Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 14 Mei 2025 05:32 WIB ·

Kreatif! Mainan Kayu Laris di Festival Balkondes Borobudur


					<em>Kakek Riyono (61), pengrajin mainan kayu asal Borobudur, memamerkan dan menjual hasil karyanya yang unik dan dibuat secara manual di Festival Suadesa 2025, Balkondes Gasblock PGN Karangrejo. Mainan truk kayu menjadi salah satu produk yang banyak diminati pengunjung.</em> Perbesar

Kakek Riyono (61), pengrajin mainan kayu asal Borobudur, memamerkan dan menjual hasil karyanya yang unik dan dibuat secara manual di Festival Suadesa 2025, Balkondes Gasblock PGN Karangrejo. Mainan truk kayu menjadi salah satu produk yang banyak diminati pengunjung.

Borobudur, Magelang [DESA MERDEKA] Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Gasblock PGN Karangrejo, Borobudur, menjadi panggung meriah bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal untuk memamerkan kreasi unik mereka dalam gelaran Festival Suadesa 2025. Festival yang berlangsung selama dua hari, 10-11 Mei 2025, ini bukan sekadar ajang promosi, namun juga cerminan geliat ekonomi desa binaan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melalui program Desa Energi Berdikari.

Di tengah ramainya festival, perhatian pengunjung tertuju pada Kakek Riyono (61), seorang pengrajin mainan kayu sederhana namun penuh sentuhan seni. Dengan sabar, Kakek Riyono memajang berbagai jenis mainan, mulai dari miniatur truk, pesawat, hingga mobil-mobilan yang seluruhnya terbuat dari kayu. Keistimewaannya terletak pada proses pembuatannya yang sepenuhnya mengandalkan keterampilan tangan.

“Membuat satu truk saja bisa seharian penuh. Kalau seminggu, paling banyak ya sepuluh truk selesai,” ungkap Kakek Riyono, ditemui Selasa (13/5/2025), dengan senyum ramahnya. Meski prosesnya memakan waktu, harga mainan kayu buatan Kakek Riyono terbilang ramah di kantong anak-anak, mulai dari Rp15 ribu hingga Rp150 ribu. Hasilnya pun menggembirakan, sekitar 200 unit mainan ludes terjual selama dua hari festival.

Tak hanya piawai mengolah kayu, Kakek Riyono juga menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dengan memanfaatkan gabus bekas sebagai bahan baku alternatif untuk beberapa produk mainannya. “Selain lebih hemat, ini juga sekaligus mengenalkan semangat daur ulang kepada anak-anak,” tuturnya. Baginya, Festival Suadesa adalah angin segar yang memberikan kesempatan emas untuk memperkenalkan karyanya kepada khalayak yang lebih luas.

Pesona lain dalam festival ini datang dari Syifa Salsabilia (25) dengan label Djamoenesia-nya. Mewakili komunitas pembuat jamu tradisional Rempon Ndoro, Syifa hadir dengan inovasi jamu kekinian. Deretan produk unggulannya seperti teh mint segar, beras kencur yang kaya manfaat, kunir asem yang menyegarkan, gula asem yang legit, hingga Golden Rempong yang merupakan perpaduan jahe, serai, dan jeruk nipis, dikemas dengan apik.

Keistimewaan jamu Djamoenesia terletak pada penggunaan bahan baku premium dan pemanis alami dari gula batu serta gula aren, tanpa sentuhan gula pasir maupun perisa buatan. Kemasan modern yang dipilih Syifa juga bertujuan untuk menjaga kualitas dan meningkatkan daya tarik jamu tradisional di mata generasi muda.

“Harga jamu kami memang sedikit lebih tinggi, mulai dari Rp10 ribu sampai Rp35 ribu, tapi kami mengutamakan kualitas dan ingin mengajak masyarakat kembali mencintai jamu asli,” jelas Syifa penuh semangat. Sambutan pengunjung pun tak kalah antusias. Banyak dari mereka yang berasal dari luar kota tertarik untuk membawa pulang cita rasa jamu tradisional Karangrejo.

Festival Suadesa 2025 tak hanya memberikan berkah bagi para pelaku UMKM, tetapi juga bagi para tukang ojek yang mangkal di sekitar lokasi acara. Mereka sigap mengantarkan pengunjung dari jalan utama menuju lokasi festival yang disterilkan dengan tarif Rp10 ribu. Semangat gotong royong pun terlihat, di mana hasil ojek dikumpulkan untuk kas desa. “Yang penting kami siap siaga mengantar tamu. Soal hasil, itu urusan nanti. Kami siap menyukseskan setiap acara di Gasblock Karangrejo,” ujar Naif, salah satu pengemudi ojek dengan antusias. Festival ini menjadi bukti nyata bagaimana sinergi antara program CSR perusahaan dan potensi lokal dapat menumbuhkan perekonomian desa serta melestarikan kearifan lokal.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 45 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menolak Punah di Samping Pabrik, Intip Arsitektur Rumah Sunda di Bekasi

15 Agustus 2026 - 17:47 WIB

Menjemput Damai Demang Kentol: Kisah Batik Sumberparang Malang

10 Agustus 2026 - 06:48 WIB

Simalakama di Kaki Bromo: Saat Penegak Adat Dibui Hukum Negara

8 Agustus 2026 - 06:26 WIB

Ironi Desa Budaya Bantul Antara Pelestarian Dan Birokrasi

7 Agustus 2026 - 16:11 WIB

Sengketa Lahan Lempuing Jaya dan Sengkarut Arsip Desa

31 Juli 2026 - 20:33 WIB

Nestapa Subari: Sisi Lain Keadilan Restoratif Desa Trangkil

31 Juli 2026 - 07:37 WIB

Trending di SOSBUD