Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 17 Jul 2026 14:28 WIB ·

Batik Singosari: Ketika Sebatang Lilin Menghidupkan Peradaban yang Hampir Padam


					Batik Singosari: Ketika Sebatang Lilin Menghidupkan Peradaban yang Hampir Padam Perbesar

,

Kebangkitan Batik Singosari
Hari Batik Nasional 2022 di jln Anusopati awal kegiatan bersama Forum Handarbeni Singhasari (Rum Kun Caraning Batik Singhasari)

Malang, Jawa Timur | DESA MERDEKAKebangkitan Batik Singosari menjadi bukti bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari panggung megah atau dukungan yang melimpah. Di Singosari, kebangkitan itu justru bermula dari sebuah peringatan Hari Batik Nasional yang berlangsung sederhana di sebuah rumah di Jalan Anusapati, Kelurahan Candirenggo. Dari selembar kain putih, beberapa canting, secangkir kopi, dan sebatang lilin, lahirlah gerakan budaya yang kini menjadikan Batik Singosari sebagai salah satu ikon kebanggaan Kabupaten Malang.

Saat itu hanya segelintir pegiat batik berkumpul. Tidak ada panggung,Tidak ada sorotan kamera, Tidak ada seremoni mewah, Yang ada hanyalah semangat untuk menjaga warisan budaya agar tidak padam ditelan zaman.

Di rumah milik Ibu Titin, seorang pengrajin batik senior, peringatan Hari Batik Nasional berlangsung dalam suasana sederhana, tetapi sarat makna.

Maestro Batik Tulis Singosari, Ibu Hendra, masih mengingat jelas momen tersebut.

“Hari Batik Nasional pertama kali kami rayakan hanya dengan tiup lilin dan dihadiri segelintir orang.”

Tak seorang pun membayangkan, dari cahaya lilin yang redup itulah lahir sebuah gerakan budaya yang perlahan menghidupkan kembali denyut Batik Singosari sekaligus membangkitkan kebanggaan masyarakat terhadap warisan leluhurnya.

“Sejarah tidak selalu ditulis oleh peristiwa-peristiwa besar. Di Singosari, ia justru lahir kembali dari cahaya sebatang lilin yang dijaga dengan kesabaran, diwariskan dengan ketulusan, lalu tumbuh menjadi kebanggaan bersama. Dari sanalah sebuah peradaban menemukan jalannya untuk hidup kembali.”

Hari Batik Nasional 2-3 Oktober 2023 di ex Kawedanan Singosari, dengan tema Festival Batik Singhasari
Hari Batik Nasional 2-3 Oktober 2023 di ex Kawedanan Singosari, dengan tema Festival Batik Singhasari ,bersama Wabup Kabupaten Malang Drs Didik Gatot Subroto,SH,MH

Dari Rumah Sederhana Menjadi Gerakan Kebudayaan

Batik bukan sekadar kain bermotif.

Para pembatik Singhasari menorehkan malam melalui canting sekaligus mewariskan sejarah, filosofi, dan identitas masyarakatnya. Relief Candi Singosari, kisah Kerajaan Singhasari, kekayaan flora dan fauna, hingga nilai-nilai luhur hidup dalam setiap motif batik yang mereka ciptakan.

Ketika tradisi membatik mulai memudar, masyarakat tidak hanya menghadapi ancaman hilangnya sebuah kerajinan, tetapi juga berisiko kehilangan ingatan kolektif terhadap peradaban yang pernah membentuk identitas wilayah ini.

Kesadaran itulah yang mempertemukan Forum Handharbeni Singhasari dengan Paguyupan Batik Singosari pada 2022. Keduanya membangun kolaborasi atas keyakinan bahwa kebudayaan hanya akan bertahan jika setiap generasi terus mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Halaman rumah Ibu Titin kemudian menjadi ruang belajar budaya. Pemuda dari 14 desa dan tiga kelurahan di Kecamatan Singosari datang untuk mempelajari batik secara langsung. Para maestro membimbing mereka menggunakan canting, mengenali filosofi motif, sekaligus merawat warisan leluhur agar tidak terputus oleh zaman.

Gerakan tersebut mengusung tema “Rum Kuncaraning Batik Singhasari”, yang bermakna harumnya nama dan kejayaan Batik Singhasari yang memancar ke berbagai penjuru.

Sejak saat itu, aroma malam yang dipanaskan berubah menjadi simbol optimisme baru. Jumlah perajin yang semula hanya segelintir orang kini berkembang menjadi sekitar 50 perajin, dengan target mencapai 100 perajin sebagai bagian dari regenerasi yang berkelanjutan.

