Aceh Tengah, Aceh [DESA MERDEKA] – Akhirnya, isolasi total yang mencekik 16 desa di Kabupaten Aceh Tengah resmi berakhir. Pembangunan jembatan bailey yang menghubungkan Kecamatan Silih Nara dan Rusip Antara telah rampung dan kini sudah bisa dilintasi kendaraan. Kembalinya akses infrastruktur ini bukan sekadar urusan semen dan baja, melainkan simbol pulihnya urat nadi perekonomian masyarakat yang sempat lumpuh pasca-bencana.
Jembatan yang akrab disapa masyarakat sebagai Totor Pelang ini sebelumnya roboh diterjang banjir bandang pada akhir November 2025. Sejak saat itu, ribuan warga terkurung, distribusi hasil tani tersendat, dan layanan kesehatan pun sulit dijangkau. Namun, per Selasa (20/01/2026), kegembiraan menyelimuti warga saat Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, memantau langsung fungsionalitas jembatan tersebut.
“Hari ini masyarakat bahagia karena sudah bisa lewat. Ekonomi mulai bergerak kembali. Ini adalah harapan masyarakat sejak awal pasca-bencana,” ujar Haili Yoga dengan nada optimis.
Gotong Royong Lintas Sektor
Keberhasilan perbaikan jembatan ini merupakan buah manis dari kolaborasi “keroyokan” antara Kementerian PUPR, TNI, pemerintah daerah, hingga swadaya masyarakat setempat. Sinergi ini memungkinkan pembangunan dilakukan dengan tempo cepat guna meminimalisir dampak kerugian ekonomi yang lebih luas bagi petani di dataran tinggi tanah Gayo tersebut.
Meski jembatan bailey bersifat sementara, kualitasnya dirancang untuk menunjang aktivitas berat. Namun, pemerintah memberikan catatan tegas mengenai pembatasan beban. Kendaraan yang melintas dibatasi maksimal 15 hingga 20 ton. Hal ini krusial agar struktur jembatan tetap kokoh hingga pembangunan jembatan permanen dilakukan di masa mendatang.
Langkah Jangka Panjang: Jembatan Permanen
Bupati Haili Yoga menekankan bahwa jembatan bailey ini hanyalah solusi transisi. Pemerintah tengah menyiapkan rencana pembangunan jembatan permanen untuk memastikan keamanan dan kenyamanan transportasi dalam jangka panjang. Hingga saat itu tiba, pengawasan kolektif dari masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga aset vital ini dari kendaraan yang melebihi tonase.
“Mohon ini dijaga bersama. Jika ada kendaraan yang melebihi tonase, harus tegas. Ini jalan kita bersama. Pengawasan dari masyarakat sangat penting,” pungkasnya. Kini, dengan akses yang sudah terbuka, distribusi hasil perkebunan kopi dan palawija dari 16 desa tersebut diharapkan kembali normal, membawa angin segar bagi kesejahteraan warga Aceh Tengah.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.