,

Malang, Jawa Timur | DESA MERDEKA — Kebangkitan Batik Singosari menjadi bukti bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari panggung megah atau dukungan yang melimpah. Di Singosari, kebangkitan itu justru bermula dari sebuah peringatan Hari Batik Nasional yang berlangsung sederhana di sebuah rumah di Jalan Anusapati, Kelurahan Candirenggo. Dari selembar kain putih, beberapa canting, secangkir kopi, dan sebatang lilin, lahirlah gerakan budaya yang kini menjadikan Batik Singosari sebagai salah satu ikon kebanggaan Kabupaten Malang.
Saat itu hanya segelintir pegiat batik berkumpul. Tidak ada panggung,Tidak ada sorotan kamera, Tidak ada seremoni mewah, Yang ada hanyalah semangat untuk menjaga warisan budaya agar tidak padam ditelan zaman.
Di rumah milik Ibu Titin, seorang pengrajin batik senior, peringatan Hari Batik Nasional berlangsung dalam suasana sederhana, tetapi sarat makna.
Maestro Batik Tulis Singosari, Ibu Hendra, masih mengingat jelas momen tersebut.
“Hari Batik Nasional pertama kali kami rayakan hanya dengan tiup lilin dan dihadiri segelintir orang.”
Tak seorang pun membayangkan, dari cahaya lilin yang redup itulah lahir sebuah gerakan budaya yang perlahan menghidupkan kembali denyut Batik Singosari sekaligus membangkitkan kebanggaan masyarakat terhadap warisan leluhurnya.
“Sejarah tidak selalu ditulis oleh peristiwa-peristiwa besar. Di Singosari, ia justru lahir kembali dari cahaya sebatang lilin yang dijaga dengan kesabaran, diwariskan dengan ketulusan, lalu tumbuh menjadi kebanggaan bersama. Dari sanalah sebuah peradaban menemukan jalannya untuk hidup kembali.”

Dari Rumah Sederhana Menjadi Gerakan Kebudayaan
Batik bukan sekadar kain bermotif.
Para pembatik Singhasari menorehkan malam melalui canting sekaligus mewariskan sejarah, filosofi, dan identitas masyarakatnya. Relief Candi Singosari, kisah Kerajaan Singhasari, kekayaan flora dan fauna, hingga nilai-nilai luhur hidup dalam setiap motif batik yang mereka ciptakan.
Ketika tradisi membatik mulai memudar, masyarakat tidak hanya menghadapi ancaman hilangnya sebuah kerajinan, tetapi juga berisiko kehilangan ingatan kolektif terhadap peradaban yang pernah membentuk identitas wilayah ini.
Kesadaran itulah yang mempertemukan Forum Handharbeni Singhasari dengan Paguyupan Batik Singosari pada 2022. Keduanya membangun kolaborasi atas keyakinan bahwa kebudayaan hanya akan bertahan jika setiap generasi terus mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Halaman rumah Ibu Titin kemudian menjadi ruang belajar budaya. Pemuda dari 14 desa dan tiga kelurahan di Kecamatan Singosari datang untuk mempelajari batik secara langsung. Para maestro membimbing mereka menggunakan canting, mengenali filosofi motif, sekaligus merawat warisan leluhur agar tidak terputus oleh zaman.
Gerakan tersebut mengusung tema “Rum Kuncaraning Batik Singhasari”, yang bermakna harumnya nama dan kejayaan Batik Singhasari yang memancar ke berbagai penjuru.
Sejak saat itu, aroma malam yang dipanaskan berubah menjadi simbol optimisme baru. Jumlah perajin yang semula hanya segelintir orang kini berkembang menjadi sekitar 50 perajin, dengan target mencapai 100 perajin sebagai bagian dari regenerasi yang berkelanjutan.

