Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 13 Feb 2026 06:10 WIB ·

Lautan Merah di Sakra Timur: Simbol Persatuan Tiga Desa


					Image courtesy: detikcom Perbesar

Image courtesy: detikcom

Lombok tengah, Nusa Tenggara Barat [DESA MERDEKA] Menjelang Ramadan, kompleks pemakaman Batu Ngereng di Desa Gelanggang, NTB, berubah menjadi lautan merah yang memukau. Ribuan perempuan berbaris rapi mengusung dulang dengan penutup khas berwarna merah menyala, menandai dimulainya tradisi Roah 1001 Tebolak Beak, Kamis (12/2/2026).

Bukan sekadar ritual makan bersama, acara tahunan ini merupakan mandat budaya turun-temurun yang menyatukan warga dari tiga desa sekaligus: Gelanggang, Lepak, dan Sakra Timur. Istilah “1001” merujuk pada masifnya jumlah peserta yang hadir membawa perbekalan makanan, menciptakan pemandangan kolosal yang sarat akan nilai persaudaraan.

“Roah 1001 Tebolak Beak adalah cara kami merawat silaturahmi agar tidak luntur dimakan zaman,” ujar Ibrahim, Ketua Panitia Penyelenggara, di lokasi acara.

Filosofi di Balik “Tebolak Beak”
Nama tradisi ini diambil dari elemen visual yang paling menonjol, yaitu Tebolak Beak atau penutup dulang berwarna merah. Di dalam setiap dulang tersebut tersaji aneka makanan yang nantinya akan dinikmati secara begibung (makan bersama dalam satu wadah).

Warna merah pada penutup dulang bukan tanpa makna; ia melambangkan keberanian dan semangat kebersamaan yang membara di antara penduduk tiga desa. Bagi masyarakat setempat, tradisi ini adalah paket lengkap yang menggabungkan aspek sosial dan spiritual. Prosesi dimulai dengan tausiah agama, diikuti zikir, doa bersama, dan puncaknya adalah ziarah kubur.

Batu Ngereng: Titik Temu Para Pendahulu
Pemilihan lokasi di Pemakaman Batu Ngereng memiliki alasan historis dan emosional yang kuat. Tempat ini merupakan pemakaman sentral di wilayah tersebut, di mana para leluhur dan orang tua dari ketiga desa dimakamkan.

“Kami berkumpul di sini karena ini adalah tempat peristirahatan para pendahulu kami. Dengan berziarah dan berdoa bersama di satu titik, rasa kekeluargaan antarwarga desa menjadi jauh lebih solid,” tambah Ibrahim.

Melalui Roah 1001 Tebolak Beak, warga Sakra Timur membuktikan bahwa tradisi lokal mampu menjadi “obat” paling manjur untuk menjaga keharmonisan masyarakat di tengah gempuran modernisasi, sekaligus menjadi sarana persiapan mental dan spiritual terbaik dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 29 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Sengketa Lahan Lempuing Jaya dan Sengkarut Arsip Desa

31 Juli 2026 - 20:33 WIB

Nestapa Subari: Sisi Lain Keadilan Restoratif Desa Trangkil

31 Juli 2026 - 07:37 WIB

Minta Maaf Tak Cukup, Sanksi Adat Menanti di Kuranji

30 Juli 2026 - 09:35 WIB

Menanti Negara Mengakui Batas Administrasi Wilayah Adat Desa Darmo

29 Juli 2026 - 16:27 WIB

Kampus Sumbar Didorong Teliti dan Lestarikan Budaya Minangkabau

27 Juli 2026 - 06:01 WIB

Septiani: Tulang Punggung yang Berpulang di PT PEI HAI

25 Juli 2026 - 14:27 WIB

Trending di SOSBUD