Purbalingga, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Bumi Perkemahan Munjulluhur Kutasari mendadak riuh. Sebanyak 576 Pramuka penggalang dari berbagai Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kabupaten Purbalingga berkumpul untuk membuktikan bahwa Pramuka modern bukan sekadar soal berkemah dan tepuk tangan. Di tengah alam perdesaan, mereka ditantang menjadi agen perubahan digital yang mampu memerangi perundungan (bullying).
Ajang Jambore SD MI Purbalingga yang digelar selama empat hari, 3 hingga 6 Juli 2023, menjadi panggung bagi 72 regu pilihan. Terbagi rata atas 36 regu putra dan 36 regu putri dari 18 Kwarran, anak-anak ini membawa misi besar lewat tema “Ceria, Berkarakter, dan Kekinian”.
Ketua Panitia Jambore, Kusno, menjelaskan bahwa agenda tiga tahunan ini sengaja dirancang multiguna. Para peserta tidak hanya berkompetisi dalam kesenian dan ketangkasan fisik, tetapi juga menyelami dunia kreasi teknologi melalui pameran hasil karya dan petualangan interaktif.
Sudut pandang segar muncul dari Ketua Kwartir Cabang (Ka-Kwarcab) Purbalingga, Tri Gunawan Setyadi. Ia menegaskan bahwa di era kecanggihan informasi, Pramuka di tingkat desa harus mengambil peran sebagai pewarta. Generasi muda dituntut memanfaatkan media sosial secara bijaksana untuk menyebarkan konten foto dan video yang konstruktif.
“Pramuka harus menjadi pewarta yang menjaga citra positif. Perkembangan zaman menuntut kita untuk tetap up-to-date. Stop bullying dan mari kita mengamalkan Satya Dharma Pramuka dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Tri Gunawan.
Melalui pendekatan belajar sambil bermain, kegiatan ini membekali anak-anak siber perdesaan dengan budi pekerti luhur dan kecakapan hidup. Penguasaan teknologi yang diarahkan secara positif di dalam Jambore SD MI Purbalingga diharapkan mampu melahirkan kreator konten lokal yang siap memajukan dan menyuarakan potensi desa mereka ke dunia luar.
Konten Kreator Desa


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.