Ketika Cahaya Lilin Menjangkau Panggung Nasional
Perjalanan Batik Singosari mencapai titik balik ketika peringatan Hari Batik Nasional digelar di Kebon Winih dan Kebon Opah, Desa Randuagung.
Ribuan masyarakat memadati kawasan festival, sementara hampir 300 perajin memamerkan karya terbaik mereka. Sulit membayangkan, kemeriahan sebesar itu berawal dari sebuah perayaan sederhana di rumah seorang pengrajin.
Festival tersebut menjelma menjadi panggung kebangkitan budaya yang mempertemukan perajin, pelaku UMKM, budayawan, akademisi, komunitas, pemerintah, dan masyarakat dalam satu semangat untuk mengembalikan Batik Singosari sebagai identitas budaya yang membanggakan.
Momentum itu semakin bermakna ketika Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno hadir secara daring menyampaikan ucapan Selamat Hari Batik Nasional sekaligus mengapresiasi konsistensi Paguyupan Batik Singosari dalam menjaga warisan budaya bangsa.
Apresiasi tersebut diperkuat oleh Wakil Bupati Malang, Drs. Didik Gatot Subroto, SH., MH., yang menegaskan bahwa Batik Singosari layak menjadi identitas daerah. Ia juga mendorong pemanfaatannya sebagai seragam perangkat kecamatan, pemerintah desa, hingga pelajar agar pelestarian budaya berjalan seiring dengan tumbuhnya ekonomi para perajin.
Menjahit Sejarah Menjadi Masa Depan
Kini masyarakat mengembangkan Batik Singosari tidak hanya sebagai karya seni tradisional, tetapi juga sebagai ruang pendidikan budaya, pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi kreatif, dan penguat identitas lokal.
Para perajin terus mengembangkan motif yang terinspirasi dari Candi Singosari, flora, fauna, dan nilai-nilai kearifan lokal. Melalui batik, masyarakat mengenakan sejarah, mempelajarinya, memasarkan nilai budayanya, sekaligus menjadikannya sumber penghidupan.
Inilah makna pembangunan berbasis kebudayaan. Ketika masyarakat menjaga warisan leluhur, mereka sesungguhnya sedang membangun masa depan yang memiliki akar sejarah yang kuat.

Sebatang Lilin yang Tak Pernah Padam
Perjalanan Batik Singosari mengajarkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari langkah-langkah kecil.
Gerakan itu bermula dari sebuah rumah sederhana. Keteguhan para perajin menjaganya ketika banyak orang belum melihat nilainya. Kesabaran mereka menorehkan malam di atas kain akhirnya melahirkan harapan baru bagi Batik Singosari.
Hari ini, cahaya sebatang lilin telah menjelma menjadi gerakan budaya yang menghidupkan kembali kebanggaan masyarakat terhadap warisan Singhasari.
Perjalanan tersebut tentu belum selesai. Regenerasi perajin, penguatan pasar, perlindungan motif, dan perluasan jejaring masih menjadi pekerjaan bersama.
Namun, Kebangkitan Batik Singosari telah membuktikan satu hal: sebuah peradaban tidak selalu lahir dari peristiwa-peristiwa besar. Ketika sekelompok orang memilih menjaga warisan leluhur dengan sabar dan konsisten, sejarah kembali menemukan denyutnya. Di Singosari, denyut itu bermula dari cahaya sebatang lilin yang hingga hari ini tetap menyala.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah Founder Forum Handarbeni Singhasari (FONDASI), CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari, serta anggota Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari sejak 2017. Alumni SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) dan Universitas Brawijaya ini juga menjadi Pembina Paguyuban Batik Singosari dan Paguyuban Batik Lawang.Jurnalis
Berbekal pengalaman sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang, ia aktif menulis tentang tata kelola pemerintahan desa, pemberdayaan masyarakat, ekonomi lokal, UMKM, pelestarian budaya, dan pembangunan berbasis potensi desa. Melalui tulisan dan kegiatan pendampingan, ia berkomitmen mendorong lahirnya desa-desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.
















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.