Aceh Tamiang, Nangroe Aceh Darussalam[DESA MERDEKA] – Krisis air bersih pascabanjir di Desa Seuneubok Pidie, Manyak Payed, kini mendapat solusi praktis. Alih-alih hanya memberikan bantuan sembako, tim Universitas Samudra (Unsam) memilih strategi intervensi kesehatan melalui pemasangan tandon air komunal dan distribusi paket sanitasi (hygiene kits) untuk memutus rantai penyakit lingkungan.
Langkah taktis ini diambil karena akses air bersih sering kali menjadi titik buta dalam penanganan pascabencana. Tim pengabdian masyarakat yang dipimpin Danar Hadisugelar menempatkan tandon di titik-titik strategis agar warga dapat mengakses air layak konsumsi secara merata untuk kebutuhan memasak hingga mandi.
Strategi Cegah Penyakit Pascabanjir
Banjir biasanya meninggalkan ancaman laten berupa diare dan penyakit kulit. Sebagai antisipasi, tim mahasiswa yang terdiri dari Syihabul Helmi, Tio Wanda Novitra, dan Muhammad Nur Syahputra, membagikan perlengkapan kebersihan dasar mulai dari sabun hingga kebutuhan bayi.

Danar Hadisugelar menegaskan bahwa aksi ini merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi yang didanai melalui Program Pengabdian Tanggap Bencana 2026. “Kami tidak hanya membawa tandon, tapi juga memberikan edukasi singkat tentang pentingnya menjaga sanitasi lingkungan agar warga tidak jatuh sakit setelah banjir surut,” ujarnya dalam siaran pers.
Sinergi Akademisi dan Desa
Inisiatif ini disambut hangat oleh Datok Desa Seuneubok Pidie, Tgk. H. Muslim. Menurutnya, kehadiran infrastruktur air komunal ini sangat meringankan beban warga yang kesulitan mendapatkan air layak pakai akibat sumur yang tercemar material banjir.
Apresiasi tinggi diberikan kepada civitas akademika Unsam yang bergerak cepat melakukan respons darurat di lapangan. Harapannya, kolaborasi antara pemerintah desa dan perguruan tinggi ini menjadi model percontohan mitigasi bencana berbasis komunitas di Kabupaten Aceh Tamiang pada masa mendatang.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.