Haei Kebangkitan Nasional
Hari Batik Nasional di desa Randuagung 2-6 Oktober 2024 dengan Tema Singhasari Bangkit

Ketika Cahaya Lilin Menjangkau Panggung Nasional

Perjalanan Batik Singosari mencapai titik balik ketika peringatan Hari Batik Nasional digelar di Kebon Winih dan Kebon Opah, Desa Randuagung.

Ribuan masyarakat memadati kawasan festival, sementara hampir 300 perajin memamerkan karya terbaik mereka. Sulit membayangkan, kemeriahan sebesar itu berawal dari sebuah perayaan sederhana di rumah seorang pengrajin.

Festival tersebut menjelma menjadi panggung kebangkitan budaya yang mempertemukan perajin, pelaku UMKM, budayawan, akademisi, komunitas, pemerintah, dan masyarakat dalam satu semangat untuk mengembalikan Batik Singosari sebagai identitas budaya yang membanggakan.

Momentum itu semakin bermakna ketika Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno hadir secara daring menyampaikan ucapan Selamat Hari Batik Nasional sekaligus mengapresiasi konsistensi Paguyupan Batik Singosari dalam menjaga warisan budaya bangsa.

Apresiasi tersebut diperkuat oleh Wakil Bupati Malang, Drs. Didik Gatot Subroto, SH., MH., yang menegaskan bahwa Batik Singosari layak menjadi identitas daerah. Ia juga mendorong pemanfaatannya sebagai seragam perangkat kecamatan, pemerintah desa, hingga pelajar agar pelestarian budaya berjalan seiring dengan tumbuhnya ekonomi para perajin.

Menjahit Sejarah Menjadi Masa Depan

Kini masyarakat mengembangkan Batik Singosari tidak hanya sebagai karya seni tradisional, tetapi juga sebagai ruang pendidikan budaya, pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi kreatif, dan penguat identitas lokal.

Para perajin terus mengembangkan motif yang terinspirasi dari Candi Singosari, flora, fauna, dan nilai-nilai kearifan lokal. Melalui batik, masyarakat mengenakan sejarah, mempelajarinya, memasarkan nilai budayanya, sekaligus menjadikannya sumber penghidupan.

Inilah makna pembangunan berbasis kebudayaan. Ketika masyarakat menjaga warisan leluhur, mereka sesungguhnya sedang membangun masa depan yang memiliki akar sejarah yang kuat.

Kebangkitan Batik Singhasari
Festival Amoghasakti Singhasari 3-5 Juli 2026 di Pemandian Kendedes Candirenggo, Singosari

Sebatang Lilin yang Tak Pernah Padam

Perjalanan Batik Singosari mengajarkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari langkah-langkah kecil.

Gerakan itu bermula dari sebuah rumah sederhana. Keteguhan para perajin menjaganya ketika banyak orang belum melihat nilainya. Kesabaran mereka menorehkan malam di atas kain akhirnya melahirkan harapan baru bagi Batik Singosari.

Hari ini, cahaya sebatang lilin telah menjelma menjadi gerakan budaya yang menghidupkan kembali kebanggaan masyarakat terhadap warisan Singhasari.

Perjalanan tersebut tentu belum selesai. Regenerasi perajin, penguatan pasar, perlindungan motif, dan perluasan jejaring masih menjadi pekerjaan bersama.

Namun, Kebangkitan Batik Singosari telah membuktikan satu hal: sebuah peradaban tidak selalu lahir dari peristiwa-peristiwa besar. Ketika sekelompok orang memilih menjaga warisan leluhur dengan sabar dan konsisten, sejarah kembali menemukan denyutnya. Di Singosari, denyut itu bermula dari cahaya sebatang lilin yang hingga hari ini tetap menyala.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

UMKM Lokal Hidupkan Festival Kuliner 100 Tahun Jam Gadang

21 Juni 2026 - 22:20 WIB

Ritual Sedekah Gunung, Kekuatan Budaya Warga Desa Lencoh

18 Juni 2026 - 04:22 WIB

Muharam di Desa: Momentum Revolusi Mental dan Etos Kerja

17 Juni 2026 - 15:31 WIB

Mandeh Siti Manggopoh, Inspirasi Pembangunan Desa Agam Modern

16 Juni 2026 - 13:46 WIB

Prasasti Kuno Buktikan Akar Sejarah Literasi Desa Nusantara

14 Juni 2026 - 08:22 WIB

Batik Singosari: Dari Sebatang Lilin Menuju Pengakuan Nasional

14 Juni 2026 - 05:43 WIB

Trending di SOSBUD