Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

RAGAM · 20 Agu 2025 12:29 WIB ·

Kopi, Rokok, dan Asa Perantau di Lorong Jakarta


					Kopi, Rokok, dan Asa Perantau di Lorong Jakarta Perbesar

Cerpen oleh: Kandidatus Angge

Jakarta selalu punya cara menguji manusia. Pagi-pagi, sebelum matahari sempat mengangkat wajahnya, suara klakson sudah bersahut-sahutan, seperti perang kecil yang tak pernah selesai. Di antara ribuan langkah yang bergegas, ada seorang perantau yang masih duduk di pojok kosan sempit, menyalakan dua sahabat setianya: Si Hitam Arabica dan Si Putih Mba Esse.

Si Hitam Arabica bukan sekadar kopi. Ia hadir dalam cangkir sederhana, hitam legam, mengepul hangat. Aromanya tajam, pekat, seperti bisikan yang menyalakan urat nadi. “Bangunlah,” katanya, “lorong-lorong Jakarta ini panjang, dan kau butuh aku untuk bertahan.”

Di sisi lain, Si Putih Mba Esse tersenyum. Lembut, penuh rayuan. Dari ujung bibir perantau, asapnya menari di udara, menuliskan kata-kata yang tak pernah sempat diucapkan. Ia bukan sekadar rokok. Ia adalah teman bicara di kala sunyi, kekasih samar yang selalu ada saat resah menyerang.

“Aku tidak butuh banyak,” gumam sang perantau, “cukup kalian berdua yang setia.”

Namun, ada rindu yang tak bisa ditutupi. Rindu pada aroma eksotis dari tanah jauh. Dari Tanah Rencong, kopi Gayo yang harum tajam, membawa semangat gunung Aceh ke dalam dada. Dari Toraja, Arabica yang bercampur kabut leluhur, seakan memberi kekuatan spiritual. Dari Kalimantan, Robusta hitam legam yang keras kepala, namun bertenaga, seperti aliran sungai yang tak pernah berhenti.

“Kalau kalian datang,” katanya sambil tersenyum pada imajinasinya sendiri, “aku pasti bisa menaklukkan lorong Jakarta ini dengan lebih gagah.”

Jakarta tidak pernah memberi ruang lega. Gedung-gedung menjulang seperti raksasa yang menekan langit. Waktu berlari, orang-orang mengejar mimpi, kadang dengan wajah kosong, kadang dengan mata merah. Tapi di tengah semua itu, Si Hitam dan Si Putih tetap setia.

Mereka tidak pernah menuntut. Mereka hanya hadir, mengisi jeda, menjadi pelindung kecil bagi seorang perantau yang mencoba berdiri tegak.

Agustus akan berakhir, tapi ia tahu, ia masih di sini. Menunggu kesempatan, menunggu rasa dari tanah jauh benar-benar hadir di genggaman.

“Hahaha…” ia tertawa kecil, asap mengepul makin tebal. “Semoga ini bukan sekadar hayal, tapi nyata suatu hari nanti.”

Dan di antara tawa itu, Si Hitam tersenyum hangat dari dalam cangkir.
Si Putih menghembuskan pelukan tipis dari ujung bibir.
Keduanya tahu, mereka bukan sekadar kopi dan rokok. Mereka adalah kisah yang menyalakan hidup, di lorong panjang bernama Jakarta.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 290 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ekonomi Digital Desa: Koperasi Merah Putih Tembus Pasar Dunia

23 April 2026 - 09:32 WIB

Asa dari Kalaotoa: Saat Bupati Peluk Keluhan Warga

22 April 2026 - 10:54 WIB

Optimisme Petani Selayar: Jagung Bersemi, Kelapa Menanti Data

21 April 2026 - 18:24 WIB

Bukan Beban Anggaran, Pers Adalah Perisai Antikorupsi Desa

21 April 2026 - 12:33 WIB

Hentakan Kuntau Bonerate: Memuliakan Pemimpin dengan Ketulusan Adat

20 April 2026 - 22:34 WIB

Luka di Bacan Barat: Saat Dana Kesehatan Desa Dikorupsi

20 April 2026 - 22:18 WIB

Trending di RAGAM