Cerpen oleh: Kandidatus Angge
Jakarta selalu punya cara menguji manusia. Pagi-pagi, sebelum matahari sempat mengangkat wajahnya, suara klakson sudah bersahut-sahutan, seperti perang kecil yang tak pernah selesai. Di antara ribuan langkah yang bergegas, ada seorang perantau yang masih duduk di pojok kosan sempit, menyalakan dua sahabat setianya: Si Hitam Arabica dan Si Putih Mba Esse.
Si Hitam Arabica bukan sekadar kopi. Ia hadir dalam cangkir sederhana, hitam legam, mengepul hangat. Aromanya tajam, pekat, seperti bisikan yang menyalakan urat nadi. “Bangunlah,” katanya, “lorong-lorong Jakarta ini panjang, dan kau butuh aku untuk bertahan.”
Di sisi lain, Si Putih Mba Esse tersenyum. Lembut, penuh rayuan. Dari ujung bibir perantau, asapnya menari di udara, menuliskan kata-kata yang tak pernah sempat diucapkan. Ia bukan sekadar rokok. Ia adalah teman bicara di kala sunyi, kekasih samar yang selalu ada saat resah menyerang.
“Aku tidak butuh banyak,” gumam sang perantau, “cukup kalian berdua yang setia.”
Namun, ada rindu yang tak bisa ditutupi. Rindu pada aroma eksotis dari tanah jauh. Dari Tanah Rencong, kopi Gayo yang harum tajam, membawa semangat gunung Aceh ke dalam dada. Dari Toraja, Arabica yang bercampur kabut leluhur, seakan memberi kekuatan spiritual. Dari Kalimantan, Robusta hitam legam yang keras kepala, namun bertenaga, seperti aliran sungai yang tak pernah berhenti.
“Kalau kalian datang,” katanya sambil tersenyum pada imajinasinya sendiri, “aku pasti bisa menaklukkan lorong Jakarta ini dengan lebih gagah.”
Jakarta tidak pernah memberi ruang lega. Gedung-gedung menjulang seperti raksasa yang menekan langit. Waktu berlari, orang-orang mengejar mimpi, kadang dengan wajah kosong, kadang dengan mata merah. Tapi di tengah semua itu, Si Hitam dan Si Putih tetap setia.
Mereka tidak pernah menuntut. Mereka hanya hadir, mengisi jeda, menjadi pelindung kecil bagi seorang perantau yang mencoba berdiri tegak.
Agustus akan berakhir, tapi ia tahu, ia masih di sini. Menunggu kesempatan, menunggu rasa dari tanah jauh benar-benar hadir di genggaman.
“Hahaha…” ia tertawa kecil, asap mengepul makin tebal. “Semoga ini bukan sekadar hayal, tapi nyata suatu hari nanti.”
Dan di antara tawa itu, Si Hitam tersenyum hangat dari dalam cangkir.
Si Putih menghembuskan pelukan tipis dari ujung bibir.
Keduanya tahu, mereka bukan sekadar kopi dan rokok. Mereka adalah kisah yang menyalakan hidup, di lorong panjang bernama Jakarta.
Jurnalis Desa Merdeka
















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.