Dharmasraya, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Riuh rendah suara ratusan anak memenuhi ruangan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Dharmasraya di Nagari Sungai Kambut, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya. Jumat pagi (31/7/2026) itu bukan sekadar pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) biasa. Suasana berubah magis dan penuh optimisme saat Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, berdiri di podium dan membakar semangat para siswa baru.
Dengan tatapan hangat namun tegas, Mahyeldi mengajak seluruh siswa mengepalkan tangan ke udara. Sebuah simbol perlawanan terhadap rasa menyerah dan keterbatasan.
“Sekolah Rakyat 3 Dharmasraya!” seru Mahyeldi lantang.
“Kami siap sungguh-sungguh!” balas ratusan siswa serempak, menggetarkan dinding-dinding sekolah baru mereka.
Pekikan yang diulang berkali-kali itu seketika meruntuhkan dinding kecemasan anak-anak desa yang baru saja menapakkan kaki di jenjang pendidikan formal.
Mengalir Darah Para Pejuang Bangsa
Di hadapan para siswa, guru, dan orang tua, Mahyeldi mengingatkan bahwa anak-anak yang lahir di bumi Ranah Minang, termasuk di pelosok Dharmasraya, bukanlah anak-anak biasa. Mereka adalah pewaris biologis dan ideologis dari para raksasa sejarah Indonesia.
“Dalam diri ananda semuanya mengalir darah para pejuang. Darah Bung Hatta, Mohammad Yamin, Buya Hamka, Mohammad Natsir, Tan Malaka, dan tokoh-tokoh besar bangsa lainnya. Karena itu, jangan pernah merasa rendah diri. Kalian juga bisa menjadi gubernur, presiden, tentara, polisi, jaksa, dokter, maupun profesi hebat lainnya,” tegas Mahyeldi disambut riuh tepuk tangan.
Bukan tanpa alasan Mahyeldi membakar romantisme sejarah ini. Dharmasraya punya tempat sakral dalam eksistensi Republik. Jalur gerilya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dahulu melewati wilayah ini.
“Kalau tidak ada perjuangan PDRI yang bergerilya hingga melewati Dharmasraya, sejarah bangsa ini tentu akan berbeda. Karena itu, kalian adalah pewaris semangat perjuangan tersebut,” tambahnya dengan nada emosional.
Dari Anak Tukang Becak Menuju Kursi Gubernur
Suasana mendadak hening berbalut haru saat Mahyeldi mulai melompati batas formalitas sebagai pejabat publik. Ia memilih mengetuk hati para siswa dan orang tua dengan menceritakan lembaran hitam-putih masa lalunya. Kisah nyata tentang bagaimana kemiskinan ditekuk oleh ketekunan.
Mahyeldi berkisah, ia lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya hanyalah seorang kuli atau buruh angkut di Pasar Bawah Bukittinggi. Sementara sang ibu, meski memiliki keterbatasan fisik, tidak pernah berhenti menggerakkan mesin jahit demi menambal kebutuhan ekonomi keluarga.
“Kami tujuh bersaudara, dan enam orang berhasil kuliah. Jadi tidak ada alasan untuk menyerah hanya karena berasal dari keluarga sederhana,” ungkapnya terbuka.
Puncak keheningan terjadi saat ia menceritakan fase hidupnya yang pernah merantau dan menyambung hidup sebagai seorang tukang becak. Pengalaman mengayuh becak di jalanan itulah yang menempa mentalnya hingga akhirnya bisa menempuh pendidikan tinggi dan kini dipercaya memimpin Sumatera Barat.
“Tidak ada hambatan untuk menjadi sukses. Yang paling penting adalah semangat belajar, kerja keras, doa, dan dukungan orang tua,” ujarnya memotivasi para orang tua yang hadir agar tidak minder dengan kondisi ekonomi.
Menuju Indonesia Emas dari Sekolah Rakyat
Kepada para pendidik di SRT 3 Dharmasraya, Gubernur menitipkan pesan mendalam. Ia menekankan bahwa tugas guru di Sekolah Rakyat bukan sekadar mentransfer angka dan rumus di papan tulis, melainkan menyemai keikhlasan, kasih sayang, dan keteladanan untuk membentuk karakter kokoh anak desa.
Ia juga meminta kerja sama ruang kultural dari para orang tua.
“Tolong berikan semangat kepada anak-anak kita. Jangan pernah lelah mendukung mereka. Ketika mereka berhasil nanti, kebahagiaan itu juga akan kembali kepada orang tuanya,” pesan Mahyeldi.
Gubernur Mahyeldi menaruh harapan besar agar Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Dharmasraya ini menjadi laboratorium hidup sekaligus pelopor pendidikan inklusif di Sumatera Barat.
Melalui sinergi kokoh antara pemerintah pusat, daerah, guru, dan para orang tua, institusi ini diyakini mampu melahirkan generasi yang cerdas, berdaya saing global, namun tetap mengakar pada karakter lokal.
“Insyaallah dari Sekolah Rakyat inilah akan lahir pemimpin-pemimpin besar yang membawa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Mahyeldi mengakhiri arahannya dengan optimisme tinggi.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.