingkungan. Program ini adalah wujud nyata komitmen UNNES dalam membangun Indonesia dari desa, dengan mengedepankan kelestarian lingkungan dan kemandirian desa.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.