Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KOPERASI DESA · 8 Agu 2026 18:01 WIB ·

Membangun Ekonomi dari Sela Gang Sempit Kelurahan Lodoyong


					Membangun Ekonomi dari Sela Gang Sempit Kelurahan Lodoyong Perbesar

Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Tersembunyi di balik riuhnya jalur utama Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, sebuah ruang yang awalnya merupakan perpustakaan kelurahan di sela gang sempit kini menjelma menjadi motor baru perekonomian warga. Melalui Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Lodoyong, sebuah gerakan ekonomi akar rumput sedang membuktikan bahwa kemandirian pangan dan stabilitas harga dapat dimulai dari tingkat desa.

Hari Senin yang Riuh di Meja Kasir
Bagi Asti, seorang kasir di KKMP Lodoyong, awal pekan selalu menjadi lembaran hari yang paling menantang. Sejak gerai dibuka, puluhan nota transaksi langsung menumpuk di mejanya.

“Kalau dibilang hari Senin itu biasanya lumayan naik omsetnya, bisa menyentuh Rp2 juta sampai Rp3 juta. Notanya itu bisa kayak 20 sampai 23 nota,” ungkap Asti sembari melayani pembeli.

Sebaliknya, hari Jumat menjadi waktu yang relatif lebih tenang di mana perputaran omset harian berada di kisaran Rp1 juta. Kendati Asti mendapatkan hak libur di hari Minggu, roda pelayanan koperasi kelurahan ini tidak pernah benar-benar berhenti. Para pengurus koperasi secara bergantian bersiaga memastikan gerai pangan murah ini tetap dapat diakses oleh warga sekitar setiap saat.

Selisih Lima Ratus Perak demi Dapur Dapur Desa
Bagi kaum ibu di pedesaan kelurahan, efisiensi pengeluaran harian adalah prioritas mutlak. Hal ini disuarakan langsung oleh Uswatun Hasanah, warga yang berdomisili di Perengsari, Pandean. Demi memenuhi kebutuhan dapur, ia rela berjalan kaki sejauh 500 meter melewati jembatan kelurahan menuju gerai KKMP Lodoyong.

“Harganya lebih murah di KMP sini, selisih Rp500 untuk telur. Namanya juga ibu-ibu, pasti membanding-bandingkan dengan grosiran sana-sini. Kalau dibanding Indomaret, ya harganya jauh lebih murah di sini,” aku Uswatun dengan mantap.

Meskipun beberapa jenis jajanan atau camilan belum sepenuhnya tersedia, Uswatun mengaku sangat terbantu karena seluruh kebutuhan komoditas pokok seperti minyak goreng dan gula pasir selalu tersedia lengkap di dalam ruang koperasi.

Jadi Barometer Nasional Calon Manajer Baru
Keberhasilan KKMP Lodoyong dalam mengelola perputaran omset tinggi di tingkat akar rumput menarik perhatian Dinas Koperasi Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Semarang. Koperasi ini dinilai sukses memotong rantai distribusi pangan secara mandiri sebelum fasilitas gerai dan armada fisik dialokasikan oleh pemerintah pusat.

Fungsional Pengawas Koperasi Ahli Pertama Kabupaten Semarang, Surya Saptonugroho, bahkan memboyong sekitar 30 calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) berdomisili Semarang untuk melakukan observasi lapangan di Lodoyong. Para calon pengelola ini sebelumnya telah digembleng selama satu bulan penuh di pusat Diklat Bela Negara dan 12 hari pelatihan manajerial secara teoretis.

“Kami ajak mereka ke KKMP Lodoyong ini karena merupakan salah satu koperasi kelurahan yang sudah beroperasional dengan omset yang cukup tinggi di Provinsi Jawa Tengah,” tutur Surya.

Surya berharap para manajer masa depan ini dapat meniru kiat sukses Lodoyong dalam mengidentifikasi karakteristik wilayah geografis dan kebutuhan nyata masyarakat setempat agar tidak memicu stigma negatif di lingkungan sekitar.

Menghidupkan Aset Mati Menjadi Peluang Usaha
Langkah nyata di lapangan menjadi magnet antusiasme tersendiri bagi para calon manajer baru. Ketua KKMP Lodoyong sekaligus Ketua Koperasi Merah Putih Bumi Serasi, Tri Sasmiarti, S.Pd., M.Pd., membagikan langsung strategi taktis tata kelola keuangan, manajemen penataan ruang, serta rantai pasok perdagangan yang dikelola bersama PT Agrinas Pangan Nusantara.

Tri Sasmiarti tidak menampik adanya kekhawatiran dari para manajer muda yang akan ditempatkan di berbagai desa dengan kondisi fasilitas yang masih kosong atau belum berjalan. Namun, ia meyakinkan bahwa kondisi tersebut adalah ruang terbaik untuk menguji kreativitas pemuda.

“Memang koperasinya banyak yang masih ‘tidur’, baru ada gedung, sarana fasilitas, kendaraan, atau gerai kosong. Tapi kami sampaikan, itu adalah tantangan bagi generasi muda. Mereka harus bersinergi dengan pengurus untuk memanfaatkan potensi lokal seperti telur dan ikan dari UMKM sekitar agar berkembang bersama lewat jalur koperasi,” pungkas Tri dengan optimis.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 146 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Proyek Gerai KDMP Loofoun Telantar, Anggaran Macet Total

7 Juli 2026 - 19:29 WIB

KDKMP Sumbar Jadi Motor Ekonomi Desa Menuju Indonesia Emas

7 Juni 2026 - 15:58 WIB

Koperasi Merah Putih Sumbar: Pilar Ekonomi Desa Mandiri

7 Juni 2026 - 11:02 WIB

Motor Roda Tiga Dongkrak Koperasi Desa Merah Putih Tulungagung

26 Mei 2026 - 16:03 WIB

Cara KUB Plasma Menjelutung Perdana Lestari Berbagi Berkah

26 Mei 2026 - 13:12 WIB

Seni Mengolah Keterbatasan Menjadi Modal Utama Koperasi Lodoyong

20 Mei 2026 - 12:19 WIB

Trending di KOPERASI DESA